DulceEtUtile

Just another blog.plasa.com weblog

PEMBELAJARAN BERCAKAP-CAKAP DAN BERCERITA

Filed under: Pembelajaran BI di Kelas-kelas awal — May 18, 2009 @ 8:36 pm

Bercakap-cakap ialah termasuk kepada penguasaan bahasa aktif. Yang dimaksud dengan bercakap-cakap ialah melahirkan pikiran dan perasaan yang teratur, dengan memakai bahasa lisan.

Antara “PENGAJARAN BERCAKAP-CAKAP DAN BERCERITA” memiliki pengertian yang berbeda, dan digunakan untuk pengajaran yang berbeda maksud serta pelaksanaannya.

Di dalam pengajaran bercakap-cakap para siswa yang aktif melakukannya, dan memang tujuannya ialah melatih anak-anak supaya dapat melahirkan perasaan dan pikirannya dengan teratur, secara lisan. Sedangkan Bercerita kecuali merupakan mata pelajaran, juga merupakan bentuk mengajar yang dapat digunakan terhadap berbagai mata pelajaran. Di SD kerap kali bercerita itu dihubungkan dengan mata pelajaran budi pekerti. Pengajaran budi pekerti di SD umumnya dilaksanakan/merupakan pengajaran bercerita. Dalam pengajaran bercerita guru yang aktif bercerita, para siswa mendengarkan. Tujuan pengajaran bercerita tergantung kepada isi dan cara melaksanakan/menyajikan bahannya.

A. Bercakap-cakap spontan

Bercakap-cakap spontan umumnya dilakukan di kelas I SD dan biasanya dalam bahasa daerah. Untuk daerah yang tidak menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu, pokok percakapan harus timbul dari penghayatan para siswa sendiri.

1. Tujuannya

Adapun tujuan pengajaran bercakap-cakap antara lain:

a. Melatih siswa melahirkan isi hatinya (pikiran, perasaan, dan kemauannya) secara lisan dengan bahasa yang teratur dan kalimat yang baik.

b. Memperbesar dorongan batin akan melahirkan isi hatinya.

c. Memupuk keberanian bercakap-cakap pada anak-anak.

d. Menambah perbendaharaan bahasa anak.

e. Dari sudut psikologi humanismenya adalah memberikan kesempatan pada anak untuk menyatakan dirinya.

2. Bahan bercakap-cakap antara lain:

a. Pokok-pokok percakapan sebaiknya yang berasal dari dunia sekitar anak-anak. Dapat juga dipilih dari dunia orang dewasa yang telah dilihat anak, atau yang telah diketahuinya.

b. Pokok percakapan harus bersifat individual. Umpama tentang “Ayamku”, bukan “Ayam”.

c. Usahakan supaya ada unsur emosi dalam jiwa anak yang bercakap-cakap. Di dalam jiwa anak ada “sesuatu” yang mendorong untuk berkata-kata.

d. Di kelas-kelas rendah pembicaraan itu adalah suatu peristiwa yang dialaminya sendiri oleh anak-anak (lihat contoh di atas!).

e. Di kelas-kelas tinggi boleh juga diambil pokok dari pelajaran lain (seperti: ilmu Bumi, Sejarah, Ilmu Hayat) yang telah dipercakapkan. Tetapi dalam pelajaran ini jagalah supaya tujuannya tetap pelajaran bercakap-cakap dan bukan pelajaran Ilmu Bumi atau Ilmu Hayat, dan sebagainya.

f. Biasakan siswa menuliskan inti sari dari percakapan mereka.

B. Bercakap-cakap Terpimpin

1. Tujuannya

Tujuan dari pelajaran ini adalah untuk membuat siswa berani menyatakan pendapatnya, menghilangkan rasa malu dan rasa ragu-ragu. Oleh karena itu, harus diusahakan supaya anak mengikuti dengan tertib.

2. Cara menyampaikan pelajaran

Pelajaran ini dapat diberikan dengan cara:

a. Setelah guru menceritakan sebuah cerita yang smgkat, menurut urutan-urutan yang tertentu, anak-anak menceritakan kembali cerita itu dengan teratur pula.

b. Menceritakan deretan gambai-gambar (gambar seri) dari buku atau yang dibuat guru di papan tulis.

c. Menceritakan kembali sebuah bacaan yang sudah dibaca. Dalam hal ini perhatikan baik tidaknya isi bacaan itu diceritakan mereka.

d. Di kelas-kelas tinggi para siswa mengucapkan beberapa kalimat yang telah disusun guru di papan tulis sebagai kalimat percakapan.

e. Membicarakan hal-hal yang menarik atau berita aktual saat itu dengan cara berpasangan.

3. Jalan Pengajarannya

Pelajaran ini banyak menggunakan aspek mendengarkan. Oleh karena itu, pada bercakap-cakap terpimpin contoh yang dilakukanxileh guru harus jelas dan mendorong siswa untuk berperan dalam percakapan.

a. Menceritakan kembali suatu cerita singkat yang telah dibaca atau didengarnya.

b. Semua siswa membaca paragraf I. Guru bertanya kepada siswa apa isi paragraf 1. Apa komentar siswa, dan sebagainya.

c. Apa yang diucapkan siswa dituliskan di papan tulis. Mungkin berbeda. Beri kesempatan pada siswa untuk menyatakan pendapatnya.

d. Kesimpulan yang disepakati bersama dituliskan di papan tulis.

e. Baca seperti bahasa percakapan.

f. Lanjutkan paragraf berikutnya, sampai selesai, sehingga merupakan ringkasan cerita yang diceritakan oleh anak.

g. Berilah kesempatan kepada siswa untuk menyusun kembali atau memperbaiki cerita singkatnya.

h. Siswa menceritakan kembali dengan bahasa percakapan.

C. Latihan Memperkaya Perbendaharaan Bahasa

Keberanian dan kemahiran siswa bercakap-cakap dipengaruhi oleh perbendaharaan bahasanya. Oleh karena itu, latihan memperkaya perbendaharaan bahasa sangat penting. Latihan-latihan untuk memperkaya perbendaharaan bahasa itu dapat kita lakukan dengan jalan sebagai berikut:

(1) Yang amat penting ialah pengajaran lingkungan(Zaakonjerwijs).

(2) Mengajarkan nama-nama.

(3) Permainan perbendaharaan bahasa.

(4) Menghapalkan sajak-sajak.

(5) Memberikan latihan-latihan yang disenangi, seperti:

a. Mempergunakan kata-kata dalam kalimat-kalimat. Misalnya melakukan percakapan bersambung sampai semua mendapat giliran.

b. Membuat beberapa kalimat dan sebuah kata yang berbeda artinya.

c. Mengisi kalimat-kalimat yang belum lengkap. Misalnya: Berjalanlah di sebelah kiri supaya …

d. Mengatakan kalimat dengan cara lain. Misalnya: Saya perlu minum ® Saya haus.

e. Dan sebagainya.

Simpulan

SimpulanCara-cara untuk menambah perbendaharaan bahasa ada 2 macam:

a. Secara Langsung

1. Membaca Bahasa, di mana anak-anak mencatat di dalam buku catatannya pengertian-pengertian baru, sinonim atau padanan kata, lawan kata-kata, pemakaian kata dalam kalimat, dan sebagainya. Hal ini telah mulai sejak kelas 1. Contoh: Guru membuat kantong kartu seperti …

dan seterusnya. Siswa menuliskan kata yang diketahuinya di kartu yang diberikan guru

api abu batu

Siswa memasukkan dalam kantong yang sesuai.

Siswa telah mempunyai buku kamus sederhana.

Siswa menuliskan setiap kata-kata yang baru diketahuinya ke dalam buku itu. Kegiatan ini berlanjut dan kelas I sampai dengan kelas VI.

2. Tata Bahasa, misalnya dengan memberikan imbuhan untuk memberi idiom baru. Kata kecil dapat dikembangkan menjadi: kekecilan, terkecil, mengecilkan, dikecilkan, memperkecil, kecilkan, dan sebagainya.

b. Secara Langsung, yaitu melalui pelajaran:

1. MembacaTeknik dan Membaca Dalam Hati.

Pada saat membaca teknik, siswa menambah pengetahuan bahasa dan sudut perbedaan intonasi dapat mengubah arti kata.

2. Bercakap-cakap.

Melalui percakapan siswa memahami gaya bicara.

3. Membaca bebas dirumah.

4. Pengajaran Lingkungan atau Pengajaran Alam Sekitar di kelas I, II, dan III.

5. Pengajaran Proyek, Pengajaran Berprograma, di kelas IV, V, dan VI.

PENGAJARAN MENGARANG

PENGAJARAN MENGARANG

A. Bercakap-cakap dan Mengarang

a. Perbedaan bercakap-cakap dan mengarang

Bercakap-cakap ialah melahirkan pikiran dan perasaan dengan cara yang teratur melalui lisan. Sedangkan mengarang ialah melahirkan pikiran dan perasaan dengan cara yang teratur, dalam bahasa tulisan.

1) Di dalam bercakap-cakap, selain bunyi/suara, masih banyak lagi alat-alat pernyataan yang ada pada diri kita yang turut memperjelas pernyataan kita itu. Sedangkan dalam mengarang kita hanya dapat mencoba menyatakan seperti itu dengan menggaris bawahi atau memberi warna, atau dengan tanda baca. Jadi alat-alat penolong pada mengarang tetap tidak sempurna seperti bercakap-cakap.

2) Dalam bercakap-cakap gerak-gerik dan gerak muka dapat digunakan. Pada menulis/mengarang paling dapat dengan sebuah gambar atau menyebutkan gerak-gerak itu.

3) Pada mengarang pikiran kita haruslah kita nyatakan dalam bentuk yang lebih singkat daripada dalam percakapan.

B. Tujuan Mengarang

Sama dengan tujuan pengajaran bercakap-cakap, hanya berbeda dalam bentuk bahasa tertulis, yaitu:

1) Memperkaya perbendaharaan bahasa pasif dan aktif.

2) Melatih melahirkan pikiran dan perasaan dengan lebih teratur secara tertulis (melatih ekspresi jiwa dalam bentuk tulisan).

3) Latihan memaparkan pengalaman-pengalaman dengan tepat.

4) Latihan-latihan penggunaan ejaan yang tepat (ingin menguasai bentuk bahasa).

C. Macam-macam Karangan di SD

Macam-macam karangan yang dapat diajarkan di SD dapat dijelaskan sebagai berikut.

a. Menurut tingkatannya

1. Karangan Permulaan (kelas I dan II).

2. Karangan Sebenarnya (Karangan lanjutan), di kelas-kelas berikutnya.

b. Menurut Isi/bentuknya

1. Karangan verslag (laporan), umumnya diberikan di kelas-kelas rendah, misalnya: menceritakan kembali (secara tertulis) apa-apa yang dialami dalam Pengajaran Lingkungan.

2. Karangan fantasi: mengeluarkan isi jiwa sendiri (ekspresi jiwa). Misalnya: “Cita-citaku setelah tamat SD”. “Seandainya aku jadi raja”.

3. Karangan reproduksi, umumnya bersifat menceritakan/menguraikan suatu perkara yang telah dipelajari atau dipahami, seperti hal-hal yang mengenai Ilmu Bumi, llmu Hayat, atau menuliskan dengan kata-kata sendiri tentang apa yang telah dibaca, dan lain-lain. Contoh: “Ken Arok menjadi penyamun”. “Daerah Segitiga Emas”. “Perlawanan Pangeran Diponegoro”, dan sebagainya.

4. Karangan argumentasi: karangan berdasarkan alasan tertentu. Siswa dibiasakan menyatakan pendapat ataupun pikirannya berdasarkan alasan yang tepat.

c. Menurut Susunannya

1. Karangan terikat.

2. Karangan bebas.

3. Karangan setengah bebas setengah terikat.

PERMAINAN DALAM PEMBELAJARAN BAHASA DI KELAS AWAL

Filed under: Pembelajaran BI di Kelas-kelas awal, Uncategorized — May 18, 2009 @ 8:06 pm

Pengantar,

Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca bagi siswa sekolah dasar kelas awal. Siswa belajar untuk memperoleh kemampuan dan menguasai teknik-teknik membaca dan menangkap isi bacaan dengan baik. oLeh karena itu guru perlu merancang pembelajaran membaca dengan baik sehingga mampu menumbuhkan kebiasan membaca sebagai suatu yang menyenangkan. Suasana belajar harus dapat diciptakan melalui kegiatan permainan bahasa dalam pembelajaran membaca. Hal itu sesuai dengan karakteristik anak yang masih senang bermain. Permainan memiliki peran penting dalam perkembangan kognitif dan sosial anak. Kata kunci: membaca permulaan, permainan, sekolah dasar. Membaca merupakan salah satu ketrampilan berbahasa yang diajarkan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar. Keempat aspek tersebut dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu

(1) ketrampilan yang bersifat menerima (reseptif) yang meliputi ketrampilan membaca dan menyimak,

(2) ketrampilan yang bersifat mengungkap (produktif) yang meliputi ketrampilan menulis dan berbicara (Muchlisoh, 1992: 119).

 

Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar (SD) bertujuan meningkatkan kemampuan siswa berkomunikasi secara efektif, baik lisan maupun tertulis. Ketrampilan membaca sebagai salah satu ketrampilan berbahasa tulis yang bersifat reseptif perlu dimiliki siswa SD agar mampu berkomunikasi secara tertulis. oLeh karena itu, peranan pengajaran Bahasa Indonesia khususnya pengajaran membaca di SD menjadi sangat penting. Peran tersebut semakin penting bila dikaitkan dengan tuntutan pemilikan kemahirwacanaan dalam abad informasi (Joni, 1990). Pengajaran Bahasa Indonesia di SD yang bertumpu pada kemampuan dasar membaca dan menulis juga perlu diarahkan pada tercapainya kemahirwacanaan. Ketrampilan membaca dan menulis, khususnya ketrampilan membaca harus segera dikuasai oleh para siswa di SD karena ketrampilan ini secara langsung berkaitan dengan seluruh proses belajar siswa di SD. Keberhasilan belajar siswa dalam mengikuti proses kegiatan belajar-mengajar di sekolah sangat ditentukan oleh penguasaan kemampuan membaca mereka. Siswa yang tidak mampu membaca dengan baik akan mengalami kesulitan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran untuk semua mata pelajaran. Siswa akan mengalami kesulitan dalam menangkap dan memahami informasi yang disajikan dalam berbagai buku pelajaran, buku-buku bahan penunjang dan sumber-sumber belajar tertulis yang lain. Akibatnya, kemajuan belajarnya juga lamban jika dibandingkan dengan teman-temannya yang tidak mengalami kesulitan dalam membaca. Menurut pandangan “whole language” membaca tidak diajarkan sebagai suatu pokok bahasan yang berdiri sendiri, melainkan merupakan satu kesatuan dalam pembelajaran bahasa bersama dengan ketrampilan berbahasa yang lain. Kenyataan tersebut dapat dilihat bahwa dalam proses pembelajaran bahasa, ketrampilan berbahasa tertentu dapat dikaitkan dengan ketrampilan berbahasa yang lain. Pengaitan ketrampilan berbahasa yang dimaksud tidak selalu melibatkan keempat ketrampilan berbahsa sekaligus, melainkan dapat hanya mengakut dua ketrampilan saja sepanjang aktivitas berbahasa yang dilakukan bermakna.

Pembelajaran membaca di SD dilaksanakan sesuai dengan pembedaan atas kelas-kelas awal dan kelas-kelas tinggi. Pelajaran membaca dan menulis di kelaskelas awal disebut pelajaran membaca dan menulis permulaan, sedangkan di kelas-kelas tinggi disebut pelajaran membaca dan menulis lanjut. Pelaksanaan membaca permulaan di kelas I sekolah dasar dilakukan dalam dua tahap, yaitu membaca periode tanpa buku dan membaca dengan menggunakan buku. Pembelajaran membaca tanpa buku dilakukan dengan cara mengajar dengan menggunakan media atau alat peraga selain buku misalnya kartu gambar, kartu huruf, kartu kata dan kartu kalimat, sedangkan membaca dengan buku merupakan kegiatan membaca dengan menggunakan buku sebagai bahan pelajaran.

Tujuan membaca permulaan di kelas I adalah agar “Siswa dapat membaca kata-kata dan kalimat sederhana dengan lancar dan tepat (Depdikbud, 1994/1995: 4). Kelancaran dan ketepatan anak membaca pada tahap belajar membaca permulaan dipengaruhi oleh keaktifan dan kreativitas guru yang mengajar di kelas I. Dengan kata lain, guru memegang peranan yang strategis dalam meningkatkan ketrampilan membaca siswa. Peranan strategis tersebut menyangkut peran guru sebagai fasilitator, motivator, sumber belajar, dan organisator dalam proses pembelajaran. guru yang berkompetensi tinggi akan sanggup menyelenggarakan tugas untuk mencerdaskan bangsa, mengembangkan pribadi manusia Indonesia seutuhnya dan membentuk ilmuwan dan tenaga ahli. Menurut Badudu (1993: 131) pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia di SD – SMU ialah guru terlalu banyak menyuapi, tetapi kurang menyuruh siswa aktif membaca, menyimak, menulis dan berbicara. Proses belajar-mengajar di kelas tidak relevan dengan yang diharapkan, akibatnya kemampuan membaca siswa rendah. Untuk mengoptimalkan pembelajaran membaca permulaan di SD salah satu alternatif yang dapat dilakukan ialah melalui permainan bahasa. Guru perlu menyediakan bahan yang menarik yang dapat menyajikan tantangan bagi siswa untuk giat secara aktif dan kreatif “mengotak-atik” apa yang dihadapinya. Bahan tersebut hasrulah sesuai dengan perkembangan emosi dan sosial anak. Anak di kelas permulaan (usia 6 - 8 tahun) berada pada fase bermain. Dengan bermain anak akan senang belajar, semakin senang anak semakin banyak yang diperolehnya. Permainan memiliki peranan penting dalam perkembangan kognitif dan sosial anak (Dworetzky, 1990). Karena dalam bermain guru mendukung anak belajar dan mengembangkannya (Wood, 1996).

 

HAKIKAT MEMBACA

Membaca adalah proses aktif dari pikiran yang dilakukan melalui mata terhadap bacaan. Dalam kegiatan membaca, pembaca memroses informasi dari teks yang dibaca untuk memperoleh makna (Vacca, 1991: 172). Membaca merupakan kegiatan yang penting dalam kehidupan sehari-hari, karena membaca tidak hanya untuk memperoleh informasi, tetapi berfungsi sebagai alat untuk memperluas pengetahuan bahasa seseorang. Dengan demikian, anak sejak kelas awal SD perlu memperoleh latihan membaca dengan baik khususnya membaca permulaan. Para ahli telah mendefiniskan tentang membaca dan tidak ada criteria tertentu untuk menentukan suatu definisi yang dianggap paling benar. Menurut Harris dan Sipay (1980: 8) memebaca sebagai suatu kegiatan yang memebrikan respon makna secara tepat terhadap lambang verbal yang tercetak atau tertulis. Pemahaman atau makna dalam membaca lahir dari interaksi antara persepsi terhadap simbol grafis dan ketrampilan bahasa serta pengetahuan pembaca. Dalam interaksi ini, pembaca berusaha menciptakan kembali makna sebagaimana makna yang ingin disampikan oleh penulis dan tulisannya. Dalam proses membaca itu pembaca mencoba mengkreasikan apa yang dimaksud oleh penulis. Dilain pihak, Gibbon (1993: 70-71) mendefinisikan membaca sebagai proses memperoleh m,akna dari cetakan. Kegiatan membaca bukan sekedar aktivitas yang bersifat pasif dan reseptfi saja, melainkan mengehdaki pemba auntuk aktif berpikir. Untuk memperoleh makna dari teks, pembaca harus menyertakan latar belakang “bidang” pengetahuannya, topik, dan pemahaman terhadap sistem bahasa itu sendiri. Tanpa hal-hal tersebut selembar teks tidak berarti apa-apa bagi pembaca.

Dalam kegiatan membaca terjadi proses pengolahan informasi yang terdiri atas informasi visual dan informasi nonvisual (Smith, 1985: 12). Informasi visual, merupakan informasi yang dapat diperoleh melalui indera penglihatan, sedangkan informasi nonvisual merupakan informasi yang sudah ada dalam benak pembaca. Karena setiap pembaca memiliki pengalaman yang berbeda-beda dan dia menggunakan pengalaman itu untuk menafsirkan informasi visual dalam bacaan, maka isi bacaan itu akan berubah-ubah sesuai dengan pengalamn penafsirannya (Anderson, 1972: 211). Pembaca yang telah lancar pada umumnya meramalkan apa yang dibacanya dan kemudian menguatkan atau menolak ramalannya itu berdasarkan apa yang terdapat dalam bacaan. Permaalan dibuat berdasarkan pada tiga kategori sistem yaitu aspek sistematis, sintaksis dan grafologis. Menurut Wilson dan peters (dalam Cleary, 1993: 284) bahwa membaca merupakan suatu proses menysun makna melalui interaksi dinamis diantara pengetahuan pembaca yang telah ada, informasi yang telah dinyatakan oleh bahasa tulis, dan konteks situasi pembaca.

Berdasarkan uraian diatas, dapat dikatakan bahwa membaca adalah proses interaksi antara pembaca dengan teks bacaan. Pembaca berusaha memahami isi bacaan berdasarkan latar belakang pengetahuan dan kompetensi kebahasaannya. Dalam proses pemahaman bacaan tersebut, pembaca pada umumnya membuat ramalan-ramalan berdasarkan sistem semantik, sintaksis, grafologis, dan konteks situasi yang kemudian diperkuat atau ditolak sesuai dengan isi bacaan yang diperoleh.

 

PENGERTIAN MEMBACA PERMULAAN

Membaca permulaan dalam pengertian ini adalah membaca permulaan dalam teori ketrampilan, maksudnya menekankan pada proses penyandian membaca secara mekanikal. Membaca permulaan yang menjadi acuan adalah membaca merupakan proses recoding dan decoding (Anderson, 1972: 209). Membaca merupakan suatu proses yang bersifat fisik dan psikologis. Proses yang bersifat fisik berupa kegiatan mengamati tulisan secara visual. Dengan indera visual, pembaca mengenali dan membedakan gambar-gambar bunyi serta kombinasinya. Melalui proses recoding, pembaca mengasosiasikan gambargambar bunyi beserta kombinasinya itu dengan bunyi-bunyinya. Dengan proses tersebut, rangkaian tulisan yang dibacanya menjelma menjadi rangkaian bunyi bahasa dalam kombinasi kata, kelompok kata, dan kalimat yang bermakna. Disamping itu, pembaca mengamati tanda-tanda baca untuk mrmbantu memahami maksud baris-baris tulisan. Proses psikologis berupa kegiatan berpikir dalam mengolah informasi. Melalui proses decoding, gambar-gambar bunyi dan kombinasinya diidentifikasi, diuraikan kemudian diberi makna. Proses ini melibatkan knowledge of the world dalam skemata yang berupa kategorisasi sejumlah pengetahuan dan pengalaman yang tersimpan dalam gudang ingatan (Syafi’ie, 1999: 7).

Menurut La Barge dan Samuels (dalam Downing and Leong, 1982: 206) proses membaca permulaan melibatkan tiga komponen, yaitu (a) visual memory (vm), (b) phonological memory (pm), dan (c) semantic memory (sm). Lambang-lambang fonem tersebut adalah kata, dan kata dibentuk menjadi kalimat. Proses pembentukan tersebut terjadi pada ketiganya. Pada tingkat VM, huruf, kata dan kalimat terlihat sebagai lambang grafis, sedangkan pada tingkat PM terjadi proses pembunyian lambang. Lambang tersebut juga dalam bentuk kata, dan kalimat. Proses pada tingkat ini bersumber dari VM dan PM. Akhirnya pada tingkat SM terjadi proses pemahaman terhadap kata dan kalimat. Selanjutnya dikemukakan bahwa untuk memperoleh kemampuan membaca diperlukan tiga syarat, yaitu kemampuan membunyikan (a) lambang-lambang tulis, (b) penguasaan kosakata untuk memberi arti, dan (c) memasukkan makna dalam kemahiran bahasa. Pada tingkatan membaca permulaan, pembaca belum memiliki ketrampilan kemampuan membaca yang sesungguhnya, tetapi masih dalam tahap belajar untuk memperoleh ketrampilan / kemampuan membaca. Membaca pada tingkatan ini merupakan kegiatan belajar mengenal bahasa tulis. Melalui tulisan itulah siswa dituntut dapat menyuarakan lambang-lambang bunyi bahasa tersebut, untuk memperoleh kemampuan membaca diperlukan tiga syarat, yaitu kemampuan membunyikan (a) lambang-lambang tulis, (b) penguasaan kosakata untuk memberi arti, dan (c) memasukkan makna dalam kemahiran bahasa.

Membaca permulaan merupakan suatu proses ketrampilan dan kognitif. Proses ketrampilan menunjuk pada pengenalan dan penguasaan lambang-lambang fonem, sedangkan proses kognitif menunjuk pada penggunaan lambang-lambang fonem yang sudah dikenal untuk memahami makna suatu kata atau kalimat.

 

PEMBELAJARAN MEMBACA PERMULAAN

Pembelajaran memabaca permulaan diberikan di kelas I dan II. Tujuannya adalah agar siswa memiliki kemampuan memahami dan menyuarakan tulisan dengan intonasi yang wajar, sebagai dasar untuk dapat membaca lanjut (Akhadiah, 1991/1992: 31). Pembelajaran membaca permulaan merupakan tingkatan proses pembelajaran membaca untuk menguasai sistem tulisan sebagai representasi visual bahasa. Tingkatan ini sering disebut dengan tingkatan belajar membaca (learning to read). Membaca lanjut merupakan tingkatan proses penguasaan membaca untuk memperoleh isi pesan yang terkandung dalam tulisan. Tingkatan ini disebut sebagai membaca untuk belajar (reading to learn). Kedua tingkatan tersebut bersifat kontinum, artinya pada tingkatan membaca permulaan yang fokus kegiatannya penguasaan sistem tulisan, telah dimulai pula pembelajaran membaca lanjut dengan pemahaman walaupun terbatas. Demikian juga pada membaca lanjut menekankan pada pemahaman isi bacaan, masih perlu perbaikan dan penyempurnaan penguasaan teknik membaca permulaan (Syafi’ie, 1999: 16).

 

PENGERTIAN PERMAINAN

Permainan merupakan alat bagi anak untuk menjelajahi dunianya, dari yang tidak dikenali sampai pada yang diketahui, dan dari yang tidak dapat diperbuatnya sampai mampu melakukannya. Bermain bagi anak memiliki nilai dan ciri yang penting dalam kemajuan perkembangan kehidupan sehari-hari. Pada permulaan setiap pengalaman bermain memiliki resiko. Ada resiko bagi anak untuk belajar misalnya naik sepeda sendiri, belajar meloncat. Unsur lain adalah pengulangan. Anak mengkonsolidasikan ketrampilannya yang harus diwujudkannya dalam berbagai permainan dengan nuansa yang berbeda. Dengan cara ini anak memperoleh pengalaman tambahan untuk melakukan aktivitas lain. Melalui permainan anak dapat menyatakan kebutuhannya tanpa dihukum atau terkena teguran misalnya bermain boneka diumpamakan sebagai adik yang sesungguhnya (Semiawan, 2002: 21).

Berkaitan dengan permainan Pellegrini dan Saracho, 1991 (dalam Wood, 1996:3) permainan memiliki sifat sebagai berikut: (1) Permaianan dimotivasi secara personal, karena memberi rasa kepuasan. (2) pemain lebih asyik dengan aktivitas permainan (sifatnya spontan) ketimbang pada tujuannya. (3) Aktivitas permainan dapat bersifat nonliteral. (4) Permainan bersifat bebas dari aturanaturan yang dipaksakan dari luar, dan aturan-aturan yang ada dapat dimotivasi oleh para pemainnya. (5) Permainan memerlukan keterlibatan aktif dari pihak pemainnya. Menurut Framberg (dalam Berky, 1995) permainan merupakan aktivitas yang bersifat simbolik, yang menghadirkan kembali realitas dalam bentuk pengandaian misalnya, bagaimana jika, atau apakah jika yang penuh makna. Dalam hal ini permainan dapat menghubungkan pengalaman-pengalaman menyenangkan atau mengasyikkan, bahkan ketika siswa terlibat dalam permainan secara serius dan menegangkan sifat sukarela dan motivasi datang dari dalam diri siswa sendiri secara spontan. Menurut Hidayat (1980:5) permainan memiliki ciriciri sebagai berikut: (1) adanya seperangkat peraturan yang eksplisit yang mesti diindahkan oleh para pemain, (2) adanya tujuan yang harus dicapai pemain atau tugas yang mesti dilaksanakan.

 

PERMAINAN BAHASA

Permainan bahasa merupakan perminan untuk memperoleh kesenangan dan untuk melatih ketrampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca dan menulis). Apabila suatu permainan menimbulkan kesenangan tetapi tidak memperoleh ketrampilan berbahasa tertentu, maka permainan tersebut bukan permainan bahasa. Sebaliknya, apabila suatu kegiatan melatih ketrampilan bahasa tertentu, tetapi tidak ada unsur kesenangan maka bukan disebut permainan bahasa. Dapat disebut permainan bahasa, apabila suatu aktivitas tersebut mengandung kedua unsur kesenangan dan melatih ketrampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca dan menulis).

Setiap permainan bahasa yang dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran harus secara langsung dapat menunjang tercapainya tujuan pembelajaran. anakanak pada usia 6 – 8 tahun masih memerlukan dunia permainan untuk membantu menumbuhkan pemahaman terhadap diri mereka. Pada usia tersebut, anak-anak mudah merasa jenuh belajar di kelas apabila dijauhkan dari dunianya yaitu dunia bermain. Permainan hampir tak terpisahkan dengan kehidupan manusia. Baik bayi, anak-anak, remaja, orang dewasa semua membutuhkan permainan. Tentunya dengan jenis dan sifat permainan yang berbeda-beda sesuai dengan jenis kelamin, bakat dan minat masing-masing.

Tujuan utama permainan bahasa bukan semata-mata untuk memeproleh kesenangan, tetapi untuk belajar ketrampilan berbahasa tertentu misalnya menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Aktivitas permainan digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan cara yang menyenangkan. Menurut Dewey (dalam Polito, 1994) bahwa interaksi antara permainan dengan pembelajaran akan memberikan pengalaman belajar yang sangat penting bagi anak-anak. Menang dan kalah bukan merupakan tujuan utama permainan. Dalam setiap permainan terdapat unsur rintangan atau tantangan yang harus dihadapi. Tantangan tersebut kadang-kadang berupa masalah yang harus diselesaikan atau diatasi, kadang pula berupa kompetisi. Maslaah yang harus diselesaikan itulah dapat melatih ketrampilan berbahasa. Alat permainan baik realistik maupun imajinatif, buatan pabrik maupun alamiah memiliki peranan yang cukup besar dalam membantu merangsang anak dalam menggunakan bahasa. Keberadaan alat-alat permainan dapat memabntu dan meningkatkan daya imajinasi anak.

 

PEMBELAJARAN MEMBACA MELALUI PERMAINAN BAHASA

Belajar konstrultivisme mengisyaratkan bahwa guru tidak memompakan pengetahuan ke dalam kepala pebelajar, melainkan pengetahuan diperoleh melalui suatu dialog yang ditandai oleh suasana belajar yang bercirikan pengalaman dua sisi. Ini berarti bahwa penekanan bukan pada kuantitas materi, melainkan pda upaya agar siswa mampu menggunakan otaknya secara efektif dan efisien sehingga tidak ditandai oleh segi kognitif belaka, melainkan oleh keterlibatan emosi dan kemampuan kreatif. Dengan demikian proses belajar membaca perlu disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan siswa (Semiawan, 2002:5). Dalam hal ini guru tidak hanya sekedar melaksanakan apa yang ada dalam kurikulum, melainkan harus dapat menginterpretasi dan mengembangakn kurikulum menjadi bentuk pembelajaran yang menarik. Pembelajaran dapat menarik apabila guru memiliki kreativitas dengan memasukkan aktivitas permainan ke dalam aktivtas belajar siswa. Penggunaan bentuk-bentuk permainan dalam pembelajaran akan memberi iklim yang menyenangkan dalam proses belajar, sehingga siswa akan belajar seolah-olah proses belajar siswa dilakukan tanpa adanya ketrpaksaan, tetapi justru belajar dengan rasa keharmonisan. Selain itu, dengan bermain siswa dapat berbuat agak santai. Dengan cara santai tersebut, sel-sel otak siswa dapat berkembang akhirnya siswa dapat menyerap informasi, dan memperoleh kesan yang mendalam terhadap materi pelajaran. Materi pelajaran dapat disimpan terus dalam ingatan jangka panjang (Rubin, 1993 dalam Rofi’uddin, 2003).

Permainan dapat menjadi kekuatan yang memberikan konteks pembelajaran dan perkembangan masa kanak-kanak awal. Untuk itu perlu, diperhatikan struktur dan isi kurikulum sehingga guru dapat membangun kerangka pedagogis bagi permainan. Struktur kurikulum terdiri atas (1) perencanaan yang mencakup penetapan sasaran dan tujuan, (2) pengorganisasian, dengan mempertimbangkan ruang, sumber, waktu dan peran orang dewasa, (3) pelaksanaan, yang mencakup aktivitas dan perencanaan, pembelajaran yang diinginkan, dan (4) assesmen dan evaluasi yang meliputi alur umpan balik pada perencanaan (Wood, 1996:87).

Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, guru dapat melakukan simulasi pembelajaran dengan menggunakan kartu berseri (flash card). Kartu-kartu berseri tersebut dapat berupa kartu bergambar. Kartu huruf, kartu kata, kartu kalimat. Dalam pembelajaran membaca permulaan guru dapat menggunakan strategi bermain dengan memanfaatkan kartu-kartu huruf. Kartu-kartu huruf tersebut digunakan sebagai media dalam permainan menemukan kata. Siswa diajak bermain dengan menyusun huruf-huruf menjadi sebuah kata yang berdasarkan teka-teki atau soal-soal yang dibuat oleh guru. Titik berat latihan menyusun huruf ini adalah ketrampilan mengeja suatu kata (Rose and Roe, 1990). Dalam pembelajaran membaca teknis menurut Mackey (dalam Rofi’uddin, 2003:44) guru dapat menggunakan strategi permainan membaca, misalnya cocokkan kartu, ucapkan kata itu, temukan kata itu, kontes ucapan, temukan kalimat itu, baca dan berbuat dan sebagainya. Kartu-kartu kata maupun kalimat digunakan sebagai media dalam permainan kontes ucapan. Para siswa diajak bermain dengan mengucapkan atau melafalkan kata-kata yang tertulis pada kartu kata. Pelafalan kata-kata tersebut dapat diperluas dalam bentuk pelafalan kalimat bahasa Indonesia. Yang dipentingkan dalam latihan ini adalah melatih siswa mengucapkan bunyi-bunyi bahasa (vokal, konsonan, dialog, dan cluster) sesuai dengan daerah artikulasinya (Hidayat dkk, 1980).

Untuk memilih dan menentukan jenis permainan dalam pembelajaran membaca permulaan di kelas, guru perlu mempertimbangkan tujuan pembelajaran, materi pembelajaran dan kondisi siswa maupun sekolah. Dalam tujuan pembelajaran, guru dapat mengembangkan salah satu aspek kognitif, psikomotor atau sosial atau memadukan berbagai aspek tersebut. Guru juga perlu mempertimbangkan materi pembelajaran, karena bentuk permainan tertentu cocok untuk materi tertentu. Misalnya, untuk ketrampilan berbicara guru dapat menyediakan jenis permainan dua boneka, karena dengan permainan ini dapat mendorong siswa berani tampil secara ekspresif.

 

PERMAINAN KATA

Permainan kata dan huruf dapat memberikan suatu situasi belajar yang santai dan menyenagkan. Siswa dengan aktif dilibatkan dan dituntut untuk memberikan tanggapan dan keputusan. Dalam memainkan suatu permainan, siswa dapat melihat sejumlah kata berkali-kali, namun tidak dengan cara yang membosankan. Guru perlu banyak memberikan sanjungan dan semangat. Hindari kesan bahwa siswa melakukan kegagalan. Jika permainan sukar dilakukan oleh siswa, maka guru perlu membantu agar siswa merasa senang dan berhasil dalam belajar.

 

Memilih Kata

Cara membuat

Pada kartu yang panjang ditempeli sebuah gambar sederhana. Di samping gambar ditulis suatu pilihan tiga kata, satu yang sesuai dengan gambar dan dua yang mirip dengan gambar. Pada punggung kartu warnai suatu ruang untuk menyatakan kata yang benar. Kemudian disediakan jepit kertas.

Cara Bermain

Dua orang siswa memutuskan kata mana yang sepadan dengan gambar, kemudian menaruh jepit di samping kartu kata itu. Untuk mengecek baliklah kartu.

 

Melengkapi kalimat

Pada kartu yang panjang tertulis kalimat dengan satu kata hilang. Pada kartu tersebut diberi celah untuk kata-kata yang hilang. Kemudian membuat kartu gambar yang cocok dengan celah itu.

Cara membuat

Sebuah kalimat ditulis diatas kartu panjang dengan satu kata dihilangkan. Pada kata yang dihilangkan tersebut dilubangi untuk menyelipkan kartu yang cocok untuk melengkapi kalimat. Kemudian membuat kartu-kartu kata yang salah satunya cocok untuk celah pada kartu kalimat.

Cara Bermain

Satu atau dua orang membaca kalimat dan mencocokkan kartu-kartu gambar dalam spasi yang kosong. Kemudian siswa menyelipkan kartu kata yang cocok pada celah kartu kalimat.

 

Batu Loncatan

Cara Membuat

Karton atau kertas digunting menjadi sejumlah bundaran. Pada bundaran tersebut ditulis nama anggota keluarga atau teman-teman. Kertas dapat bermacam-macam warna.

Cara Bermain

Guru melakukan suatu perintah, misalnya “Loncat ke Ayah”. Siswa harus menemukan bundaran yang benar dan melompat disitu sambil menunggu perintah selanjutnya. Dapat juga diubah menjadi sebuah permainan pembentukan kalimat. Dengan memasukkan kata kerja dan bagian-bagian lain dari bahasa lisan. Siswa harus melompat ke bundaran-bundaran itu dalam urutan yang benar agar tersusun sebuah kalimat.

 

SIMPULAN

Dalam melakukan pembelajaran membaca permulaan bagi siswa SD perlu diselingi permainan-permainan, sebab dengan permainan siswa dapat belajar dengan senang, gembira sehingga dapat membebaskan dari berbagai kendala psikologis yang menghambat pembelajaran membaca, misalnya rasa takut, malas, bosan. Tujuan utama pembelajaran dengan permainan bahasa adalah bukan semata-mata untuk memperoleh kesenangan, tetapi untuk belajar ketrampilan berbahasa tertentu, misalnya menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Aktivitas permainan digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan cara yang menyenangkan. Disamping itu permainan dapat digunakan sebagai penguatan (reinforcement).

Siswa kelas awal SD masih memerlukan dunia permainan untuk membantu menumbuhkan pemahaman terhadap diri mereka. Pada usia tersebut, siswa mudah merasa jenuh belajar di kelas apabila dijauhkan dari dunianya yaitu dunia bermain. Setiap permainan terdapat unsur rintangan atau tantangan yang harus dihadapi. Tantangan tersebut berupa masalah yang harus diatasi atau diselesaikan. Bahkan dapat berupa kompetisi yang memunculkan potensi baru. Tantangan yang diselesaikan tersebut dapat melatih ketrampilan berbahasa siswa. Disamping dapat melatih siswa memiliki kepekaan daya nalar, emosional, dan sosial.


DAFTAR RUJUKAN

Anderson, R. C. 1972. Language Skills in Elementary Education. New York:

Macmillan Publishing Co, Inc.

Badudu. J. S. 1993. Pengajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah:

Tinjauan dari Masa ke Masa, Bambang Kaswanti Purwo (ed), Pelba 6.

Yogyakarta: Kanasius.

Baradja, M. F. 1990. Kapita Selekta Pengajaran Bahasa. Malang: IKIP Malang.

Cleary, Linda Miller dan Michael D. Linn. 1993. Linguistics For Teachers. New

York: Mc Graw-Hill.

Dworetzky, John. P. 1990. Introduction to Child Development. New York: West

Publishing Company.

Goodman, Kenneth. 1988. The Reading Process. Dalam Carrell, Patricia L;

Devine, Joanne; & Eskey, David E (eds). Interactive Approaches to

Second Language Reading. Cambridge University Press.

Gibbons, Paulina. 1993. Learning to Learn in a Second Language. Australia:

Heinemann Portmourth NH.

Muchlisoh. 1992. Materi Pokok Bahasa Indonesia 3. Jakarta: Depdikbud.

Pollit, Theodora. 1994. How Play and Work are Organized in Kindergarten

Classroom. Journal of Research in Childhood Education. Vol. 9 No. 1.

Root, Betty. 1995. Membantu Putra Anda Belajar Membaca. Jakarta: Periplus.

Rofi’uddin, Ahmad. 2003. Faktor Kreativitas Dalam Kemampuan Membaca dan

Menulis Siswa Kelas 5 Sekolah Dasar Islam Sabilillah Malang. Lemlit

Universitas Negeri Malang.

Syafi’ie, Imam. 1999. Pengajaran Membaca di Kelas – Kelas Awal Sekolah

Dasar. Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pengajaran

Bahasa Indonesia pada FPBS Universitas Negeri Malang. Malang:

Universitas Negeri Malang.

Smith, F. 1985. Reading. Cambridge: Camoridge University Press.

Semiawan, Conny. R. 2002. Belajar dan Pembelajaran dalam Taraf Usia Dini.

Jakarta: PT Ikrar Mandiri Abadi.

Bodd, Elizabeth; et. All. 1996. Play Learning and The Early Childhood

Curriculum. London: Paul Charman Publishing.

ASPEK PENGAJARAN BAHASA

Filed under: Uncategorized — May 18, 2009 @ 7:50 pm

ASPEK PENGAJARAN BAHASA

INDONESIA

 

A. MENDENGARKAN

 Mendengarkan ialah mengarahkan perhatian dengan sengaja kepada suatu suara, atau menangkap pikiran orang berbicara dengan alat pendengaran kita, dengan tepat dan teratur. Mendengar dan mendengarkan itu berbeda. Mendengar dapat dilakukan setiap orang yang alat pendengarannya normal; dengan kata lain jika orang itu tidak tuli. Sedangkan mendengarkan membutuhkan kecakapan yang harus dipelajari dengan latihan-latihan yang benilang-ulang, kecakapan yang tidak dikuasai dengan cukup oleh setiap orang. Untuk mendengarkan dengan baik kita harus:

a.       mengerti akan kata-kata yang dipakai,

b.      memahami dan mengenal bentuk kalimatnya, jadi

c.       menangkap isi dan maksud percakapan itu dengan teratur.

 

1.  Latihan-latihan Mendengarkan

 

Latihan-latihan mendengarkan itu perlu sekali diberikan pada anak-anak sejak anak-anak itu mula-mula duduk di bangku sekolah dasar. Kecuali mempunyai nilai formal (melatih fungsi pendengaran dan pemusatan perhatian) latihan-latihan mendengarkan itu besar sekali artinya untuk menambah perbendaharaan bahasa.

Latihan-latihan mendengarkan itu dapat kita namakan sendi atau dasar bagi pengajaran bahasa. Oleh karena itu, latihan-latihan fnendengarkan harus diberikan di tiap-tiap kelas, terutama di kelas-kelas rendah. Latihan mendengarkan itu bukan saja semata-mata dilakukan untuk meneliti kepandaian siswa, tetapi juga selalu untuk membentuk pengertian. lidak semua kata-kata sama artinya, walaupun bunyinya sama.

 

 d. METODE PEMBELAJARAN MEMBACA PRMULAAN

 1.      Metode Eja (Spell Method)

 

Metode ejaan adalah metode yang paling terdahulu, yang sekarang sudah jarang/tidak terpakai lagi. Metode ini mengajarkan kepada anak-anak huruf-huruf dalam abjad, dengan naman-ya, bukan dengan bunyinya. Huruf-huruf ini dirangkaikan menjadi suku kata, dan dari suku kata menjadi kata. Contoh:

de - a = da; el - i- el = lil; jadi: dalil,

be - o = bo; te - o- el = tol; jadi: botol, dan sebagainya.

(Cara mengajar menurut metode ini, ingatlah pada cara mengajar huruf Arab yang masih berlaku di surau-surau).

 

2.      Metode Bunyi (Klank Method)

 

Dalam mengajar menurut metode bunyi, bukannya nama huruf yang diajarkan, melainkan bunyinya. Jalannya sama dengan metode eja. Contoh:

d (ed) - a = da, w (ew) - a-1 (et) = dawat

s (es) - a = sa, b (eb) - i -1 (et) = sabit

Seperti halnya metode eja, metode bunyi pun sekarang sudah jarang/tidak dipergunakan lagi. Yang sering dipakai adalah gabungan dari metode bunyi dan suku kata. Contoh:

 

3.  Metode Lembaga Kata

Metode lembaga kata dapat dikatakan sebagai peralihan antara metode bunyi dengan metode yang terbaru, yakni: metode global. Proses pelaksanaannya adalah kira-kira sebagai berikut:

a.  Menyajikan kepada para siswa sebuah kata yang tidak asing lagi bagi mereka. (Biasanya kata-kata itu dituliskan di bawah sebuah gambar).

b.  Menganalisis atau menguraikan kata menjadi suku kata. Suku kata langsung ke bunyi huruf.

c. Mengajarkan huruf dari tiap-tiap bunyi yang telah dipisahkan dari lembaga katanya.

d. Hunif-huruf itu disintesis atau dirangkaikan menjadi suku dan kata.

e. Kata-kata itu dirangkaikan menjadi pola kalimat sederhana.

 Jadi siswa mahir benar memainkan kartu huruf a, i, n menjadi beberapa kata seperti:  

i ni      i in

i ni       a an

i ni       i ni

i ni       i na

 

baru dikenalkan kartu lain seperti:

 Metode lembaga kata mendekati metodeanalitis - sintetis, karena setelah menguraikan (lihat a dan b) kemudian dihubungkan lagi. Metode ini dikembangkan oleh Dr. S. Pakasi tahun 68/70-an.

 

4.  Metode Global

Metode global adalah metode yang melihat segala sesuatu merupakan keseluruhan. Penemu metode ini ialah seorang ahli ilmu jiwa dan ahli didik bangsa Belgia yang bernama Decroly. Penernuan metode ini berdasarkan atas hasil-hasil penyelidikan dari ilmu jiwa Gestalt. Adapun cara pelaksanaannya dapat disingkat sebagai berikut:

a.   Beberapa minggu yang pertama anak-anak diberinya kalimat-kalimat yang merupakan cerita singkat, urnumnya yang mudah-mudah dan berhubungan dengan diri anak-anak, yangsudah dikenal. Kalimat-kalimat itu ditulis dengan huruf-huruf tulis, yang tiap-tiap hari dapat diulanginya. Contoh:

ini ibu ani

ibu ani masak nasi

ani makan nasi

b.      Setelah beberapa lama, anak-anak hafal bunyi kalimat-kalimat itu dan dapat membedakan kata-kata yang sama atau hampir sama. Alangkah baiknya jika tiap-tiap kalimat disertai gambarnya.

c. Setelah dapat membedakan kata-kata dalam kalimat-kalimat yang sudah diberikan (hal ini biasanya dengan tidak disadari), maka berangsur-angsur anak-anak itu akan dapat pula membedakan suku-suku kata (hafal). Kemudian mengerti huruf-huruf dengan bunyi sekaligus.

d. Setelah hafal dan mengerti bunyi-bunyi huruf itu, dapat pula merangkaikannya menjadi kata-kata, dan dari kata-kata menjadi kalimat.

Pelaksanaan dari metode ini sangat membutuhkan kecakapan dan pengalaman yang luas dari guru. (Lebih lanjut lihat Metodik Pengajaran Membaca dan Menulis Permulaan!).

 

5.  Metode SAS atau Struktur Analisa Sintesa

Metode ini mirip dengan metode global meskipun tidak sama. Dalam metode global dimulai dari suatu unit pikiran atau suatu cerita. Siswa perlu menghafal beberapa kalimat dan dikenalkan banyak huruf sekaligus. Dalam metode SAS hanya membicarakan suatu hal. Misalnya ibu bacaannya berupa kalimat pendek, seperti: 

ini   ibu

ibu  ani

 

Dari dua kalimat ini dipisah yang berupa suku kata:

i-ni     i-bu

i-ni     i-bu

i-n- i  i-b-u

ini    ibu

 

Berikutnya tekanan pengajaran pada suku kata:

ini              ani      bu     b    u

ibu          abu               bu

bani         bibi    b   i   b  a

banu        bina     bi     ba

 dst.

 

E. PENGAJARAN MEMBACA LANJUT

 

1.  Tujuan Pengajaran Membaca Teknik

lujuan pengajaran membaca teknik ialah untuk memperbaiki dan melancarkan teknik membaca pada anak-anak. Artinya: melatih anak-anak dengan tepat dan mudah mengubah tulisan menjadi suara dengan memperhatikan ucapan, tekanan, dan irama. “Teknik membaca yang baik terutama terletak dalam soal menggerakkan pandangan mata”, demikian kata Emil Javal seorang sarjana Francis. Menurut penyelidikannya, gerak-gerak mata orang yang telah pandai membaca dapat dilukiskan sebagai berikut:

 

Keterangan:

 

a - b  :  sa.tu baris

a’- b’ :  baris selanjutnya

s : selang mencarnkan

1-2,3 dst. : lompatan-lompatan mata.

 

Lamanya selang mencarnkan memakan waktu 19/20 dari waktu membaca, sedang lompatan-lompatan mata hanya 1/20 dari waktu membaca. Dalam kegiatan ini yang bergerak adalah mata bukan kepala. Gunanya selang mencarnkan untuk menangkap isi dari yang dibaca ita.

Pada saat mencarnkan, mata hanya dapat melihat dengan jelas satu dua huruf yang paling menarik perhatian; namun kita sudah dapat menangkap arti perkataan/kalimat itu. Sebab jiwa kita aktif menambah lengkapnya (proses asimilasi).

 4.  Lamanya selang mencarnkan itu tergantung pada kemampuan jiwa untuk mengadakan proses asimilasi itu. Hal ini tergantung pula pada beberapa faktor:

  1. Latihan-latihan.
  2. Sifat bahan yang dibaca (mudah/sukar).
  3. Besarnya perhatian.

Bagaimana cara anak yang belum mahir membaca? Menurutnya, gerak mata orang yang belum mahir membaca dapat dilukiskan sebagai benkut:

 Keterangan:

lb  = lompatanbalik

1   = lompatan mata amat kecil; jadi jumlah selang mencarnkan lebih banyak. Ini berarti makan waktu lebih banyak pula.

2  = Ada lompatan-lompatan balik (lb) ke belakang pada selang mencarnkan (Apa sebabnya?). Ini pun makan waktu pula.

3  = Proses asimilasi dengan sendirinya belum dapat berlangsung sebaik-baiknya (Apa sebabnya?).

Membaca dengan teknik yang baik tidak hanya soal gerakan mata (soal lancar), tetapi meliputi pula tepatnya lagu, tekanan, dan lafalnya. Dengan demikian, tujuan membaca teknik dapat kita simpulkan sebagai berikut:

1.  Mengajarkan/melatih membaca dengan lancar dan jelas, dengan jalan:

a.    membuat lompatan-lompatan mata yang besar.

b.    mengurangi lompatan-lompatan balik.

c.    memperhatikan isi bacaan sehingga proses asimilasi berlangsung dengan baik.

2.    Mengajar membaca dengan tepat. (Ini juga dipengaruhi proses asimilasi).

3.      Mengajar membaca dengan lagu yang tepat (seperti orang bercakap-cakap), tanda baca menunjukkan jalannya.

4.    Mengajar membaca dengan ucapan yang tepat (lafal harus jelas).

 

2.  Bahannya

  1. Pilihiah bahan bacaan yang sederhana, baik susunannya maupun isinya.
  2. Dapat/boleh mengambil bahan yang telah dipercakapkan dalam pelajaran membaca dalam hati; tetapi sebaiknya hendaklah bahan yang baru (Mengapa?).

 

3.  Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan

Dalam pelajaran membaca teknik ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian:

  1. Kurang melayani sifat individu anak-anak.
  2. Kurang memberi ato-aktivitas anak.
  3. Lekas menjernukan.
  4. Menghambat tempo/kecepatan dan usaha meresapkan isi bacaan itu.
  5. Nilai praktisnya kurang.

Di samping itu ada pula keuntungan-keuntungannya, yaitu:

  1. Berguna untuk menikmati keindahan bahasa dan isi bacaan.
  2. Melatih lafal/ejaan, tekanan-tekanan, dan lagu bacaan.
  3. Memudahkan guru untuk mengontrolnya.

Oleh karena itu, membaca teknik harus didahului oleh membaca dalam hati.

 

4.  Jalannya Pelajaran Membaca Teknik

  1. Melatih ucapan (lafal), tekanan suara dan lagu kalimat, yang telah dipilih guru dari bacaan itu. Misalnya di kelas I, siswa dibiasakan membaca dengan lafal dan intonasi: ini kaki kiki.
  2. Beberapa kata-kata yang sukar dibicarakan dalam kalimat, dibaca di papan tulis dengan teknik yang baik (no. I dan 2 ± 5 menit).
  3. Kitab bacaan dibuka, kemudian dibaca dalam hati ± 5 menit.
  4. Pertanyaan-pertanyaan tentang isi bacaan ± 2 menit.
  5. Kalau ada gambar dalam bacaan itu dibicarakan sebentar, agar perhatian siswa tidak berpindah-pindah kepada gambar itu ketika mendapat giliran membaca.
  6. Guru memberi contoh membaca dengan lagu/teknik yang baik.
  7. Giliran membaca untuk para siswa. Urnumnya pendek-pendek saja supaya banyak siswa yang mendapat giliran. Di kelas tinggi boleh agak panjang (± 10 sampai 15 menit). Pada saat ini guru menjaga ketertiban kelas.
  8. Sebagai selingan, dapat membicarakan gambar atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

 

Dalam membaca teknik ini mengutamakan penggunaan tanda baca dengan intonasi yang tepat. Indikator pencapaian tujuan adalah jika pendengar mengerti apa yang dibaca oleh pembaca.

k. Peringatan:

(1)   Di kelas-kelas tinggi lebih baik jika yang disuruh membaca itu ialah anak-anak yang telah diberi tugas untuk menyiapkan din.

(2)   Giliran membaca sebaiknya jangan diberikan menurut urutan duduk/bangku anak-anak. (Mengapa?).

 

F.  PENGAJARAN MEMBACA DALAM HATI

1.  Tujuannya

  1. Melatih siswa menangkap arti bacaan itu dalam waktu yang singkat.
  2. Melatih siswa belajar sendiri, untuk memperoleh pengetahuan (nilai praktis).
  3. Melatih kesanggupan memusatkan perhatian dan pikiran kepada suatu soal (nilai formal), melatih anak untuk dapat mengambil kesimpulan dari apa yang dibacanya.

2.  Bahannya

Selain dari buku bacaan, boleh pula diambil dari buku-buku bacaan pelajaran, seperti: llmu Bumi, Sejarah, dan flmu Hayat. Bahkan dapat juga diambilkan dari majalah-majalah, surat-surat kabar, dan lain-lain. Jadi isinya tidak hanya cerita saja, tetapi juga yang mengandung pengetahuan.

Bahan bacaan hendaklah yang mengandung kemungkinan untuk berpikir dan uraiannya pendek, serta bersifat zakelijk. Isi bacaan sesuai jiwa anak, supaya dapat menimbulkan dorongan ingin tahu secara spontan, dan tidak banyak mengandung kata-kata sulit bagi anak-anak. Misalnya bahan bacaan dapat diambil dari buku Lancar Berbahasa Indonesia 3, halaman 169, tentang upakarti. Upakarti = penghargaan pemerintah Indonesia yang diberikan kepada perajin -> perajin = orang-orang yang membuat benda-benda jenis kerajinan tangan seperti keranjang rotan, sepatu, dan lain-lain. Guru menjelaskan semua kata-kata yang baru dikenal siswa.

3.  Jalan Pelajaran Membaca Dalam Hati

  1. Menerangkan kata-kata/kalimat yang sukar dalam bacaan (± 3 menit), misalnya upakarti.
  2. Anak-anak membaca dalam hati ± 10 menit. Cara membaca yang benar yaitu tidak menggeleng-gelertgkan kepala.
  3. Buku ditutup, guru memberi pertclnyaan-pertanyaan ingatan, anak-anak menjawab pertanyaan-pertanyaan itu (± 5 menit). Misalnya: apa yang dimaksud derigan upakarti? Siapa yang berhak menerima upakarti? (Lihat halaman 169-170).
  4. Kertas dibagikan kepada anak-anak. Buku bacaan boleh dibuka. Papan tulis yang telah berisi pertanyaan-pertanyaan pikiran dibalik, anak-anak harus menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara tertulis.
  5. Kertas/hasil pekerjaan anak dikumpulkan, untuk d.iperiksa guru di rumah.
  6. Bila masih ada waktu, pertanyaan-pertanyaan pikiran dibicarakan bersama-sama dalam kelas.

Petunjuk-petunjuk Praktis

  1. Kedua macam pertanyaan (ingatan dan pikiran) hendaklah telah disiapkan guru di rumah dan telah dipikirkan masak-masak.
  2. Jumlah pertanyaan-pertanyaan ± 10 pertanyaan ingatan dan ± 10 pertanyaan pikiran.
  3. Pelajaran ini dimulai di kelas IV. Di kelas III pengajaran membaca dalam hati dapat juga diberikan, dengan mengingat: pertanyaan ingatan lebih banyak daripada pertanyaan pikiran. Sedangkan di kelas-kelas tinggi sebaliknya.
  4. Jawaban anak-anak tidak perlu merupakan kalimat-kalimat yang lengkap. Yang penting ialah anak-anak mengerti apa yang dibacanya.
  5. Dari semua macam membaca, membaca dalam hati adalah yang terpenting. Oleh karena itu, usahakan agar anak-anak sesudah tamat SD dapat menguasai kecakapan membaca dalam hati itu sebaik-baiknya. (Mengapa demikian?).
  6. Contoh SP Membaca Dalam Hati.

 

G. PENGAJARAN MEMBACA SEBAGAI BAHASA

1.  Tujuannya

  1. Menambah perbendaharaan bahasa pada anak-anak.
  2. Melatih penguasaan bahasanya.
  3. Mengajarkan sekedarnya tentang tata bahasa.

2.  Bahannya

  1. Diambilkan dari bacaan yang tidak terlalu panjang, dan yang baik serta lancar bahasanya. Lihat Lancar Berbahasa Indonesia 3, halaman 110-112.
  2. Bacaan itu cukup mernuat bahan-bahan untuk menambah perbendaharaan bahasa anak-anak.
  3. Janganlah mencari bahan yang banyak mernuat bahasa/kata-kata asing, peribahasa-peribahasa, atau mernuat banyak bentuk-bentuk yang tidak banyak dipergunakan di dalam bahasa sehari-hari.

3.  Jalannya Pelajaran Membaca Bahasa

  1. Bacaan dibaca dalam hati ± 5 menit. (Mengapa?).
  2. Buku ditutup, pertanyaan kontrol diajukan kepada anak-anak (± 3 menit).
  3. Guru atau seorang siswa membaca sebagian dari bacaan, misalnya sepertiga atau setengah halaman.
  4. Guru menerangkan kata-kata yang sukar, seperti: sinonim, pepatah, kalimat-kalimat, peribahasa, dan sebagainya. Pembicaraan berlangsung bersama para siswa.
  5. Setelah pembicaraan itu, seorang siswa membaca lagi sebagian, dan diterangkan/diadakan pembicaraan lagi. Demikian seterusnya dengan mengingat waktu.
  6. Kira-kira 10 menit/5 menit terakhir disediakan waktu bagi para siswa untuk mencatat pelajaran (hasil pembicaraan) di papan tulis.
  7. Contoh SP Membaca Sebagai Bahasa (kelas V).

Membaca sebagai bahasa mi merupakan membaca percakapan atau membaca sebagai alat komunikasi. Indikator keberhasilan siswa dilihat dari cara membaca kalimat percakapan.

Catatan:

Dalam pelajaran mi para siswa harus mempunyai “buku catatan membaca”. Ini diperlukan untuk mencatat hasil-hasil pelajaran itu, seperti: ungkapan-ungkapan yang bagus, sinonim-sinonim, perubahan-perubahan bentuk kalimat, dan sebagainya. Tiap-tiap ungkapan baru harus disertai pemakaiannya dalam bentuk kalimat.

4.  Petunjuk-petunjuk Praktis

  1. Persiapan guru harus dilakukan di rumah dengan teratur dan teliti.
  2. Dalam buku persiapan hendaklah diterangkan/dinyatakan bagaimana cara menerangkan kata-kata dan ungkapan-ungkapan itu; misalnya dengan dramatisasi, lukisan-lukisan/gambar, cerita pendek, sinonim, dibuat kalimat, dengan alat peraga, dan sebagainya.
  3. Dalam menerangkan hendaklah para siswa turut aktif, jangan hanya guru saja yang bercakap-cakap.
  4. Sambil menerangkan/mempercakapkan isi bacaan itu, guru harus berusaha supaya catatan-catatan guru di papan tulis jelas dan tersusun secara sistematis, agar dapat dicatat oleh anak dengan baik.

Ada baiknya pula jika dalam buku catatan anak-anak sebelum menyalin, harus menulis: pelajaran apa, halaman berapa, dan nomor atau hal apa.

 

H. PENGAJARAN MEMBACA EMOSIONAL

1.  Tujuannya

  1. Mengajar anak-anak menikmati sendiri bermacam-macam keindahan bentuk isi dan bahasa bacaan.
  2. Kalau tujuan tersebut di atas ( a ) telah tercapai, maka hal ini akan besar pengaruhnya kepada pilihan mereka dalam mencari bacaan kelak. Mereka akan sering mengambil buku atau majalah pada waktu-waktu terluang. Hal ini pun akan sangat berguna untuk mereka sendiri dan masyarakat pada umumnya.

2.  Bahannya

Bagi anak, yang paling menarik perhatian ialah isi bacaan; sedangkan keindahan bentuk bahasa (bunyi dan irama), anak belum dapat menikmatinya. Oleh karena itu, bahan pelajaran membaca emosional hendaklah:

  1. Isinya indah atau bagus dan mudah dipahami anak-anak, serta dapat menggerakkan dalam perasaan mereka.
  2. Susunannya sederhana, yaitu menggunakan bahasa percakapan sehari-hari. Misalnya: lelucon, bagian-bagian cerita yang mengasyikkan, sajak-sajak sederhana, dan lain-lain. Lihat buku Lancar Berbahasa Indonesia jilid 3, halaman 124. Siswa menghayati “Menyesal”.

Catatan:

Latihan dramatisasi dan latihan visi merupakan alat yang penting untuk menghidupkan pelajaran. Keindahan isi bacaan lebih cepat dapat dinikmati kalau disertai latihan visi dan dramatisasi.

Latihan visi dilakukan bila kita hendak melukiskan pengertian kata-kata, kalimat-kalimat dalam bentuk isyarat atau mirnik, perbuatan-perbuatan atau panto-mirnik. Juga dengan jalan menceritakan kembali bacaan itu dengan kalimat-kalimat/kata-kata sendiri.

Disebut latihan dramatisasi bila dan bacaan itu anak-anak melakukan suatu sandiwara pendek. Pada latihan ini dapat ikut beberapa orang anak, sedangkan pada latihan visi hanya seorang anak saja. (Apakah faedah lain dari latihan visi dan dramatisasi itu?).

3.  Jalan Pelajaran Membaca Emosional

  1. Guru bertanya kepada siswa apakah anak pemah merasa menyesal? Jika pemah apa sebabnya? Selanjutnya guru mulai membacakan pelajaran itu sebaiknya-baiknya, disertai dengan mirnik dan panto-mimik.
  2. Kata-kata yang sukar dan ungkapan-ungkapan diterangkan oleh guru.
  3. Guru menyusun latihan-latihan visi bersama dengan anak-anak, yang kemudian dibicarakan lalu dikerjakan. Bagian-bagian yang baik untuk dramatisasi juga perlu dilatihkan dan dipelajari oleh anak-anak.
  4. Seorang anak atau lebih membacakan pelajaran itu sekali lagi dengan baik. Anak-anak yang lain menutup bukunya untuk menikmatinya (mendengarkan).
  5. Contoh SP Pembelajaran Membaca Emosional.

4.  Peringatan

Pelajaran membaca emosional cukup diberikan 2 (dua) minggusekali. Pelajaran ini paling awal diberikan di kelas III. Tetapi tiap-tiap minggu sebaiknya diadakan satu jam pelajaran membaca bebas, yang bahannya dipilih mereka sendiri untuk dinikmatinya.

 

l.   BERCAKAP-CAKAP

Seperti telah diuraikan di muka, bercakap-cakap ialah termasuk kepada penguasaan bahasa aktif. Yang dimaksud dengan bercakap-cakap ialah melahirkan pikiran dan perasaan yang teratur, dengan memakai bahasa lisan.

1.  Bercakap-cakap dan Bercerita

Banyak calon dan guru-guru yang kurang memahami perbedaan antara kedua istilah tersebut dalam pengajaran bahasa. Olah karena itu, kerapkali mereka kurang dapatberhasil melaksanakannya. Sesungguhnya kedua pengertian itu memang berbeda, dan digunakan untuk pengajaran yang berbeda maksud serta pelaksanaannya. Bercakap-cakap termasuk ke dalam kelompok pengajaran bahasa. Di dalam pengajaran bercakap-cakap para siswa yang aktif melakukannya, dan memang tujuannya ialah melatih anak-anak supaya dapat melahirkan perasaan dan pikirannya dengan teratur, secara lisan. Sedangkan guru dalam hal ini hanyalah memimpin dan memberi petunjuk-petunjuk seperlunya. Bercerita kecuali merupakan mata pelajaran, juga merupakan bentuk mengajar yang dapat digunakan terhadap berbagai mata pelajaran. Di SD kerap kali bercerita itu dihubungkan dengan mata pelajaran budi pekerti. Pengajaran budi pekerti di SD urnumnya dilaksanakan/merupakan pengajaran bercerita. Dalam pengajaran bercerita guru yang aktif bercerita, para siswa mendengarkan. Tujuan pengajaran bercerita tergantung kepada isi dan cara melaksanakan/menyajikan bahannya.

2.  Macam Bercakap-cakap

Bercakap-cakap dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu bercakap-cakap spontan dan bercakap-cakap terpimpin.

a. Bercakap-cakap spontan

Bercakap-cakap spontan urnumnya dilakukan di kelas I SD dan biasanya dalam bahasa daerah. Untuk daerah yang tidak menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu, pokok percakapan harus timbul dari penghayatan para siswa sendiri. Misalnya pada suatu hari di kelas I ada seorang siswa membawa seekor burung yang baru ditangkapnya, dan ditunjukkannya kepada bapak/ibu guru. Hal itu dapat dijadikan sebagai bahan percakapan spontan di kelas itu. (Biarpun waktu itu sebenarnya bukan jam pelajaran bercakap-cakap. Mengapa?). Hal ini sangat sesuai dengan kondisi belajar yang diharapkan, yaitu bercakap-cakap spontan. Kalimat yang diucapkan siswa orisinal dan spontan.

Anak itu disuruh menceritakan di muka kelas kepada teman-temannya tentang burung yang ditangkapnya. Sesudah itu, anak-anak lain mendapat giliran menceritakan sesuatu yang pernah dialaminya. Peningkatan kemampuan bercerita diamati dan dievaluasi oleh guru. Mungkin anak kelas I hanya dapat bercerita dalam dua kalimat. Misalnya: Burung si Ali. Bulu burung berwarna.

1) Tujuannya

Adapun tujuan pengajaran bercakap-cakap antara lain:

  1. Melatih siswa melahirkan isi hatinya (pikiran, perasaan, dan kemauannya) secara lisan dengan bahasa yang teratur dan kalimat yang baik.
  2. Memperbesar dorongan batin akan melahirkan isi hatinya.
  3. Memupuk keberanian bercakap-cakap pada anak-anak.
  4. Menambah perbendaharaan bahasa anak.
  5. Dari sudut psikologi humanismenya adalah memberikan kesempatan pada anak untuk menyatakan dirinya.

(2) Bahannya

Bahan bercakap-cakap antara lain:

  1. Pokok-pokok percakapan sebaiknya yang berasal dari dunia sekitar anak-anak. Dapat juga dipilih dari dunia orang dewasa yang telah dilihat anak, atau yang telah diketahuinya. Seperti untuk anak-anak di desa membicarakan tentang: pasar, sawah, penggilingan padi, sungai, perhelatan (pemikahan, sunatan, dan sebagainya). Sedang untuk anak-anak di kota: lalu-lintas, stasiun, kantor pos, pabrik-pabrik, perayaan hari-hari besar, dan lain-lain.
  2. Pokok percakapan harus bersifat individual. Umpama tentang “Ayamku”, bukan “Ayam”.
  3. Usahakan supaya ada unsur emosi dalam jiwa anak yang bercakap-cakap. Di dalam jiwa anak ada “sesuatu” yang mendorong untuk berkata-kata. Oleh karena itu, carilah bahan-bahan yang aktual, pergunakan tiap-tiap kejadian yang istimewa: di sekolah, di rumah, di kota, dan sebagainya, untuk menyatakan emosi dan memupuk dorongan akan melahirkan isi hati mereka. Seperti: Kakakku Menikah, Pasar Malam, Hari Kelahiran/Ulang Tahun, Pesta Sekolah, dan lain-lain.
  4. Di kelas-kelas rendah pembicaraan itu adalah suatu peristiwa yang dialaminya sendiri oleh anak-anak (lihat contoh di atas!).

Di kelas-kelas tinggi boleh juga diambil pokok dari pelajaran lain (seperti: ilmu Bumi, Sejarah, ilmu Hayat) yang telah dipercakapkan. Tetapi dalam pelajaran ini jagalah supaya tujuannya tetap pelajaran bercakap-cakap dan bukan pelajaran flmu Bumi atau flmu hayat, dan sebagainya. Biasakan siswa menuliskan inti sari dari percakapan mereka. Contoh SP Bercakap-cakap Spontan. (Kelas D cawu 1).

Bercakap-cakap spontan ini harus dibiasakan dan kelas 1. Penilaiannya melalui pengamatan. Untuk dinilai secara menyeluruh, kegiatan ini digabung dengan kegiatan menulis. Oleh karena itu, contoh SP ini dimulai di kelas H.

b.  Bercakap-cakap terpimpin

(1) Tujuannya

Tujuan dari pelajaran ini adalah untuk membuat siswa berani menyatakan pendapatnya, menghilangkan rasa malu dan rasa ragu-ragu. Oleh karena itu, harus diusahakan supaya anak mengikuti dengan tertib.

(2) Cara menyampaikan pelajaran

Pelajaran ini dapat diberikan dengan cara:

  1. Setelah guru menceritakan sebuah cerita yang smgkat, menurut urutan-urutan yang tertentu, anak-anak menceritakan kembali cerita itu dengan teratur pula.
  2. Menceritakan deretan gambai-gambar (gambar seri) dari buku atau yang dibuat guru di papan tulis.
  3. Menceritakan kembali sebuah bacaan yang sudah dibaca. Dalam hal ini perhatikan baik tidaknya isi bacaan itu diceritakan mereka.
  4. Di kelas-kelas tinggi para siswa mengucapkan beberapa kalimat yang telah disusun guru di papan tulis sebagai kalimat percakapan.
  5. Membicarakan hal-hal yang menarik atau berita aktual saat itu dengan cara berpasangan.

(3) Jalan pengajarannya

Pelajaran ini banyak menggunakan aspek mendengarkan. Oleh karena itu, pada bercakap-cakap terpimpin contoh yang dilakukanxileh guru harus jelas dan mendorong siswa untuk berperan dalam percakapan.

  1. Menceritakan kembali suatu cerita singkat yang telah dibaca atau didengarnya.
  2. Semua siswa membaca paragraf I. Guru bertanya kepada siswa apa isi paragraf 1. Apa komentar siswa, dan sebagainya.
  3. Apa yang diucapkan siswa dituliskan di papan tulis. Mungkin berbeda. Beri kesempatan pada siswa untuk menyatakan pendapatnya.
  4. Kesimpulan yang disepakati bersama dituliskan di papan tulis.
  5. Baca seperti bahasa percakapan.
  6. Lanjutkan paragraf berikutnya, sampai selesai, sehingga merupakan ringkasan cerita yang diceritakan oleh anak.
  7. Berilah kesempatan kepada siswa untuk menyusun kembali atau memperbaiki cerita singkatnya.
  8. Siswa menceritakan kembali dengan bahasa percakapan.

3.  Latihan-latihan Memperkaya Perbendaharaan Bahasa

Keberanian dan kemahiran siswa bercakap-cakap dipengaruhi oleh perbendaharaan bahasanya. Oleh karena itu, latihan memperkaya perbendaharaan bahasa sangat penting. Latihan-latihan untuk memperkaya perbendaharaan bahasa itu dapat kita lakukan dengan jalan sebagai berikut:

(1)   Yang amat penting ialah pengajaran lmgkungan (Zuakonjerwifs), yang biasanya dilakukan di kelas I, II, dan III. Seperti: mengunjungi pasar, rumah yang sedang dibangun, menual padi, waduk untuk pengairan sawah-sawah, kantor pos, stasiun kereta api, dan lain-lain.

(2)   Mengajarkan nama-nama. Seperti: bermacam-macam bunyi, warna, gerakan badan, pakaian; gejala-gejala hari seperti panas, mendung/berawan, hujan, dan sebagainya.

(3)   Permainan perbendaharaan bahasa. Seperti: perlombaan menulis nama-nama barang di dapur, nama buah-buahan, barang-barang di toko, mencari oleh-oleh yang dapat dibeli di suatu toko tetapi huruf awal dari benda itu harus sama. Contoh: lbu berbelanja di toko Makmur. Yang dibeli mulai dengan huruf m yaitu: minyak goreng, mi, mihun, molen, dan seterusnya.

(4)   Menghapalkan sajak-sajak. Di kelas-kelas rendah: dapat diberikan sajak-sajak yang memuat banyak hal yang dilakukan oleh anak-anak, atau yang dapat dipertunjukkan sebagai percakapan. Misalnya menghapalkan syair lagu “Bertepuk Tangan” -» Berlipat-lipat tangan, bertepuk sernuanya. Bertepuk berpasangan. Alangkah senangnya berteman. Di kelas-kelas tinggi: di samping hapal sajak-sajak itu, kita perhatikan pula keindahan bentuk bahasanya. Bahan dapat diambil dari syair lagu yang telah dinyanyikan anak. Misalnya “Burung Kutilang”. Memilih sajak-sajak itu harus dengan seksama sekali. Misalnya sajak “Aku” belum tepat untuk usia SD. Pilihiah sajak yang sesuai dengan perkembangan jiwa anak. Misalnya sajak “Kapal Udara” karya Maria Amin (Kesusasteraan Indonesia Masa Jepang. Editor H.B. Yasin, Balai Pustaka, 1928) sesuai watak siswa kelas V atau kelas VI.

(5)   Memberikan latihan-latihan yang disenangi, seperti:

a.       Mempergunakan kata-kata dalam kalimat-kalimat. Misalnya di kelas I dan ll baru mengucapkan kalimat: “Saya makan…. “(Lanjutannya diucapkan siswa sesuai apa yang diinginkan siswa).’ Di kelas III siswa melakukan percakapan bersambung. Siswa A berkata: “Saya sedang makan. Makan apa sekarang?” Si B meneruskan dengan: “Makan buah. Buah apa?” Dilanjutkan siswa berikutnya sampai semua mendapat giliran.

b.      Membuat beberapa kalimat dan sebuah kata yang berbeda artinya. Lihat Lancar Berbahasa Indonesia 3, halaman 31. Dan kata bakar dapat disusun 5 kalimat yang berbeda artinya.

c.       Mengisi kalimat-kalimat yang belum lengkap. Misalnya: Berjalanlah di sebelah kin supaya …

d.      Mengatakan kalimat dengan cara lain. Misalnya: Saya perlu minum -> Saya haus.

e.       Dan sebagainya.

Kalau kita simpulkan, maka cara-cara untuk menambah perbendaharaan bahasa ada 2 macam: a. Secara langsung, yaitu pada pelajaran:

1.      Membaca Bahasa, di mana anak-anak mencatat di dalam buku catatannya pengertian-pengertian bani, sinonim atau padanan kata, lawan kata-kata, pemakaian kata dalam kalimat, dan sebagainya. Hal ini telah mulai sejak kelas 1. Contoh: Guni membuat kantong kartu seperti … dan seterusnya. Siswa menuliskan kata yang diketahuinya di kartu yang diberikanguru    lapil  labul  pbatui  dst. Siswa memasukkan dalam kantong yang sesuai. Siswa telah mempunyai buku kamus sederhana. Siswa menuliskan setiap kata-kata yang baru diketahuinya ke dalam buku itu. Kegiatan ini berlanjut dan kelas I sampai dengan kelas VI.

2.      Tata Bahasa, di mana beberapa pelajaran tiap-tiap kata diberikan imbuhan untuk memberi idiom baru (lihat Lancar Berbahasa Indonesia 3, halaman 55). Dan kata-kata kecil dapat dikembangkan menjadi: kekedlan, terkedl, mengecilkan, dikecilkan, memperkecil, kecilkan.

 

b. Secara tidak langsung, yaitu melalui pelajaran:

1.      MembacaTeknik dan Membaca Dalam Hati.

Pada saat membaca teknik, siswa menambah pengetahuan bahasa dan sudut perbedaan intonasi dapat mengubah arti kata.

2.      Bercakap-cakap.

Melalui percakapan siswa memahami gaya bicara.

3.      Membaca bebas dirumah.

4.      Pengajaran Lingkungan atau Pengajaran Alam Sekitar di kelas I, D, dan III. Pengajaran Proyek, Pengajaran Berprograma, di kelas IV, V, dan VI.

Puisi-puisi

Filed under: Puisi — May 18, 2009 @ 7:35 pm

SEPI

tak kulepas jarak, biar serambut
nyanyian duka tersapu bilur rindu
tawamu hambar kudengar
kasihmu peluh beku, berbalut sepi
masihkah ada harap?
andai bunga takkan layu, kan kuselip setangkai pada ikal rambutmu
andai jalan lurus tak berkelok, kan kuhantar sebait lagu
kasih, harapku jelaga
yang menempel di langit2

surabaya, 14 April 2009

BAHASA INDONESIA SEKOLAH DASAR

Filed under: Pembelajaran BI di Kelas-kelas awal — September 27, 2008 @ 4:28 am

A. RUANG LINGKUP

Materi Modul Bahasa Indonesia SD meliputi:

Modul 1

Pengajaran Menyimak di sekolah dasar meliputi pengertian, proses, dan pembelajaran menyimak di SD

Modul 2

Pengajaran Membaca di sekolah dasar meliputi pengertian, level membaca, faktor yang mempengaruhi proses membaca, dan model-model membaca

Modul 3

Pengajaran Berbicara di sekolah dasar meliputi hubungan kompentensi berbicara dengan kompetensi lainnya, fenomena berbicara di depan umum, sifat-sifat umum pendengar pidato, dan kemampuan berbicara siswa

Modul 4

Pengajaran Menulis di sekolah dasar meliputi hubungan keterampilan menulis dengan keterampilan berbahasa lainnya, proses menulis, dan menulis fiksi dan nonfiksi

Modul 5

Apresiasi Sastra Indonesia meliputi pengertian puisi, jenis puisi, unsur yang membangun puisi, diksi, dan kepuitisan.

B. TUJUAN

Setelah mempelajari modul ini, peserta diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan pengertian menyimak, proses, dan pembelajaran menyimak di SD.
  2. Menjelaskan pengertian membaca, level membaca, faktor-faktor yang mempengaruhi proses membaca, dan model-model membaca.
  3. Menjelaskan hubungan keterampilan berbicara dengan keterampilan berbahasa yang lainnya, fenomena berbicara di depan umum, sifat-sifat umum pendengar pidato, dan kemampuan berbicara siswa.
  4. Menjelaskan pengertian menulis fiksi dan nonfiksi.
  5. Menjelaskan pengertian puisi, jenis puisi dan menganalisis berbagai jenis puisi.


C. MATERI

Modul 1

Pengajaran Menyimak di SD

1 Pengertian Menyimak

Ada dua istilah dalam bahasa Indonesia yang artinya berhubungan dengan konsep menyimak, yaitu mendengar dan mendengarkan. Mendengar berarti dapat menangkap bunyi dengan telinga tanpa adanya unsur kesengajaan. Mendengarkan berarti mendengar sesuatu bunyi tetapi dibarengi dengan adanya unsur kesengajaan, sedangkan menyimak berarti mendengarkan dengan baik-baik, dengan penuh perhatian tentang apa yang diucapkan oleh seseorang ataupun yang lain, adanya kemampuan menangkap dan memahami makna pesan yang terkandung dalam bunyi serta unsur kesanggupan mengingat pesan (Soedjiatno, 1982:5, Tarigan, 1991:3-4).

Sementara itu, Kridalaksana (1993) menggunakan mendengar untuk istilah menyimak, sebagai terjemahan listening. Dalam bahasa Indonesia mendengar, mendengarkan, dan menyimak memiliki kemiripan arti, sehingga sering timbul kekacauan pemahaman. Menyimak memiliki kandungan makna yang lebih spesifik bila dibandingkan dengan kedua istilah sebelumnya. Namun, sekali lagi menyimak ini sering disamakan dengan mendengarkan, sehingga pada beberapa hal keduanya dapat digunakan secara bergantian.

Menurut Goss (dalam Farris, 1993:154), menyimak merupakan suatu proses mengorganisasi apa yang didengar dan menetapkan unit-unit verbal yang berkorespondensi sehingga bisa ditangkap makna tertentu dari apa yang didengar. Menyimak merupakan suatu proses internal yang sulit dipahami. Lundsteen (dalam Tompkins dan Hoskisson, 1991:108) menggambarkan menyimak sebagai most mysterious language process. Dinyatakan demikian karena kenyataannya guru sulit untuk mengetahui sejauhmana siswanya berhasil atau tidak dalam suatu proses pembelajaran menyimak. Ia juga mengemukakan bahwa menyimak merupakan proses yang sangat kompleks dan interaktif, yakni siswa dituntut mampu mengubah bahasa atau wacana lisan yang didengar menjadi sebuah makna di dalam pikiran.

2 Proses Menyimak

Ada beberapa teori yang dikemukakan oleh para pakar yang dapat dijadikan acuan untuk memahami proses menyimak. Wolvin dan Coakley (1985) sebagaimana yang dikutip oleh Tompkins dan Hoskisson (1991:108) mengemukakan ada tiga tahap utama dalam proses menyimak, yaitu receiving, attending, dan assigning meaning. Pada tahap pertama, penyimak menerima rangsangan suara dan gambar (aural and visual) yang disampaikan pembicara. Selanjutnya, penyimak berkosentrasi pada rangsangan tertentu dan mengabaikan rangsangan lain yang mengganggu. Karena ada berbagai rangsangan di sekitar siswa di kelas, maka mereka harus memperhatikan pesan pembicara, dan berkonsentrasi pada informasi terpenting dalam pesan tersebut. Pada tahap ketiga, penyimak mengolah pesan dengan menggunakan asimilasi dan akomodasi untuk menyesuaikan pesan yang diterima dengan struktur kognitif yang telah dimilikinya atau membuat stuktur baru jika perlu.

Sejalan dengan itu, Farris (1993:155) menyatakan bahwa proses menyimak itu terdiri dari tiga tahap dasar, yaitu: (1) receiving the auditory input, (2) attending to the received, (3) auditory input, and (3) interpreting and interacting with the received auditory input.

Hal senada dikemukakan oleh Nicholas (1988:19) bahwa menyimak merupakan proses aktif karena penyimak berperan aktif dalam menyusun pesan yang disampaikan. Rivers dan Temperley (1978) melihat proses menyimak dengan pemahaman sebagai proses yang melalui beberapa tingkatan sebagai berikut.

(1) Saat seseorang mendengar suara, reaksi pertamanya adalah menemukan apakah suara tersebut adalah suara yang teratur (seperti bahasa atau musik) atau suara yang tidak teratur. Dengan kata lain, sebelum ia memahami maksudnya ia harus mengenali apakah suara tersebut datang secara sistematis atau tidak.

(2) Langkah berikutnya adalah menentukan struktur suara. Ia dapat memilah-milah menjadi kata-kata dan kalimat jika suara itu adalah bahasa serta memilahnya menjadi bagian-bagian irama jika suara tersebut adalah musik.

(3) Kemudian ia mengedarkan suara tersebut dalam pikirannya serta memilah-milah pesan yang penting dan tidak penting. Informasi yang sudah dipilah akan terekam dalam ingatan atau akan diungkapkan.

Sementara itu, Tarigan (1986:58) dan Tarigan (1991:16) berpendapat bahwa proses menyimak mencakup beberapa tahap, yakni: (1) mendengar, (2) mengidentifikasi, (3) menginterpretasi, (4) memahami, (5) mengevaluasi, dan (6) menanggapi. Dalam setiap tahap tersebut diperlukan kemampuan tertentu agar proses menyimak dapat berjalan lancar. Misalnya, dalam tahap mendengar bunyi bahasa diperlukan kemampuan menangkap bunyi.

Teori proses menyimak yang lain dikemukakan oleh Nunan (1991:17-18) dan Richards (1990:63). Mereka mengemukakan tiga proses menyimak yaitu bottom-up, top-down dan interaksional. Proses bottom-up mengacu pada penggunaan data yang masuk sebagai sumber informasi tentang suatu pesan. Proses bottom-up ini dimulai dari menganalisis pesan yang diterima berdasarkan organisasi bunyi, kata, kalimat sampai pada proses penerimaan makna. Jadi, proses menyimak jenis ini dipandang sebagai proses penafsiran pesan (decoding).

Proses menyimak top-down mengacu pada suatu proses yang menggambarkan pengetahuan latar (back ground knowledge) dalam memahami maksud suatu pesan. Dalam proses ini, penyimak dibantu memahami pesan dan teks lisan dengan bantuan pengetahuan lainnya. Ada beberapa bentuk pengetahuan latar diantaranya adalah pengetahuan tentang topik suatu wacana, situasi, kontekstual ataupun pengetahuan yang telah menjadi memori bagi seseorang berupa skema.

Dalam proses menyimak jenis top-down, pengetahuan awal (prior knowledge) memiliki peranan yang penting karena pengetahuan awal tersebut dapat membantu penyimak dalam memahami simakan. Pengetahuan yang sebelumnya telah dipunyai oleh penyimak merupakan perbendaharaan sejumlah pengetahuan tentang “dunia” yang tersimpan dalam kerangka skemata dalam struktur psikologis penyimak. Kerangka atau frame berbagai pengetahuan tentang ‘dunia’ tersebut terdiri atas kelompok slots konsep/pengertian/fakta yang tersusun berdasarkan klasifikasi tertentu. Proses jenis ini digunakan oleh penyimak apabila ia memiliki latar belakang pengetahuan dan penguasaan bahasa yang memadai dan apabila ada isyarat-isyarat dalam teks yang dapat mengaktifkan skemata.

Di samping proses bottom up dan top down, Richards juga menyarankan untuk memasukkan dimensi fungsional dalam pembelajaran menyimak. Proses interaksional dari Brown dan Yule (1983) sesuai dengan saran ini, karena tekanan utamanya adalah mempertahankan hubungan sosial antara penyimak-pembicara (siswa-guru) dan penyimak-penyimak (siswa-siswa) dengan memasukkan background knowledge atau skemata siswa.

3 Pembelajaran Menyimak di Sekolah Dasar

a. Materi Pembelajaran Menyimak SD

Materi pembelajaran menyimak di SD meliputi ragam wacana lisan nonfiksi dan fiksi. Adapun materi pembelajaran menyimak di kelas tinggi, yaitu teks berisi petunjuk tentang pembuatan sesuatu, gambar/tanda-tanda lalu lintas, teks cerita (yang mengandung watak beberapa tokoh cerita) teks drama anak, denah, cerita pengalaman, teks pengumuman, pantun anak, penjelasan narasumber, teks pesan untuk disampaikan pada orang lain, teks cerita rakyat, cerita pendek anak, berita televisi atau radio, dan cerita anak. Materi pembelajaran menyimak tersebut haruslah memupuk jiwa dan moral pancasila, sesuai dengan taraf perkembangan siswa, dan bermakna bagi siswa. Selain itu, harus sesuai dengan prinsip-prinsip pengembangan bahan-bahan pelajaran yang terdapat di GBPP, yaitu (1) dari yang konkret ke yang abstrak, (2) dari yang mudah ke yang sukar, (3) dari yang sederhana ke yang rumit/ kompleks, dan (4) dari yang dekat ke yang jauh (Depdikbud, 1994:10).

Ada berbagai pertimbangan dalam menyediakan materi simakan cerita bagi anak-anak usia sekolah dasar. Secara umum, penyediaan bahan simakan/bacaan harus memperhatikan (1) bahasa yang digunakan; (2) penokohan, peristiwa, rangkaian cerita; serta (3) cara penyajian dan gaya penuturan (Aminuddin, 1995:2).

Ditinjau dari bahasa yang digunakan, pertimbangan mengacu pada penguasaan kosakata dan struktur kalimat anak-anak. Kata-kata yang digunakan sebaiknya sesuai dengan situasi yang nyata dan disesuaikan dengan keadaan lingkungan anak itu. Bila ada kada-kata yang masih asing bagi anak, sebaiknya guru menerangkan dengan gambar atau paparan deskriptif sebagai ilustrasi.

Pemilihan materi pembelajaran perlu memperhatikan hal berikut. Ditinjau dari penokohan, pelaku yang ditampilkan harus relatif jelas. Begitu juga motivasi dan peran yang diemban perlu digambarkan secara jelas. Peristiwa yang diceritakan harus menunjukkan hubungan sebab akibat secara jelas. Cerita seharusnya lebih digambarkan secara hidup dan menarik. Pertimbangan menyangkut cara penyajian dan gaya penuturan akan berhubungan dengan pemilihan kata, penggunaan gaya bahasa, teknik penggambaran pelaku dan latar. Menurut Farris (1993:132-133), materi pembelajaran cerita adalah cerita yang dekat/akrab dengan kehidupan anak, pernah didengar, rangkaian ceritanya mudah diikuti, dan temannya cocok dengan usia anak. Cerita yang dipilih hendaknya mengandung pelaku yang dapat dipercaya, awal dan akhir suatu cerita harus tetap menarik dan simpulan akhir harus dekat dengan anak. Hal ini sesuai dengan prinsip-prinsip pengembangan bahan pelajaran yang terdapat pada GBPP.

b. Metode Pembelajaran Menyimak

Beberapa metode pembelajaran menyimak, yaitu:.

1) Memperluas kalimat

Guru melisankan sebuah kalimat. Siswa mengucapkan kembali kalimat tersebut. Guru mengucapkan kembali kalimat tadi dan mengucapkan pula kata atau kelompok kata lainnya. Siswa melengkapi kalimat pertama dengan kata atau kelompok kata.

2)  Bisik Berantai

Guru membisikkan suatu pesan kepada seorang siswa. Siswa tersebut membisikkan pesan itu kepada siswa kedua . Siswa kedua membisikkan pesan tersebut kepada siswa ketiga. Begitu seterusnya . Siswa terakhir menyebutkan dengan suara yang jelas didepan kelas. Guru memeriksa apakah pesan tersebut benar-benar  sampai kepada siswa terakhir apa tidak.

3) Identifikasi kata kunci

Kalimat yang panjang dapat dipendekkan dengan jalan menghilangkan kata-kata yang bukan merupakan inti. Kata ‘ kata yang tidak mungkin dihilangkan’ inilah yang disebut dengan kata kunci.

4) Identifikasi kalimat topik

Inti sebuah paragraf adalah sebuah kalimat topik. Paragraf dibangun oleh sebuah kalimat topik beserta sejumlah kalimat penjelas. Kalimat topik mungkin terletak pada awal paragraf atau pada akhir paragraf. Sekali-kali ditemui juga pada bagian tengah paragraf.

5) Menjawab Pertanyaan

Latihan menjawab pertanyaan berdasarkan bahan simakan sangat menunjang pengembangan ketrampilan menyimak. Ada lima pertanyaan yang perlu diketengahkan yakni siapa yang berbicara, apa yang dibicarakan, mengapa hal itu dibicarakan, di mana hal itu dibicarakan, dan bila hal itu dibicarakan. Dalam taraf permulaan cukup menjawab satu saja pertanyaan yang dilatihkan. Bila siswa sudah terlatih baru semua pertanyaan diajukan dan dijawab.

6) Merangkum

Merangkum atau menyingkat isi bahan simakan berarti menyimpulkan isi bahan simakan secara singkat. Siswa mencari inti sari dari bahan yang dilisankan. Bahan yang dilisankan dapat berupa wacana, paragraf, atau cerita-cerita yang pendek.

7) Parafrase

Parafrase berarti beralih bentuk. Dalam pengajaran bahasa, biasanya diwujudkan dalam bentuk memprosakan puisi. Kadang-kadang ditemui juga mempuisikan prosa.

4 Kegiatan

Rancanglah RPP pembelajaran menyimak di kelas rendah atau di kelas tinggi SD!

5 Latihan

1. Rancanglah pembelajaran menyimak dengan strategi inovatif atau memasukkan unsur permainan di dalamnya!

2. Rancanglah instrumen evaluasi pembelajaran menyimak sebagai evaluasi hasil dan evaluasi proses!


Modul 2

Pembelajaran Membaca di  SD

1 Pengertian Membaca

Downing mendefinisikan bahwa membaca merupakan kegiatan menerjemahkan simbol-simbol tulis ke dalam bunyi. Kegiatan yang baru sampai pada penerjemahan terhadap simbol-simbol tulis menunjukkan bahwa membaca belum sampai pada kegiatan pemerolehan makna dari apa yang dibaca. Kegiatan membaca semacam itu baru sampai pada tahap belajar membaca.

Para ahli lain memberikan pengertian bahwa membaca merupakan (1) pengembangan keterampilan, mulai dari keterampilan memahami kata-kata, kalimat, paragraf-paragraf dalam bacaan sampai dengan pemahaman secara kritis dan evaluatif keseluruhan isi bacaan, (2) kegiatan vital yang berupa serangkaian gerakan mata dalam mengikuti baris-baris tulisan, pemusatan penglihatan pada kata dan kelompok kata, melihat ulang kata dan kelompok katauntuk memperoleh pemahaman terhadap bacaan, (3) kegiatan mengamati dan memahami kata-kata yang tertulis dan memberikan makna terhadap kata-kata tersebut berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang dipunyainya, (4) suatu proses berpikir yang terjadi melalui proses mempersepsi dan memahami informasi serta memberikan makna terhadap bacaan, (5) proses pengolahan informasi yang dilakukan oleh pembeca dengan menggunakan informasi dari bacaan dengan pengetahuan dan pengelaman yang relevan dengan informasi tersebut yang telah dimiliki sebelumnya oleh pembaca, (6) proses menghubungkan tulisan dengan bunyinya sesuai denga sistim tulisan yang digunakan, dan (7) kemampuan mengantisipasi makna terhadap baris-baris dalam tulisan.

Dari beberapa pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa membaca merupakan kegiatan yang melibatkan pisik dan psikis yang oleh Anderson disebut sebagai proses  recording dan decoding. Melalui recording, pembaca mengasosiasikan lambang-lambang bunyi beserta kombinasinya dengan bunyi-bunyi. Dengan proses itu rangkaian tulisan yang dibacanya menjilma menjadi rangkaian bunyi bahasa dalam kombinasi kata, kelompok kata, dan kalimat yang bermakna. Di samping lambang-lambang bunyi, pembaca juga mengamati tanda-tanda baca yang harus dikenalinya juga karena tada-tanda baca tersebut membantu pembaca memahami maksud dari baris-baris tulisan dalam proses decoding. Melalui proses decoding, gambar-gambar bunyi dan kombinasinya itu diidentifikasi, diuraikan, dan diberi makna. Proses decoding berlangsung dengan melibatkan knowlidge of the world dalam skemata yang merupakan hasil katagorisasi  sejumlah pengetahuan dan pengalaman yang tersimpan dalam gudang ingatan (Syafie, 1999).

Dalam proses membaca, pembaca yang baik selalu berupaya mengaktifkan skema yang telah dimilikinya yang berhubungan dengan teks. Pengaktifan dilakukan dengan mengaitkan tema, topik, judul, dan ilustrasi dengan pengetahuan awal atau skema. Skema seseorang merupakan gambaran pengetahuannya yang meliputi pengalaman langsung, pengalaman tak langsung, dan latihan-latihan (Rummelhart dalam Jalongo, 1992: 252).

Pernyataan-pernyataan yang terdapat dalam teks merupakan informasi bagi pembaca. Informasi yang diterima oleh pembaca dimasukkan ke dalam gudang pengharapan (expectations), kemudian dikodekan atau diubah ke dalam sistim memori individu. Seperangkat pengharapan tersebut akan memandu pengkodean informasi dan pencarian kembali informasi tersebut (Anderson dalam Spodek dan Saracho, 1994: 337).

Skemata adalah konsep-konsep, keyakinan, pemgharapan pembaca, dan proses-proses yang terdiri dari pengalaman-pengalaman yang digunakan untuk membentuk makna, benda, atau kegiatan. Dalam membaca, skemata berguna untuk membentuk makna teks, membangkitkan ingatan terhadap pengalaman pembaca, seperti halnya pengalaman masa lalu yang memiliki hubungan potensial dengan informasi tertentu (McNeil, 1992: 19). Sedangkan Rummelhart menjelaskan bahwa skemata merupakan bagian dari keseluruhan skema yang berhubungan dengan situasi atau hal tertentu (Jalongo, 1992: 252).

2 Level-level Pemahaman

Dalam membaca pemahaman diharapkan dapat diperoleh pemahaman pemahaman yang sebaik-baiknya mengenai isi apa yang dibaca. Herber dan Nelson dalam Eanes (1997) membagi level pemahaman menjadi tiga level, yakni level literal, interpretive, dan applied.

Pemahaman yang berlevel literal adalah  pemahaman yang berupa pemerolehan informasi sebagaimana yang dikemukakan oleh penulis dalam teks. Pembaca yang memperoleh pemahaman yang berlevel literal menerima informasi yang parsis sama dengan apa yang tertulis dalam teks. Level pemahaman semacam ini bermanfaat untuk mencapai level memahaman yang lebih tinggi.

Pemahaman yang berlevel interpretive adalah  pemahaman yang diperoleh melalui proses penapsiran-penapsiran terhadap gagasan-gagasan atau informasi yang terdapat dalam teks. Dengan kata lain pemahaman yang berlevel interpretive mengacu pada proses menentukan maksud dari apa yang tertulis dalam teks atau mengacu pada penemuan pesan implisit dari teks. Pemerolehan pemahaman ini mengharapkam pembaca agar melakukan analisis terhadap berbagai informasi dari pemahaman literal.

Pemahaman yang berlevel applied  adalah pemahaman yang diperoleh melalui proses sintesis dari berbagai gagasan dan informasi yang bersumber dari dalam teks dan dari luar teks. Dengan mengadakan sitesis tersebut pembaca sudah memperoleh simpulan dari apa yang dibaca. Agar diperoleh pemahaman ini pembaca dituntut untuk mengadakan pengombinasian antara informasi dari teks dan skemata pembaca.

3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Membaca

Ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap proses membaca. Faktor-faktor tersebut adalah faktor pembaca, faktor teks, dan faktor kontekstual.

a Faktor Pembaca

Pandangan interaktif menunjukkan adanya beberapa faktor yang mempengaruhi proses membaca yang meliputi pengetahuan latar, pengetahuan tentang membaca, dan motivasi-sikap membaca.

Pengetahuan latar pembaca dapat berupa pengetahuan tentang berbagai peristiwa, gagasan, atau benda-benda yang dikemukakan dalam bacaan. Pengetahuan tersebut berpengaruh terhadap makna yang dibentuk dari teks oleh pembaca. Pengetahuan  tentang membaca merupakan pemahaman pembaca terhadap proses membaca yang tercermin dalam dua hal. Pertama, melibatkan sifat dasar membaca, misalnya bertujuan, melibatkan faktor-faktor yang mempengaruhi proses membaca, dan memilih strategi tertentu dalam membaca. Kedua, melakukan tindakan-tindakan yang berbeda untuk tujuan-tujuan membaca yang berbeda, misalnya dalam membaca yang intensif dan ekstensif.

Pembaca yang terampil memiliki karakteristik sebagai berikut, (1) tahu akan tujuan membaca, yakni untuk memperoleh makna yang lebih dari apa yang tertulis dalam teks, (2) memahami bahwa membaca akan lebih mudah apabila tahu banyak dan tertarik terhadap topik bacaan, (3) paham terhadap berbagai faktor teks yang mempengaruhi kegiatan membaca, (4) tahu bahwa tugas-tugas yang diberikan oleh teks dapat mempengaruhi pemilihan strategi dan penggunaannya, (5) memiliki pengetahuan dan kemampuan menggunakan berbagai strategi membaca, dan (6) mampu mengatur dan memonitor aktivitas membacanya.

b Faktor Teks

Faktor-faktor teks berpengaruh kuat terhadap kuantitas maupun kualitas pemahaman pembaca terhadap isi teks. Oleh karena itu ada teks yang digambarkan sebagai teks yang baik dan ada pula teks yang jelek. Teks yang baik adalah teks yang memungkinkan pembaca dapat mengumpulkan informasi secara tepat dengan mudah atau dengan upaya minimal. Teks yang jelek digolonglkan sebagai teks yang pembacanya memerlukan usaha ekstra agar dapat menutupi kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam teks. Beberapa katagori berikut dapat digunakan untuk menentukan baik dan jeleknya suatu teks.

1) Tipe dan Pengorgasisasian

Pemahaman siswa terhadap kata-kata berubah-ubah akibat dari tipe dan/atau organisasi teks yang berbeda. Sebagai contoh, adanya kesalahan pengucapan yang berubah-ubah sesuai dengan teks yang dibacanya (cerita versus artikel informasional). Bagi kebanyakan anak, cerita lebih mudah dipahami daripada teks informasional. Demikian pula cerita yang tersusun lebih baik akan lebih mudah dipahami daripada cerita yang tersusun kurang baik.

2) Sifat Kebahasaan

Sifat kebahasaan mencakup penggunaan kata, sturktur kalimat, dan hubungan antarkalimat. Penggunaan unsur-unsur tersebut dengan baik dapat mempengaruhi prestasi yang dicapai dalam membaca. Sebagai contoh, teks yang sebagian besar kata-katanya berfrekuensi tinggi dalam pemakaian bahasa sehari-hari akan lebih mudah dipahami daripada teks yang kata-katanya berfrekuensi rendah.

3) Struktur Perwajahan

Struktur perwajahan teks meliputi apa yang digunakan oleh penulis atau editor untuk membantu pengorganisasian dan pemahaman pembaca, misalnya penonjolan bagian yang dianngap penting, penebalan huruf, adanya berbagai ilustrasi, diagram, berbagai aktivitas, dan pertanyaan-pertanyaan atau tugas pada akhir bab. Pemahaman akan meningkat apabila pernyataan gagasan utama dinampakkan sebagai hal yang penting dengan menggunakan bentuk huruf tertentu yang berbeda dengan yang lain. Sebaliknya, apabila struktur perwajahan teks terfokus pada informasi-infarmasi yang sepele, maka siswa akan secara aktual memperhatikan gagasan-gagasan yang sepele pula. Sebagai contoh, jika pertanyaan-pertanyaan atau tugas yang terkait dengan teks lebih terfokus pada pada detail-detail yang tidak signifikan, maka siswa akan lebih berkemungkinan mempelajari detail-detail tersebut daripada gagasan-gagasan yang penting dari teks.

c Faktor Kontekstual

Faktor kontekstual yang berpengaruh terhadap proses dan prestasi membaca meliputi (1) tujuan atau tugas yang terkait dengan bacaan, (2) setting membaca, dan (3) konteks pembelajaran.

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kekurangmampuan Membaca

Ada empat hal utama yang dianggap mempunyai hubungan dengan kurangnya prestasi membaca, yakni (1) perkembangan pisik, (2) perkembangan kognisi, (3) perkembangan bahasa, dan (4) perkembangan sosial dan emosional.

a. Kondisi Pisik

Perkembangan pisik yang dimaksud dalam hal ini antara lain perkembangan pendengaran, penglihatan, kesehatan secara umum, dan kematangannya. Ada bebrapa tipe gangguan pendengaran, misalnya sulit mendengarkan bunyi-bunyi tertentu dan ada pula gangguan yang menyebabkan kesulitan mendengarkan segala bunyi. Oleh karena kemampuan membaca didasari olek kemampuan mendengarkan dan berbicara, maka anak yang mengalami gangguan pendengaran akan kurang beruntung dalam belajar membaca.

Gangguan penglihatan ada bebrapa tipe. Rabun jauh atau rabun dekat akan menimbulkan gangguan yang serius dalam aktivitas membaca, apabila tidak segera ditanggulani dengan baik. Sebenarnya belum ada bukti yang cukup untuk membuat keputusan tentang korelasi antara problem ketajaman penglihatan, kurangnya koordinasi otot mata, dan kemampuan membaca.

b Perkembangan Kognisi

Perkembangan kognisi meliputi perkembangan dalam hal kemampuan memahami, memperhatikan, mengingat, intelegensi, dan kemampuan verbal. Beberapa faktor perkambangan kognisi berikut berpengaruh terhadap prestasi membaca.

1) Intelegensi

Intelegensi merupakan kemampuan menguasai perbendaharaan kata, hitungan, pemecahan masalah, dan konsep-konsep. Dengan intelegensinya, seseorang akan mampu menggunakan pengalamannya untuk mempelajari informasi baru dan menyesuaikan diri dengan situasi yang baru pula (dworetzky, 1990). Kemampuan yang mengidentifikasikan intelegensi yang tinggi antara lain kemampuan memperoleh penguasaan dengan cepat dalam belajar, kemampuan memecahkan masalah, dan kemampuan menggunakan pikiran dalam level yang tinggi. Banyak hasil penelitian yang menyatakan bahwa antara intelegensi dan prestasi membaca terdapat korelasi yang tinggi.

2) Kemampuan Memproses Informasi

Kemampuan meproses informasi dalam bentuk lisan maupun tertulis diasosiasikan dengan kemampuan memelajari dan memahami sesuatu. Kekuatan kemampuan tersebut dipengaruhi oleh perhatian, persepsi, dan daya ingat. Kemampuan dan kemauan memberikan perhatian terhadap stimuli tertentu merupakan faktor yang penting bagi keberhasilan dalam belajar. Dalam suatu teks bacaan atau lingkungan terdapat berbagai stimuli. Siswa yang tidak dapat memperhatikan bagian bacaan atau bagian tertentu dari suatu lingkungan yang berisi informasi esensial tidak akan dapat mempelajari atau mendapatkan keterampilan dan informasi baru (Lipson & Wixson, 1991).

c Perkembangan Bahasa

Dalam belajar bahasa, siswa mengembangkan kemampuannya untuk memahami dan memproduksi bahasa. Pengembangan tersebut meliputi belajar menyusun bahasa dan penggunaannya dalam berkomunikasi. Kemampuan berbahasa anak bervariasi. Pada umumnya anak yang memiliki kemampuan berbahasa yang baik yang diperoleh dari kebiasaan komunikasinya dengan menggunakan bahasa sehari-hari mereka. Anak yang kacau kemampuan berbahasanya atau perkembangan bahasanya belum sampai pada tingkat kebahasaan yang digunakan dalam bacaan dimungkinkan akan mengalami kesulitan dalam membaca. Salah satu faktor yang mungkin menyebabkan kegagalan siswa dalam belajarnya adalah kurangnya kemampuan siswa menggunakan bahasa yang digunakan dalam teks.

d Perkembangan Sosial dan Emosional

Siswa yang mengalami kesulitan menghadapi kebervariasian situasi sosial, baik dengan teman maupun dengan orang-orang dewasa dimungkinkan akan mengalami kesulitan akademis. Siawa yang mengalami problem sosial juga dimungkinkan akan mengalami kesulitan berkonsentrasi di sekolah atau berkonsentrasi dalam belajar. Kurangnya kemampuan berkonsentrasi tentu tentu akan berakibat negatif terhadap prestasi belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa problem sosial dan emosional memberikan kontribusi terhadap lebih kurang 25 % kasus ketidakmampuan membaca. Pada umumnya setiap pembaca yang lemah memiliki resiko gangguan psikologis. Meskipun  secara pasti belum dapat ditunjukkan adanya korelasi antara kelemahan membaca dan kesulitan emosional dan sosial, sebagian besar siswa yang mengalami kesulitan membaca memiliki problem sosial dan emosional (Lipson & Wixson, 1991).

5 Model-Model Membaca

Aktivitas membaca memerlukan dua hal penting, yakni mengenal kata-kata yang tertulis dan memahami apa yang ditulis. Banyak guru dan siswa yang beranggapan bahwa membaca adalah melakukan tindakan mengenali huruf, kata sambung, kata-kata, dan kalimat-kalimat. Anggapan semacam itu akan melahirkan bodel tertentu dalam membaca. Ada beberapa model membaca yang perlu dikenal. Di antaranya adalah model botto-up, top-down, dan model interaktif. Munculnya ketiga model tersebut dilatari oleh adanya pandangan bottom-up dan top-down terhadap proses membaca.

a. Model Membaca Bottom-up

Membaca dengan menggunakan model bottom-up adalah membaca yang dimulai dari pengenalan dan pemahaman terhadap apa yang terdapat dalam teks, kemudian dilakukan pengaitan antara isi teks dan pengetahuan atau pengalaman sehingga diperolehlah makna. Dari teks, pembaca mulai dapat mengenali dari unit-unit yang paling kecil sampai dengan yang paling besar. Dalam hal ini membaca dimulai dari mengenali huruf, bunyi, makna kata, kelompok kata, kalimat-kalimat, paragraf, dan  makna keseluruhan bacaan kemudian mengaitkannya dengan pengetahuan yang telah dimilikinya. Model membaca ini dilahirkan oleh pandangan bahwa membaca merupakan proses penglihatan, sedangkan makna sudah terdapat dalam teks (Lipson & Wixson, 1991: 7).

Model membaca bottom-up sangat cocok untuk pembaca yang baru pada tahap belajar membaca. Model  ini memiliki beberapa karakteristik, yakni (1) membaca dipandang sebagai peoses penglihatan, (2) makna terletak dalam teks, (3) berproses dari bagian-bagian yang terkecil (huruf dan bunyi) sampai dengan bagian yang terbesar (makna), dan (4) berangkat dari pendekatan skills-based ke pengajaran.

b. Model Membaca Top-down

Model top-down merupakan kebalikan dari model bottom-up. Model membaca bottom-up didasari oleh pandangan bahwa membaca merupakan proses penglihatan dengan makna yang sudah tersedia dalam teks. Sedangkan model membaca top-down didasari oleh pandangan bahwa membaca merupakan proses kebahasaan atau proses psikolinguistik dengan makna yang berada pada dan dibentuk oleh pembeca.

Membaca yang menggunakan model top-down dimulai dengan mengaktifkan skemata (pengetahuan dan pengalaman) yang telah dimilikinya untuk memprediksi makna, kemudian pembaca melakukan kegiatan membaca teks untuk mengkonfirmasi makna yang telah dibentuknya. Oleh karena itu membaca dengan model top-down dikatakan sebagai aktivitas yang dimulai dari unit yang terbesar (makna), kemudian menuju pada unit-unit yang lebih kecil (huruf dan bunyi). Model ini memiliki beberapa karakteristik, yakni (1) membaca dalah proses kebahasaan, (2) makna terdapat pada pembaca, (3) dimulai dari keseluruhan (makna hasil prediksi), kemudian menuju ke bagian-bagian, dan (4) berangkat dari pendekatan whole language.

c. Model Membaca Interaktif

Banyak peneliti yang berkesimpulan bahwa membaca tidak dapat dilakukan model bottom-up atau top-down secara murni, melainkan dilakukan secara interaktif antara model bottom-up dan top-down. Penggunaan kedua model tersebut terjadi secara simultan. Makna yang didapat oleh pembaca merupakan hasil interaksi antara pembaca dan teks.

Rumelhart dalam Lipson dan Wixson (1991) mengemukakan bahwa membaca merupakan proses interaktif antara teks dan pembaca. Hal itu menunjukkan bahwa pemrosesan teks berlangsung sangat fleksibel terhadap pengaruh informasi-informasi dari sumber lain yang telah dimiliki oleh pembaca. Model interaktif ini memperlihatkan bahwa (1) membaca merupakan proses kognitif, (2) makna merupakan hasil interaksi antara pembaca dan teks, dan (3) proses membaca dilakukan dari keseluruhan ke bagian-bagian dan dari bagian-bagian ke keseluruhan. Sebagai contoh, apabila ada kalimat yang tertulis “Saya melihat Taman Mini berkunjung ke Jakarta”, maka pembaca yang baik akan beranggapan bahwa kalimat tersebut salah cetak, karena tidak mungkin Taman Mini berkunjung ke Jakarta. Dengan dasar itu kemudian pembaca memprediksi atau memanipulasi bunyi kalimat yang sebenarnya.

6 Strategi Membaca

a. Strategi K-W-L

Strategi ini diciptakan oleh Ogle (1986) untuk membantu para guru agar dapat mengaktifkan pengetahuan latarnya (skematanya) dan meningkatkan kemenarikan topis dalam teks terhadap siswa. Strategi ini lebih tepat digunakan pada kelas V dan VI. Hal ini disebabkan oleh adanya kegiatan menginterpretasi makna yang terdapat dalam teks  dan penyusunan rangkuman hasil membaca yang berisi kombinasi antara isi bacaan dan skemata siswa. Kegiatan semacam itu akan lebih mudah dilaksanakan oleh anak yang perkembangan kognisinya telah sampai pada periode operasional formal, yakni antara siswa kelas V s.d. kelas VI. Dengan strategi ini  kegiatan pembelajaran  dibagi menajdi tiga tahapan:

Pertama, tahap K (What I Know). Pada tahap ini siswa diajak bercurah pendapat tentang tema, topik, judul, dan ilustrasi atau gambar-gambar yang terdapat dalam teks. Dengan aktivitas itu skemata pembaca menjadi aktif kembali, sehingga pemahaman akan lebih mudah dicapai oleh pembaca. Di samping itu guru juga mengaktifkan skemata siswa tentang bahasa yang digunakan dalam teks. Pengaktifan skemata bahasa dilakukan dengan mengangkat berbagai istilah, kata, frase, atau kalimat yang merupakan kunci dalam memahami isi yang terkandung dalam teks bacaan.

Kegiatan tahap K ini akan menghasilkan sebuah jaring laba-laba. Isi jaring laba-laba ini mencakup tema, topik-topik, sub-subtopik, serta beberapa detail dari subtopik yang dipandang perlu. Curah pendapat tidak perlu sampai pada semua detail dari setiap subtopik yang ada, karena akan terlalu banyak menyita waktu. Agar penyusunan jaring laba-laba berjalan lancar,guru perlu terlebih dahulu merancangnya secara lengkap dan luas sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran.

Kedua, tahap W (What I Want to learn). Pada tahap ini guru mengidentifikasi berbagai hal yang bagi siswa merupakan hal yang menarik, kurang dipahami, meragukan, atau menjadi silang pendapat. Dari hal-hal tersebut guru menyusun sejumlah pertanyaan yang merupakan tujuan dari kegiatan siswa membaca. Dari hasi beberapa kali penelitian, akan lebih praktis apabila sejumlah pertanyaan tersebut disusun sebelum pembelajaran, karena apabila disusun dalam pembelajaran akan menyita waktu yang lebih banyak. Apa bila ada tambahan pertanyaan, guru tinggal menambahkannya.

Dengan fase ini aktivitas membaca menjadi aktivitas yang bertujuan dan pikiran siswa akan lebih terfokus pada hal-hal yang hendak dicarinya dalam teks. Tanpa adanya tujuan yang hendak dicari, pikiran  siswa akan bias, sehingga sulit merekam informasi-informasi penting yang terdapat dalam teks. Tahap ini dapat juga dikatakan sebagai tahap untuk meningkatkan keingintahuan  siswa terhadap informasi-informasi yang akan disampaikan penulis melalui teks.

Ketiga, tahap L (What I Learned). Pada tahap ini  siswa dipersilakan membaca teks yang telah ditentukan sambil berpedoman pada sejumlah pertanyaan yang telah diterimanya. Siswa perlu dibimbing untuk dapat mengidentifikasi informasi penting yang terkait dengan sejumlah pertanyaan yang ada, misalnya dengan cara menggarisbawahi bagian-bagian yang dianggap penting. Guru juga perlu memberikan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan terhadap kata atau istilah yang digunakan dalam teks.

Kegiatan dilanjutkan dengan meminta siswa menyususun ringkasan isi bacaan. Apabila pertanyaan yang telah diterima siswa memuat permasalahan dalam bacaan secara detail, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah dapat dianggap sebagai ringkasan isi bacaan, asalkanjawaban disusun dengan kalimat yang lengkap.

Terhadap siswa yang kurang mampu menyusun kalimat dengan benar, guru perlu memberikan bantuan kepadanya dengan menggunakan teknik thinking aloud. Dengan teknik ini guru memberikan contoh dengan memperlihatkan proses penyusunan ringkasan mulai dari proses berpikir, proses penemuan permasalahan yang hendak ditulis, sampai dengan proses penyusunan kalimatnya.

b. Strategi D-R-A (Directed Reading Activity)

Strategi DRA atau Strategi Aktivitas Membaca Terbimbing disusun oleh Betts (1946). Strategi ini disusun untuk memberikan bimbingan dalam pembelajaran membaca dan lebih sesuai untuk kelas tinggi awal (kelas III dan VI), karena strategi ini tidak terlalu menuntut siswa untuk melakukan prediksi terhadap isi bacaan. Melalui strategi ini siswa  akan dihadapkan pada tiga tahapan, yaitu (1) tahap persiapan sebelum membaca, (2) pemberian bimbingan selama membaca dalam hati, dan  (3) pengecekan pemahaman dan keterampilan. Ketiga tahapan tersebut memperlihatkan kepada kita bahwa dalam strategi DRA ada tahap (1 )pramembaca, (2) membaca dalam hati, dan (3) tahap pascamembaca.

c. Strategi DR-TA (Directed–Reading–Thinking–Aktivity) 

Strategi DR-TA atau Strategi Membaca-Berpikir Terbimbing merupakan variasi dari strategi DRA. Strategi DR-TA memiliki beberapa kelebihan apabila dibandingkan dengan DRA. Pertama, memberikan bantuan dan kesempatan kepada siswa untuk membuat berbagai prediksi yang dapat digunakan sebagai tujuan membaca. Dengan berprediksi ini siswa berlatih berspekulasi. Prediksi terhadap bacaan fiksi dapat diarahkan pada kronologi peristiwa dalam cerita. Kedua, memberikan penekanan membaca sebagai proses berpikir melalui kegiatan memprediksi dan langkah-langkah selanjutnya. Ketiga, memberikan model bimbingan pemecahan masalah.

Melalui strategi ini siswa dituntut untuk dapat memberikan perdiksinya tentang kemungkinan-kemungkinan isi bacaan dengan memperhatikan judul, sub-subjudul, dan ilustrasi ayau gambar-gambar yang menyertai bacaan. Tentu, strategi ini lebih sesuai jika digunakan untuk pembelajaran membaca pemahaman di kelas V dan VI, mengingat pada umumnya siswa pada kelas-kelas  tersebut sudah berada pada perkembangan kognisi operasional formal.

Tahap-tahap yang terdapat dalam strategi DR-TA sama dengan tahapan yang terdapat pada strategi DRA. Tahapan tersebut adalah (1) tahap pramembaca, (2)  membaca dalam hati, dan (3) pascamembaca.

Kegiatan

  1. Susunlah rencana pembelajaran membaca pemahaman untuk kelas III atau kelas IV dengan menggunakan strategi DRA, kemudian implementasikan dalam simulasi pembelajaran.
  2. Susunlah rencana pembelajaran membaca pemahaman untuk kelas V atau kelas VI yang menggunakan strategi di bawah ini, kemudian implementasikan dalam simulasi pembelajaran.
    1. Strategi K-W-L
    2. Strategi DR-TA

Latihan

  1. Jelaskan pengertian membaca!
  2. Sebutkan dan jelaskan factor-faktor yang mempengaruhi membaca!
  3. Sebutkan dan jelaskan strategi-strategi pembelajaran membaca!


Modul 3

Pengajaran Berbicara di SD

1 Hubungan Kompetensi Berbicara dengan Kompetensi yang Lain

Berbicara merupakan salah satu dari empat aspek kompetensi berbahasa. Secara keseluruhan keempat aspek tersebut adalah menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Cox (1999) mengemukakan bahwa antara aspek yang satu dengan aspek yang lain terdapat saling keterkaitan. Kemampuan berbicara mendapatkan kontribusi penting dari tiga kompetensi lainnya.

Kontribusi yang diperoleh dari aktivitas menyimak, antara lain bunyi-bunyi ujaran, kosa kata, istilah, kaidah penggunaan bahasa lisan, berbagai informasi, dan lain-lainnya. Perolehan dari aktivitas menyimak itu sangat bermanfaat bagi peningkatan kemampuan berbicara.

Bunyi-bunyi ujaran yang diperoleh dari menyimak akan menjadi contoh (pajanan) bagi bayi (anak) yang baru belajar berbahasa. Dengan bunyi-bunyi itu anak akan menirukannya, kemudian menguasainya menjadi tuturan. Gangguan saraf pendengaran akan mengakibatkan terganggunya kemampuan berbicara. Sebagai contoh, anak yang tuli akan mengakibatkannya menjadi bisu. Pada umumnya anak yang bisu disebabkan oleh telinganya yang tuli.

Kemampuan berbicara mendapatkan kontribusi dari aktivitas membaca. Dari aktivitas membaca akan diperoleh berbagai gagasan dan pengetahuan yang dapat digunakan sebagai bahan untuk mengembangkan teks pidato atau percakapan tentang topic tertentu. Salah satu contohnya adalah guru yang akan menyamapaikan bahan ajar kepada siswanya perlu membaca berbagai sumber yang memadai, misalnya buku teks, buku-buku lain yang terkait, media cetak, dan media media elektronik (internet). Dengan berbagai sumber tersebut, isi pidato atau percakapan menjadi lebih berbobot.

Kemampuan berbicara, terutama berpidato memerlukan kemampuan menulis, khususnya bagi orator/penceramah pemula. Dalam hal ini uraian pidato perlu ditulis lebih dahulu, dibaca berulang-ulang, direvisi, dibaca ulang, dan diinternalisasi, sehingga isi pidato telah dikuasainya dengan baik. Penguasaan yang baik ini masih perlu didukung dengan teknik yang baik pula.

2 Berbagai Fenomena Pembicara di Depan Umum

Ada beberapa fenomena yang terjadi ketika seseorang menyampaikan pidatonya di depan umum, yaitu:

a. Berpusat pada Diri Sendiri

Fenomena ini sering terjadi pada pembicara pemula. Pada waktu penyampaian pidato, perhatian pembicara lebih terfokus pada hal-hal yang terkait dengan diri sendiri. Hal-hal tersebut. Misalnya penampilan diri, suara diri, kelancaran bicara, dan teknik yang digunakannya. Dalam hal ini sang pembicara terlalu sibuk dengan diri sendiri, yakni tentang bagaimana penampilan (gaya) yang digunakan, misalnya mencakup gerak dan sikap, suara dan irama yang digunakannya, pakaian yang sebaiknya dikenakannya, dan lain-lainnya. Pembicara yang masih menampakkan fenomena ini sering diliputi oleh perasaan takut berperilaku salah. Perasaan semacam itu akan memacu munculnya demam panggung atau rasa grogi.

b. Berpusat pada Pesan

Orator atau penceramah yang berpusat pada pesan lebih mengutamakan keutuhan pesan. Istilah yang digunakannya tetap dipertahankan keasliannya sesuai dengan sumbernya. Bahasa buku merupakn bahasa ilmuwan, sedangkan audiens sering bersifat awam terhadap bahasa buku. Sebagai contoh, ceramah ilmiah. Dalam ceramah ilmiah, penceramah tetap menggunakan bahasa ilmiah dan berbagai istilah teknis sesuai dengan bidang ilmunya, meskipun sebagian audiennya mengalami kesulitan untuk memahaminya. Seharusnyalah bahwa orator atau penceramah berfungsi sebagai jembatan penghubung antara sang ilmuwan dan audiens. Pidato yang berpusat pada pesan akan sulit dipahami oleh audiensnya.

c. Berpusat pada Pendengar

Pidato yang disampaikan disesuaikan dengan pembicaranya. Penyesuaian dilakukan dalam berbagai segi, misalnya bahasa, kedalam dan keluasan analisis materi, harapan, impian, dan gaya penyampaian. Sebagai contoh, seorang guru yang akan menyampaikan sebuah tema yang sama untuk tingkat kelas yang berbeda, tentu perlu dilakukan penyesuaian-penyesuaian, agar materi yang disampaikannya dapat dicerna oleh siswa. Demikian pula apabila tema tersebut disampaikan kepada masyarakat pedesaan, tentu perlu dilakukan penyesuaian, baik bahasa, fokus uraian, maupau gaya penyampaiannya.

3. Persiapan Pidato

Agar pidato dapat disampaikan dengan baik, diperlukan langkah-langkah persiapan sebagai berikut.

  1. Memilih Topik: Topik yang dipilih hendaknya merupakan masalah yang masih hangat, menyangkut kepentingan orang banyak, dan sesuatu yang masih controversial di masyarakat.
  2. Analisis Kreatif: Berusaha memahami topic, melakukan inkubasi (mengendapkan dan memikirkan sampai dengan ditemukannya pemecahan), iluminasi (penemuan kejelasan pengembangan materi pidato), verifikasi (pengecekan dengan cermat terhadap topic dan ide-ide pengembangnya), dan mendisiplinkan kreativitas (konsistensi ide-ide, merancang tenggat waktu penyelesaian penulisan dan penguasaan, serta melakukan secara disiplin penulisan disertai keyakinan bahwa inspirasi hanya bermanfaat 10%, sedangkan selebihnya adalah upaya keras).

4. Sifat-sifat Umum Pendengar Pidato

a. Kelompok kecil menghendaki gaya nonformal, misalnya gaya penyampaian tidak perlu retorika yang tinggi, penyampaian lebih bersifat dari hati ke hati, suara cukup nyaring untuk didengra oleh kelompok kecil, dan paparannya berisi problematika beserta upaya pemecahan secara rinci.

b. Kelompok besar sering menghendaki gaya formal. Pidato dalam kelompok besar diperlukan retorika yang tinggi. Dalam retorika yang tinggi, pidato sering disampaikan secara global, cakupan materinya luas, dan tidak rinci.

c. Tekanan dari kelompok kecil akan berpengaruh besar terhadap sebagian besar kelomlompok lain. Dalam pidato persuasive perlu diatur tentang adanya munculnya tanggapan positif dari kelompok-kelompok kecil untuk menggiring opinidan emosi masa yang lebih besar.

d. Sejumlah masa yang besar memiliki motivasi umum yang serupa, misalnya sejumlah besar guru, petani, buruh pabrik, dan lain-lainnya. 

5. Pengembangan Aktivitas Berbicara bagi Siswa

Kemampuan berbicara dapat dikembangkan dengan berbagai teknik. Farris (1993) mengemukakan bahwa aktivitas berbicara dapat dilakukan dengan teknik-teknik sebagai berikut.

a. Melihat-Berbicara

Rancangan kegiatan yang dilalui adalah:

1) milih objek yang akan diamati, misalnya taman sekolah

2) Mengidentifikasi bagian-bagian dari objek tersebut, misalnya rumpun-rumpun tumbuhan, lampu-lampu, rerumputan, jalan di taman, warna-warni bunga, dan sebagainya.

3) Bertanya jawab dan mengomentari bagian-bagian objek yang telah teridentifikasi sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman siswa dan guru.

Contoh: Taman Sekolah

Di sudut kanan taman sekolahku tumbuh serumpun pohon palem yang sangat subur. Ada yang besar dan diapit oleh tetumbuahan palem lainnya yang lebih kecil. Daun-daunnya segar menghijau. Daun yang satu dan lainnya nampak bertmpang tindih saling seolah berebit sinar mentari. Pucuk-pucuknya nampak lebih muda hijaunya. Di bawahnya nampak tertutup bebatuan kerikil berwarna-wawarni.

Dua runpun bogenvil tumbuh berjajar didepan kelasku. Satu rumpun berbuna merah nermekaran. Dahan dan rantingnya cukup lebat, namun tak begitu nampak karena tertutup oleh daun. Rumpun yang lain menampakkan bentuk yang lain pula. Daunnya berwarna putih dengan senburat kehijauan. Bunga berwarna ungu mekar di sekujur ujung-ujungnya. Kedua rumpum itu nanpak kontras, namun serasi.

Jauh di ujung kiri tumbuh pohon mangga. Lebat daunnya sedang-sedang saja, tetapi nampak hujau dan subur. Buahnya banyak, bergelantungan, dan bahkan ada beberapa yang kemerah-merahan. Beberapa bunga anggrek terpapmang di bagian bawah batangnya. ……………… Dst

b. Menyimak-Berbicara

Sesuatu yang pantas disimak bagi siswa antara lain nyanyian, pidato, cerita (oleh guru atau dari kaset), iklan, dan sebagainya. Kegiatannya dapat dirancang sebagai berikut.

1) Memilih bahan simak yang sesuai.

2) Melakukan curah pendapat tentang berbagai hal yang terkait dengan bahan simak.

3) Melakukan aktivitas menyimak.

4) Mengidentifikasi bagian-bagian bahan simak.

5) Memberikan komentar dan tanya jawab tentang

Kegiatan pengembangan aktivitas berbicara dengan teknik ini dapat dilakukan sebagaimana yang terjadi pada teknik melihat-berbicara di atas.

c. Membaca-Berbicara

Pada umumnya di sekolah banak terdapat bahan bacaan, baik bacaan fiksi maupun nonfiksi. Bacaan-bacaan yang tergolong fiksi antara lain cerpen, novel, cergam, puisi. Dan naskah drama. Bacaan yang tergolong non fiksi antara lain buku-buku teks, majalah, dan karya ilmiah (karya ilmiah popular). Kegiatannya dapat dirancang sebagai berikut.

1) Memilih bahan bacaan.

2) Membaca bahan bacaan terpilih.

3) Mengidentifikasi gagasan-gagasan utama bacaan.

4) Mengomentari dan mengulas kembalai secara lisan berbagai gagasan sesuai dengan pengalaman dan pengetahuannya (skematanya).

d. Beraktivitas-Berbicara

Cukup banyak aktivitas yang dapat dilakukan di sekolah yang dapat merangsang tumbuhnya aktivitas berbicara, misalnya menjaga kebersihan kelas/sekolah, berkebun, memasak, membuat minuman ringan/jus buah, dan lain-lainnya. Rancangan kegiatanna dapat disusun sebagaimana yang terdapat pada teknik-teknik yang telah dipaparkan di atas.

C. Latihan

1. Lakukanlah aktivitas berpidato (formal atau nonformal) yang didasarkan pada teks.

2. Laksanakan aktivitas berbicara yabf dikembangkan dengan teknik:

a. menyimak-berbicara

b. melihat-berbicara

c. membaca-berbicara

d. beraktivitas-berbicara


Modul 4

Pengajaran Menulis SD

1. Hubungan dan Kontribusi Kompetensi lain

Kemampuan menulis merupakan kemampuan yang sangat kompleks. Banyak kompetenti lain yang berkuntribusi terhadap kemampuan menulis. Kompetensi –kompetensi tersebut, antara lain (a) menyimak, (2) berbicara, (3) membaca, dan mengamati.

a. Hubungan dan Kontribusi Menyimak

Menyimak dapat diartikan sebagai aktivitas penggunaan alat pendengaran secara sengaja yang bertujuan untuk memperoleh pesan atau makna dari apa yang disimak (Rofiuddin, 1996/1997). Kompetensi menyimak berhubungan erat dengan kompetensi lainnya, tidak terkecuali kompetensi menulis. Dari aktivitas menyimak akan diperoleh berbagai masukan, misalnya tata bunyi, kosa kata, istilah, bentuk kata, tata frasa, tata kalimat, dan berbagai informasi. Oleh karena itu Apa yang diperoleh dari aktivitas menyimak dapat digunakan sebagai bahan tulisan (karangan).

b. Hubungan dan Kontribusi Membaca

Membaca merupakan aktivitas memahami pesan atau makna yang terdapat dalam bahan cetak (Spodek dan Saracho, 1993). Dari aktivitas membaca bisa diperoleh kosa kata, istilah, tata frasa, tata kalimat, dan pesan atau makna. Pembaca yang baik akan menyadari bahwa pesan ang dikandung oleh teks tidak hanya bersifat literal (tersurat) melainkan juga bersifat implicit (tersirat). Hasil membaca dari pembeca yang baik akan lebih luas dan dalam dari ada pembaca yang kurang baik.

c. Hubungan dan Kontribusi Berbicara

Antara aktivitas membaca dan menulis terdapat hubungan yang erat. Bagi pembicara pemula, apa yang akan diuraikan dalan ceramah atau pidatonya terlebih dahulu ditulisnya secara cermat dan rinci. Sebaliknya, seseorang akan lebih mudah menuliskan sesuatu yang pernah dibahas atau yang pernah dibicarakannya. Sebagai contoh, setiap kegiatan diskusi biasanya disertai pula kegiatan menyusun resume hasil diskusi. Resume tersebut tentu dikembangkan dari apa yang telah dibahas dalam diskusi.

d. Kontribusi Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan/observasi dapat digunakan sebagai sumber dan bahan tulisan. Apabila diperhatkan dengan cermat, tulisan di majalah dan koran banyak bersumber dari apa yang telah diamati oleh sang penulis, misalnya peristiwa alam, lalu lintas, tiknik pengobatan, benda-benda langka, dan sebagainya. Pengembangan tulisan dengan sumber hasil pemngamatan dapat dilakukan di sekolah, misalnya pengamatan terhadap benda-benda di lingkungan sekolah (taman bunga, halaman sekolah, dan lain-lainnya).

Contoh:

1) Nonfiksi:

Taman Sekolahku

Taman yang indah terletak di sebelah kiri halaman sekolahku. Pagarnya terbuat dari kayu dan papan. Tinggi pagar lebih kurang satu meter. Papan-papan dipotong melancip dipasang rapi bagaikan geruji-jeruji di sepanjang tepi taman. Catnya berwarna-warni, yaitu merah, hijau, kuning, dan biru. Warna-warna tersebut berselang-seling antara jeruji yang satu dengan jeruji yang lain.

Pintu pagar dibentuk sebagai gapura kecil… dst.

2) Puisi

Taman Sekolahku

pagar berjerajak dengan jeruji warna-warni

tinggi semampai

merah, hijau, kuning, biru, dan ungu

gapura kecil menhiasinya

nusa indah berwarna merah

bunga bermekaran mengundang pesona

siapa lihat jadi terpana. dst.

2. Proses Pengembangan Tulisan

Menulis bukanlah pekerjaan sekali jadi. Aktivitas ini memerlukan proses. Apabila proses yang dilaluinya benar dan dilaksanakan secara konsisten, hasil tulisan akan lebih baik. Cox (1999) mengemukakan bahwa menulis perlu dilakukan melalui proses sebagai berikut.

a. Pramenulis

Aktivitas yang dilakukan pada tahap ini antara lain mengingat kembali berbagai pengalaman, menemukan sumber-sumber penulisan, menemukan dan menyusun gagasan-gagasan (kerangka), menentukan jenis tulisan, mengenali calon pembaca, dan lain-lainnya.

b. Menulis Draf

Memulai menulis sengan berpedoman pada kerangka yang telah disusunnya, pada tahap ini kerangak yang telah jadi pun dapat diubah atau disesuaikan susunannya, apabila diperlukan. Hasil tulisan pada tahap ini masih merupakan draf atau tulisan yang masih memerlukan perbaikan-perbaikan.

c. Revisi

Pada tahap ini penulis melakukan revisi, baik dalam hal struktur kalimat, penggunaan kata/istilah, organisasi gagasan, dan penambahan maupun reduksi gagasan.

d. Mengedit

Pada tahap ini penulis tingal melakukan pembenahan dalam hal ukuran dan bentuk huruf, penataan bentuk kata, pengaturan gambar (apabila diperlukan), dan pengaturan kolom.

e. Publikasi

Publikasi hasil tulisan dapat dilakukan melalui penerbitan, majalah dinding, pembanaan di depan kelas.

3. Latihan

1. Jelaskan hubungan kompetensi menulis dengan kompetensi-kompetensi lain dalam bahasa!

2.  Kembangkan sebuah tulisan nonfiksi yang bersumber dari:

a. hasil menyimak

b. hasil pengamatan

c. hacil membaca

d. proses dan hasil aktivitas

3. Susunlah sebuah puisi yang merupakan deskripsi suatu benda, misalnya bunga!

 


Modul 5

Apresiasi Sastra Indonesia

1 Pengertian Puisi

Pada hakikatnya puisi adalah ungkapan bahasa yang terikat. Keterikatan itu meliputi paralelisme, metrum, rima, pola bunyi, dan sebagainya. Namun, batasan ini masih sangat abstrak dan tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman.

Berbagai pendekatan dilakukan untuk memberikan batasan puisi. Pendekatan yang sering digunakan adalah pendekatan perbandingan antara prosa dengan puisi, pendekatan didaktis, pendekatan emotif, pendekatan psikolinguistik, dan sebagainya. Slamet Mulyana misalnya, memberikan batasan puisi berdasarkan pendekatan psikolinguistik. Menurut Mulyana dalam Semi (1993:93) puisi adalah sintesis dari berbagai peristiwa bahasa yang telah tersaring semurni-murninya dan berbagai proses jiwa yang mencari hakikat pengalamannya, tersusun dengan sistem korespondensi dalam salah satu bentuk.

Herbert Read, seorang kritikus sastra Inggris, menggunakan pendekatan perbandingan antara prosa dengan puisi bertitik tolak pada bentuk organik puisi. Read mengemukakan, bahwa puisi lebih bersifat intuitif, imajinatif, dan sintetik jika dibandingkan dengan prosa yang lebih bersifat logika, konstruktif, dan analitik (Semi, 1993:94).

Sementara itu Altenbernd dalam Pradopo (1987:5) menyatakan, bahwa puisi adalah pendramaan pengalaman yang bersifat penafsiran (menafsirkan) dalam bahasa berirama (bermetrum). Namun, pengertian ini menurut Pradopo kurang tepat jika diterapkan dalam perpuisian di Indonesia, karena pada umumnya puisi Indonesia tidak terbentuk dari bahasa bermetrum.

2 Jenis Puisi

Dalam khasanah sastra Indonesia modern dikenal berbagai jenis puisi. Ditinjau dari periodisasi kelahiran puisi Indonesia, dikenal dua istilah, yaitu puisi lama dan puisi baru. Sering pula dikatakan adanya puisi tradisional dan puisi modern. Puisi tradisional misalnya: syair, gurindam, pantun, soneta, dan sebagainya. Sedangkan puisi modern lebih dikenal dengan jenis puisi bebas.

Dilihat dari segi gaya penulisannya, puisi dibagi atas dua jenis, yaitu puisi diaphaan (polos) dan puisi prismatis (membias). Puisi diaphaan adalah puisi yang menyatakan suatu maksud dengan sedikit sekali memakai lambang-lambang atau simbol-simbol. Kata-kata yang digunakan adalah kata-kata yang denotatif, yaitu kata-kata yang masih mendukung arti yang dikenal secara umum dalam pemakaian sehari-hari. Pada umumnya, puisi tradisional banyak yang dimasukkan ke dalam kategori puisi diaphaan. Misalnya pada puisi Gunawan Muhammad di bawah ini.

Di Beranda ini Angin Tidak Kedengaran Lagi

Di beranda ini angin tidak kedengaran lagi

Langit terlepas. Ruang menunggu malam hari

Kau berkata; Pergilah sebelum malam tiba

Kudengar hari tahu ke mana lagi akan tiba

 

Di piano bernyanyi baris dari Rubayat

Di luar detik dan kereta telah berangkat

Sebelum bait pertama, sebelum selesai kata

Sebelum hari tahu ke mana lagi akan tiba

 

Aku pun tahu: sepi kita semula

Bersiaplah kecewa, bersedih tanpa kata-kata

Pohon-pohon pun berbagi dingin di luar jendela

Mengekalkan yang esok mungkin tak ada

 

Sedangkan puisi prismatis adalah puisi yang di setiap pengungkapan katanya disertai dengan lambang-lambang atau simbol-simbol, kiasan-kiasan, dan dengan kalimat yang tidak langsung menyatakan suatu maksud. Kata-kata yang dipakai pada umumnya adalah kata-kata konotatif. Lihat puisi Pusat karya Toto Sudarto Bachtiar di bawah ini.

Pusat

 

Serasa hidup yang terbaring mati

Memandang musim yang mengandung luka

Suara apa kisah sebuah dunia berhenti

Padaku, tanpa bicara

 

Diri mengeras dalam kehidupan

Kehidupan mengeras dalam diri

Dataran pandang meluaskan padang senja

Hidupku dalam tiupan usia

 

Tinggal seluruh hidup tersehat

Dalam tangan dan jari-jari ini

Kata-kata yang bersayap bisa menari

Kata-kata yang berjuang tak mau mati

 

3 Unsur-Unsur yang Membangun Puisi

Menurut Marjorie Boulton (1979), unsur yang membangun puisi dibagi menjadi dua bagian, yaitu bentuk fisik dan bentuk mental. Bentuk fisik terdiri atas nada, larik puisi, irama, sajak, intonasi, enjambemen, pengulangan, dan perangkat kebahasaan lainnya. Sedangkan bentuk mental sebuah puisi terdiri atas tema, urutan logis, pola asosiasi, satuan arti yang dilambangkan, dan pola-pola citra dan emosi.

Bentuk fisik dan mental sebuah puisi pada dasarnya dapat dilihat sebagai satu kesatuan dalam tiga lapisan. Ketiga lapisan tersebut adalah (a) lapisan bunyi, (b) lapisan arti, dan (c) lapisan tema.

Lapisan bunyi yaitu lapisan lambang-lambang bahasa sastra. Lapisan ini dinamakan bentuk fisik puisi. Lapisan arti yaitu sejumlah arti yang dilambangkan oleh struktur atau lapisan permukaan yang terdiri atas lapisan bunyi bahasa. Lapisan tema yaitu suatu “dunia” pengucapan karya sastra, sesuatu yang menjadi tujuan penyair, atau sesuatu efek tertentu yang didambakan penyair. Lapisan arti dan tema inilah yang dapat dianggap sebagai bentuk mental sebuah puisi.

Apabila berbicara mengenai bunyi dalam sebuah puisi, maka pemahaman istilah yang harus diperdalam adalah pemahaman terhadap rima, irama, dan ragam bunyi.

Rima, mengandung berbagai aspek, meliputi asonansi atau runtun vokal, aliterasi atau purwakanti, rima akhir, rima dalam, rima rupa, rima identik, dan rima sempurna. Irama, yakni paduan bunyi yang menimbulkan unsur musikalitas, baik berupa alunan keras-lunak, tinggi-rendah, panjang-pendek, dan kuat-lemah yang keseluruhannya mampu menumbuhkan kemerduan, kesan suasana serta nuansa makna tertentu. Timbulnya irama disebabkan aksentuasi dan intonasi serta tempo sewaktu melaksanakan pembacaan secara oral. Ragam bunyi meliputi euphony, cacopony, dan onomatope.

Sesungguhnya, ketiga lapisan tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Ketiganya memiliki hubungan yang erat dan saling melengkapi. Sebagai satu totalitas amatlah sulit membicarakan unsurnya satu persatu, kecuali untuk kepentingan analisis akademik, pembicaraan bagian per bagian dapat dilakukan dengan cara yang sangat hati-hati.

4 Diksi

Diksi berarti pemilihan kata. Pemilihan kata dan pemanfaatan kata merupakan aspek yang utama dalam dunia puisi, sehingga penyair dalam membuat puisi akan memilih kata yang cocok untuk mengungkapkan suatu kejadian atau perasaannya. Oleh karena itu, dalam memilih kata, perlu diketahui makna kata yang sebenarnya. Dalam istilah sastra ada kata yang berjiwa, yaitu kata yang dapat membawa suasana tertentu bagi penyair maupun bagi pembacanya. Pengetahuan tentang kata berjiwa ini disebut stilistika. Sedangkan pengetahuan tentang kata-kata sebagai satu kesatuan yang satu lepas dari yang lain disebut leksikografi. Setiap penyair memiliki cita rasa tersendiri dalam memilih kata.

Perhatikan puisi di bawah ini:

Penerimaan


Kalau kau mau kuterima kau kembali

Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi

Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kembali

Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin engkau enggan berbagi

(Chairil Anwar)

 

Pilihan kata yang dilakukan oleh penyair begitu cermat dan memikat. Penyair menggambarkan perasaan cintanya kepada seseorang melalui kata-kata yang benar-benar mampu mewakili perasaannya. Misalnya, dengan memilih bak kembang sari sudah terbagi, penyair menggambarkan seseorang yang sudah berbeda dengan dulu. Cita rasa puisi di atas juga dapat dilihat pada bait akhir puisi tersebut yaitu Sedang dengan cermin engkau enggan berbagi.  Di sini pembaca akan dihadapkan pada bentuk interpretasi yang mungkin berbeda antara pembaca yang satu dengan pembaca yang lain.

Diksi atau pilihan kata yang dilakukan oleh penyair sesungguhnya merupakan salah satu kekuatan dari sebuah puisi. Penyair akan melakukan pilihan kata sesuai dengan karakter puisinya. Diksi dalam puisi protes tentunya akan berbeda dengan diksi dalam puisi cinta. Perbedaan itu dapat dilihat dari istilah yang digunakan, misalnya kata-kata yang keras dan kata-kata yang lembut.

5 Kepuitisan

Puisi yang dibuat oleh penyair diharapkan akan mampu memberikan efek perasaan tertentu bagi pembacanya. Efek yang dimaksudkan di sini bukan sekadar bunyi bahasa yang indah, diksi yang menyenangkan, bahasa yang segar, namun lebih dari itu, efek itu mencakup keseluruhan bagian puisi tersebut, yaitu aspek fisik dan aspek mental puisi. Dengan bahasa yang indah dan tema yang manusiawi, puisi-puisi itu akan dapat diterima oleh masyarakat pembacanya secara terus menerus. Puisi-puisi Amir Hamzah, Chairil Anwar, Rendra, Emha Ainun Najib, dan sebagainya merupakan puisi-puisi yang memiliki syarat seperti di atas.

Kepuitisan merupakan sifat puisi, sehingga puisi dapat diterima oleh pembaca paling tidak harus memiliki ciri: (a) adanya keaslian, (b) kejelasan, (c) memukau, (d) sugestif, (e) cara berpikir yang runtut dan bercerita yang menarik.

Orisinalitas atau keaslian sebuah puisi akan menempatkan penyair dalam konteks yang dihargai. Ini berarti, penyair harus selalu menciptakan kebaruan-kebaruan dalam puisinya, baik dalam hal isi maupun dalam hal bentuknya. Seorang penyair yang melakukan tindakan plagiat (disengaja maupun tidak) akan dikucilkan dalam masyarakatnya. Oleh karena itu, keaslian sangat penting artinya bagi sebuah puisi. Adakalanya karya  seorang penyair memiliki kemiripan dengan karya penyair yang lain. Ini mungkin terjadi karena adanya pengaruh bahan bacaan penyair tersebut, sehingga secara tidak sadar penyair memilih kata yang sama atau hampir sama. Sepanjang hal ini tidak disengaja dan tingkat kemiripan itu tidak dominan masih dapat diterima. Akan tetapi apabila tingkat kemiripannya sangat banyak, maka ini perlu dipertanyakan.

Kejelasan sebuah puisi akan memberikan pemahaman pembaca secara cepat. Ketidakjelasan atau kekaburan pengungkapan akan dapat mengaburkan makna puisi secara utuh. Kejelasan itu dapat dilakukan dengan cara pemilihan kata yang tepat, perbandingan perumpamaan, metafora-metafora yang tepat, pemanfaatan bunyi yang evokatif dan hiasan-hiasan bunyi, dan adanya kesatuan imaji. Disiplin kesadaran puitik akan mampu menciptakan suasana kepuitisan bagi seorang penyair dalam menciptakan karyanya.

Sebuah puisi haruslah memukau dalam konteks pertunjukan pembacaan puisi maupun ketika puisi itu dalam bentuk teks. Di samping itu, puisi haruslah dapat menyenangkan perasaan dan memiliki daya tarik yang hebat. Untuk dapat memukau puisi, penyair bisa melakukan permainan bunyi, artinya puisi itu memiliki emphony (bunyi indah), persajakan, dan irama (ritme dan metrum). Pemanfaatan gaya bahasa yang tidak sebagaimana lazimnya akan dapat membuat puisi itu terasa berbeda dengan karya sastra yang lain. Selain itu, enjambemen atau penyusunan larik-larik puisi harus dilakukan sedemikian rupa sehingga antara satu bagian dengan bagian yang lain terkait dengan baik.

Puisi itu harus sugestif, yaitu dapat menimbulkan pembayangan atau asosiasi yang beruntun sehingga menggiring pembaca kepada situasi yang asyik dan menimbulkan dorongan untuk membacanya secara tuntas. Puisi (prosa lirik) yang ditulis oleh Linus Suryadi AG yang berjudul Pengakuan Pariyem, misalnya memberikan sugesti yang sangat kuat karena dari awal sudah dibangun sugesti-sugesti hingga pada akhir “ceritanya”. Contoh puisi lainnya adalah Mencari Bapa karya Rendra.

Yang harus dimiliki oleh penyair adalah cara berpikir runtut dan bercerita yang menarik. Sebuah puisi yang ditulis tanpa menghiraukan keruntutan berpikir akan menghilangkan nilai kepuitisannya. Jika puisi sudah kehilangan nilai kepuitisannya, maka puisi itu akan sangat hambar, tidak berjiwa, dan seperti teks-teks pidato.

6 Kegiatan

Diskusi Kelompok

1. Analisislah puisi Chairil Anwar berjudul Penerimaan berdasarkan: lapisan bunyi, lapisan arti, dan lapisan makna!

2. Jelaskan pula beberapa diksi puisi tersebut!

7 Latihan

1. Jelaskan pengertian puisi berdasarkan pemahaman saudara!

2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan lapisan bunyi, lapisan arti, dan lapisan tema dalam puisi! Berilah contoh!

3. Bandingkan puisi diaphaan dan puisi prismatis! Berilah contoh!

4. Jelaskan mengapa diksi sangat penting bagi sebuah puisi! Berilah contoh!


DAFTAR PUSTAKA

 

Aminuddin.1991. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru.

Anderson, S.P. 1972. Language Skill in Elementry Education. New York: McMillan.

Arifi, E.Z. 1990. Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Surat Dinas. Jakarta: PT Media Tama Sarana Perkasa.

Burns,C.P. Betty, R.D. & Elinor, R.P. Reading in Todays Elementry Scools. Boston: Houghton Mifflin Company.

Cullinan, B.E. 1989. Literature and the Child. San Diego: Harcourt Brace Jovanovich, Inc.

Depdikbud. 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Downing, J. & Leong, K.C. 1982. Psychologi Design of Reading. New York: McMillan Publishing, Inc.

Eanes, R. 1997. Content Area Literasy: Teaching for Today and Tomorrow. New York: Delmar Publishers

Farris, P.J. 1993. Language Arts: A Proces Approach. Iowa. Brown & Benchmark Publishers.

Hartoko, Dick. 1986. Pemandu di Dunia Sastra. Jogjakarta: Kanisius.

Jalongo, R.M. 1992. Early Childhood Language Arts. Boston: Allyn & Bacon.

Lipson, M.Y. & Wixson, K.K. Assessment and Instruction of Reading Disability: An Interactive Approach. New York: Harper Colins Publishers, Inc.

Mason, J.M. 1989. Reading and Writing Connctions. Boston: Allyn and Bacon.

McNeil, J.P. 1992. Reading Comprehension. Los Angeles: Harper Colins Publishers.

Pradopo, Rachmad Djoko.1989. Pengkajian Puisi. Jogjakarta: Gajah Mada University Press.

Selden, Raman. 1985. A Reader Guide to Contemporary Literary Theory. Harvester “ Wheatsheaf.

Semi, Atar. 1993. Anatomi Sastra. Padang. Angkasa Raya.

Situmorang, B.P. 1980. Puisi dan Metodologi Pengajarannya. Ende: Nusa Indah.

Soedjito. 1986. Kalimat Efektif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Spodek, B. & Saracho, N.O. 1984. Right from the Start: Teaching Children Ages Three to Eight. Boston: Allyn and Bacon.

Syafie, Imam. 1999. Pembelajaran Membaca di Kelas-kelas Awal. Malang: Universitas Negeri Malang.

Teeuw, A. 1985. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya

Tompkins, E.G. 1991. Language Arts: Content and Teaching Strategies. New York: McMillan International Publishing Group.

Wellek, Rene & Austin Warren. 1956. Theory of Literature. New York: A Harvest Book Barout Brace & World Inc.

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF

Filed under: Uncategorized — September 27, 2008 @ 4:19 am

A.    Tujuan:

·         Mendeskripsikan beberapa model pembelajaran yang dapat diterapkan pada pembelajaran di kelas.

·         Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan langkah-langkah pembelajaran yang menerapkan model pembelajaran tertentu.

·         Menerapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan model pembelajaran tertentu pada pembelajaran nyata baik dengan dengan teman sejawat (peer teaching)maupun pembelajaran pada siswa di kelas (real teaching)

 

B.     Materi

Pendahuluan

Diberlakukannya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) menuntut para guru untuk menyelenggarakan pembelajaran yang bervariasi di kelas. Hal ini dapat tercipta jika para guru menguasai beberapa model pembelajaran baik secara teoritis maupun dari segi praktis. Adanya pembelajaran yang bervariasi diharapkan dapat lebih membangkitkan semangat dan aktivitas siswa dalam belajar, supaya kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum dapat dicapai oleh siswa.

      Pada modul ini akan diberikan uraian singkat tentang beberapa model-model pembelajaran yang dapat diterapkan pada pembelajaran di kelas. Model-model pembelajaran tersebut meliputi Pengajaran Langsung (DI= Direct Instruction), Pembelajaran Kooperatif (cooperative learning) dan Pengajaran Berdasarkan Masalah (PBI=Problem Base Instruction) serta inkuiri atau belajar melalui penemuan.

      Pada modul ini juga diberikan contoh-contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang menerapkan keempat model pembelajaran tersebut di atas. Hal ini dimaksudkan untuk memberi contoh kepada para guru dalam mengembangkan RPP di sekolah masing-masing dengan menerapkan model pembelajaran tertentu.

 

Pengajaran Langsung

      Pengajaran langsung banyak diilhami oleh teori belajar sosial yang juga sering disebut belajar melalui observasi. Dalam bukunya Arends menyebutnya sebagai teori pemodelan tingkah laku. Tokoh lain yang menyumbang dasar pengembangan model pengajaran langsung John Dolard dan Neal Miller serta Albert Bandura yang mempercayai bahwa sebagian besar manusia belajar melalui pengamatan secara selektif dan mengingat tingkah laku orang lain.

      Pemikiran mendasar dari model pengajaran langsung adalah bahwa siswa belajar dengan mengamati secara selektif, mengingat dan menirukan tingkah laku gurunya. Atas dasar pemikirian tersebut hal penting yang harus diingat dalam menerapkan model pengajaran langsung adalah menghindari menyampaikan pengetahuan yang terlalu kompleks.

      Para pakar pada umumnya membedakan pengetahuan menjadi dua yaitu, pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Pengetahuan deklaratif adalah pengetahuan tentang sesuatu. Sedangkan pengetahuan prosedural adalah pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu. Supaya ungkapan tentang pengetahuan deklaratif dan prosedural lebih jelas marilah kita amati sebuah neraca. Neraca apapun pasti tersusun atas bagian-bagian yang menyusunnya. Bagian-bagian tersebut meliputi dasar atau kaki neraca, lengan neraca, piring neraca dan bagian-bagian lain. Masing-masing bagian tersebut mempunyiai fungsi tertentu, yang pada akhirnya mendukung fungsi neraca tersebut. Pengetahuan tentang bagian-bagian neraca dan fungsi masing-masing bagian tersebut merupakan pengetahuan deklaratif.

      Neraca digunakan dengan prosedur atau langkah-langkah yang tepat, supaya memberikan hasil yang akurat. Pada langkah awal menggunakan neraca kita harus ”mengenolkan” neraca tersebut, atau menyeimbangkan lengan neraca secara tepat. Langkah selanjutnya adalah meletakkan anak timbangan yang massanya kita prediksi hampir sama dengan massa benda yang kita timbang. Selanjutnya kita meletakkan benda dan menemukan massa benda yang kita timbang tersebut. Langka-langkah dalam menggunakan neraca tersebut merupakan pengetahuan prosedural. Dalam menerapkan model pengajaran langsung hendaknya kita menyederhanakan baik pengetahuan deklaratif maupun pengetahuan prosedural yang akan kita sampaikan kepada siswa.

      Pengajaran langsung dicirikan oleh sintaks tertentu. Pada Tabel 1 berikut ini akan diberikan sintaks model pengajaran langsung dan peran yang dijalankan oleh guru pada tiap-tiap sintaks

Tabel 1. Sintaks Model Pengajaran Langsung

 

Fase

Peran Guru

1. Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa.

Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar.

2. Mendemonstrasikan keterampilan (pengetahuan prosedural) atau mempresentasikan pengetahuan (deklaratif)

Guru mendemonstrasikan keterampilan dengan benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap.

3. Membimbing pelatihan

Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan

4. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik

Guru mengecek apakah  siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik, memberi umpan balik.

5. memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan

Guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari.

 

      Demikianlah uraian singkat tentang pengajaran langsung yang cocok untuk diterapkan dalam mengajarkan prosedur kerja tertentu, langkah-langkah penggunaan alat tertentu atau materi-materi pelajaran yang sederhana dan tidak terlalu kompleks.

 

Pembelajaran Kooperatif

      Pakar-pakar yang memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan model pembelajaran kooperatif adalah John Dewey dan Herbert Thelan. Menurut Dewey kelas seharusnya merupakan cerminan masyarakat yang lebih besar. Thelan telah mengembangkan prosedur yang tepat untuk membantu para siswa bekerja secara berkelompok. Tokoh lain adalah ahli sosiologi Gordon Alport yang mengingatkan kerja sama dan bekerja dalam kelompok akan memberikan hasil lebih baik. Shlomo Sharan mengilhami peminat model pembelajaran kooperatif untuk membuat setting kelas dan proses pengajaran yang memenuhi tiga kondisi yaitu (a) adanya kontak langsung, (b) sama-sama berperan serta dalam kerja kelompok dan (c) adanya persetujuan antar anggota dalam kelompok tentang setting kooperatif tersebut.

      Hal yang penting dala model pembelajaran kooperatif adalah bahwa siswa dapat belajar dengan cara bekerja sama dengan teman. Bahwa teman yang lebih mampu dapat menolong teman yang lemah. Dan setiap anggota kelompok tetap memberi sumbangan pada prestasi kelompok. Para siswa juga mendapat kesempatan untuk bersosialisasi.

      Terdapat beberapa tipe model pembelajaran kooperatif seperti tipe STAD (Student Teams Achievement Division), tipe jigsaw dan investigasi kelompok dan pendekatan struktural. Keempat tipe tersebut mempunyai perbandingan seperti pada Tabel 2 berikut ini.

 

Tabel 2. Perbandingan Empat Pendekatan dalam Pembelajaran Kooperatif

 

Aspek

Tipe STAD

Tipe Jigsaw

Investigasi Kelompok

Pendekatan Struktural

Tujuan kognitif

Informasi akademik sederhana

Informasi akademik sederhana

Informasi akademik tingkat tinggi dan keterampilan inkuiri

Informasi akademik sederhana

Tujuan sosial

Kerja kelompok dan kerja sama

Kerja kelompok dan kerja sama

Kerjasama dalam kelompok kompleks

Keterampilan kelompok an keterampilan sosial

Struktur tim

Kelompok heterogen dengan 4-5 orang anggota

Kelompok belajar heterogen dengan 5-6 orang anggota menggunakan pola kelompok ”asal” dan kelompok ”ahli”

Kelompok belajar dengan 5-6 anggota heterogen

Bervariasi, berdua, bertiga, kelompok dengan 4-6 anngota.

Pemilihan topik pelajaran

Biasanya guru

Biasanya guru

Biasanya siswa

Biasanya guru

Tugas Utama

Siswa dapat menggunakan lembar kegiatan dan saling membantu untuk menuntaskan materi belajarnya

Siswa mempelajari materi dalam kelompok” ahli” kemudian membantu anggota kelompok asal mempelajari materi itu

Siswa menyelesaikan inkuiri kompleks

Siswa mengerjakan tugas-tugas yang diberikan sosial dan kognitif

Penilaian

Tes mingguan

Bervariasi dapat berupa tes mingguan

Menyelesaikan proyek dan menulis laporan, dapat menggunakan tes essay

Bervariasi

Pengakuan

Lembar pengetahuan dan publikasi lain

Publikasi lain

Lembar pengetahuan dan publikasi lain

Bervariasi

 

      Model pembelajaran kooperatif mempunyai sintaks tertentu yang merupakan ciri khususnya. Tabel 3 berikut ini adalah sintaks model pembelajaran kooperatif dan tingkah laku guru pada setiap sintaks.

 

Tabel 3. Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif

 

Fase

Tingkah Laku Guru

Fase 1

Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.

Fase 2

Menyajikan informasi

Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.

Fase 3

Mengorganisasi siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.

Fase 4

Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.

Fase 5
Evaluasi

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.

Fase 6

Memberikan penghargaan

Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

 

Demikianlah uraian singkat tentang model pembelajaran kooperatif yang sangat cocok untuk memberi bekal kepada siswa trampil hidup bermasyarakat.

 

Pengajaran Berdasarkan Masalah

      Model pengajaran berdasarkan masalah lebih kompleks dibandingkan dua model yang telah diuraikan sebelumnya. Model pengajaran berdasarkan masalah mempunyai ciri umum yaitu menyajikan kepada siswa tentang masalah yang autentik dan bermakna yang akan memberi kemudahan kepada para siswa untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri. Model ini juga mempunyai beberapa ciri khusus yaitu adanya pengajuan pertanyaan atau masalah, berfokus pada keterkaitan antar disiplin ilmu, penyelidikan autentik, menghasilkan produk/karya dan memamerkan produk tersebut serta adanya kerja sama. Masalah autentik adalah masalah yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari dan bermanfaat langsung jika ditemukan penyelesaiannya. Sebagai contoh masalah autentik adalah ”bagaimanakah kita dapat memperbanyak bibit bunga mawar dalam waktu yang singkat supaya dapat memenuhi permintaan pasar” Apabila pemecahan terhadap masalah ini ditemukan, maka akan memberikan keuntungan secara ekonomis. Masalah seperti ”bagaimanakah kandungan klorofil daun pada tumbuhan-tumbuhan yang tumbuh pada tempat yang tingkat intensitas cahanyanya berbeda” merupakan masalah akademis yang apabila ditemukan jawabannya belum dapat memberi manfaat praktis secara langsung.

      Apabila anda melihat seekor ikan yang berenang di akuarium, maka apakah masalah autentik dan masalah akademik yang dapat dirumuskan dari pengamatan ikan tersebut. Masalah autentik yang muncul dapat meliputi, bagaimanakah komposisi ransum pakan ikan supaya menghasilkan pertumbuhan badan ikan yang maksimal, atau bagaimanakah ransum pakan yang menghasilkan warna tubuh ikan yang lebih cerah sehingga ikan tersebut lebih mahal jika dijual. Adapun masalah akademik yang muncul meliputi bagaimanakah pengaruh suhu air terhadap kecepatan membuka dan menutupnya insang pada ikan, bagaimanakah pengaruh adanya zat polutan terhadap kecepatan motilitas ikan dan masalah-masalah lain yang tidak langsung bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.

      Masalah autentik juga sangat menarik minat siswa sebagai subyek belajar, karena terkait dengan kehidupan mereka sehari-hari dan bermanfaat bagi dirinya. Dengan mengangkat masalah-masalah autentik ke dalam kelas, maka pembelajaran akan lebih bermakna.

      Adapun landasan teoritik dan empirik model pengajaran berdasarkan masalah adalah gagasan dan ide-ide para ahli seperti Dewey dengan kelas demokratisnya, Piaget yang berpendapat bahwa adanya rasa ingin tahu pada anak akan memotivasi anak untuk secara aktif membangun tampilan dala otak mereka tentang lingkungan yang mereka hayati, Vygotsky yang merupakan tokoh dalam pengembangan konsep konstruktivisme yang merupakan konsep yang dianut dalam model pengajaran berdasarkan masalah.

      Model pengajaran berdasarkan masalah juga mempunyai sintaks tertentu yang merupakan ciri khas dari model ini. Tabel 4 berikut ini adalah sintaks model pengajaran berdasarkan masalah dan tingkah laku guru pada setiap tahap sintak.

 

Tabel 4. Sintaks Model Pengajaran Berdasarkan Masalah

 

Tahap

Tingkah Laku Guru

Tahap 1

Orientasi siswa kepada masalah

Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa untuk terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya.

Tahap 2

Mengorganisasi siswa untuk belajar

Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasi tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.

Tahap 3

Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok

Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.

Tahap 4

Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.

Tahap 5

Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.

 

Demikianlah sekilas tentang model pengajaran berdasarkan masalah yang sangat cocok diterapkan ada siswa kelas tinggi atau siswa yang bekal pengetahuan prasyaratnya sudah cukup.

 

Inkuiri atau Belajar Melalui Penemuan

      Para siswa dapat belajar menggunakan cara berpikir dan cara bekerja para ilmuwan dalam menemukan sesuatu. Tokoh-tokoh dalam belajar melalui penemuan ini antara lain adalah Bruner, yang merupakan pelopor pembelajaran penemuan. Pembelajaran penemuan merupakan suatu model pengajaran yang menekankan pentingnya membantu siswa memahami struktur atau ide kunci dari suatu disiplin ilmu, perlunya siswa aktif terlibat dalam proses pembelajaran, dan suatu keyakinan bahwa pembelajaran yang sebenarnya akan terjadi melalui penemuan pribadi. Tokoh lain adalah Richard Suchman yang mengembangkan suatu pendekatan yang disebut latihan inkuiri. Dengan pengajaran ini guru menyajikan kepada siswa suatu teka-teki atau kejadian-kejadian yang menimbulkan konflik kognitif dan rasa ingin tahu siswa sehingga merangsang mereka melakukan penyelidikan.

      Sintaks belajar melalui penemuan tidak jauh berbeda dengan langkah-langkah kerja ilmiah yang ditempuh oleh para ilmuwan dalam menemukan sesuatu. Tabel 5 berikut ini adalah sintaks dan tingkah laku guru dalam model belajar melalui penemuan.

 

Tabel 5 Sintaks Model Belajar Melalui Penemuan

 

Tahap

Tingkah Laku Guru

Tahap 1

Observasi untuk menemukan masalah

Guru menyajikan kejadian-kejadian atau fenomena yang memungkinkan siswa menemukan masalah.

Tahap 2

Merumuskan masalah

Guru membimbing siswa merumuskan masalah penelitian berdasarkan kejadian dan fenomena yang disajikannya.

Tahap 3

Mengajukan hipotesis

Guru membimbing siswa untuk mengajukan hipotesis terhadap masalah yang telah dirumuskannya.

Tahap 4

Merencanakan pemecahan masalah (melalui eksperimen atau cara lain)

Guru membimbing siswa untuk merencanakan pemecahan masalah, membantu menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dan menyusun prosedur kerja yang tepat.

Tahap 5

Melaksanakan eksperimen (atau cara pemecahan masalah yang lain)

Selama siswa bekerja guru membimbing dan memfasilitasi.

Tahap 6

Melakukan pengamatan dan pengumpulan data

Guru membantu siswa melakukan pengamatan tentang hal-hal yang penting dan membantu mengumpulkan dan mengorganisasi data.

Tahap 7

Analisis data

Guru membantu siswa menganalisis data supaya menemukan sesuatu konsep

Tahap 8

Penarikan kesimpulan atau penemuan

Guru membimbing siswa mengambil kesimpulan berdasarkan data dan menemukan sendiri konsep yang ingin ditanamkan.

 

Demikianlah sekilas uraian tentang model belajar melalui penemuan yang sangat cocok untuk konsep-konsep yang dapat ditemukan lewat percobaan.

 

 

 

 

C.    Kegiatan dan Contoh-Contoh Model Pembelajaran

Pada bagian ini akan diberikan beberapa contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menerapkan keempat model pembelajaran seperti telah diuraikan di atas. Dengan adanya contoh-contoh ini diharapkan anda dapat menyusun RPP lain yang lebih baik sehingga dapat diselenggarakan pembelajaran di kelas yang menarik dan berkualitas.

 

1.      Contoh RPP Model Pengajaran Langsung

 

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran: Sistem Pernapasan Hewan

 

 

Sekolah                                   : SD dan MI

Mata Pelajaran                      : Sains

Kelas/Semester                      : V/1

Standar Kompetensi             : Siswa mampu memahami alat-alat tubuh bagian dalam (organ) manusia dan hewan, cara tumbuhan hijau membuat makanan dan dapat mengembangkan kemampuan mengaitkan ciri-ciri makhluk hidup dengan lingkungan, teknologi, dan masyarakat, serta menyadari pentingnya pelestarian jenis makhluk hidup untuk mencegah kepunahan.

 

A.    Kompetensi Dasar

1.      Mendeskripsikan alat-alat tubuh bagian dalam manusia (organ pernapasan, pencernaan, dan peredaran darah)

 

B.    Indikator

·         Menjelaskan proses keluar masuknya udara pernapasan pada manusia

·         Mendeskripsikan fungsi masing-masing organ pada sistem pernapasan

 

C.    Alokasi Waktu: 2 jam pelajaran (1 x pertemuan)

 

D.    Model dan Metode Pembelajaran:

1.                                                            Model Pembelajaran

-          Pengajaran Langsung dengan menerapkan strategi belajar menggarisbawahi.

2.                                                            Metode Pembelajaran

-          Diskusi

 

E.    Langkah  Kegiatan Pembelajaran

A.    Pendahuluan (5 menit)

1.      Memotivasi siswa dengan menunjukkan beberapa gambar hewan ( belalang, cacing tanah, ikan, katak, kadal dan burung). Guru bertanya kepada siswa tentang beberapa aspek penting pada sistem pernapasan manusia yang telah diketahui siswa. Selanjutnya guru berdiskusi dengan siswa tentang bagaimana cara bernapas hewan-hewan pada gambar yang ditunjukkan itu. (Fase 1)

2.      Menyampaikan tujuan yang akan dicapai hari ini, yaitu mengetahui sistem pernapasan beberapa hewan dan melakukan kegiatan yang berkaitan dengan pernapasan. (Fase 1)

B.     Inti (60 menit)

1.      Guru memodelkan cara menggarisbawahi bagian-bagian yang penting pada ”Buku Siswa tentang pernapasan beberapa hewan”. Pemodelan dilakukan per halaman dan ditirukan siswa juga per halaman. (Fase 2)

1.      Membimbing pelatihan awal dengan meminta satu atau dua siswa untuk  menirukan  apa yang dilakukan guru, yaitu menggarisbawahi bagian yang penting pada “Buku Siswa tentang pernapasan beberapa hewan”pada halaman selanjutnya. (Fase 3)

2.      Guru meminta  semua siswa untuk menggarisbawahi bagian-bagian penting pada ”Buku Siswa tentang pernapasan beberapa hewan” sampai halaman yang telah ditentukan dan mengamati kebenaran hasil kerja para siswa. Apabila ada hal-hal yang kurang tepat, guru segera membenarkan. Hal ini dilakukan untuk mengecek pemahaman dan memberi umpan balik. (Fase 4)

3.      Pelatihan lanjutan dan penerapan tentang apa yang telah dipelajari para siswa, diberikan oleh guru dengan cara memberi tugas kepada para siswa untuk menjawab pertanyaan yang relevan seperti apakah alat pernapasan pada ikan, bagaimana proses keluar-masuknya udara pernapasan pada burung dan sebagainya. (Fase 5)

C.  Penutup (15 menit)

Membimbing siswa merangkum butir-butir penting pembelajaran hari ini tentang sistem pernapasan pada beberapa hewan. Pada bagian penutup dapat juga menugaskan siswa untuk mengerjakan beberapa soal yang relevan yang telah dibuat oleh guru secara tertulis.

 

F.     Sumber Pembelajaran      

§  Buku siswa  Sains SD & MI tentang sistem pernapasan pada beberapa hewan

§  Lembar Penilaian yang berisi butir-butir soal yang relevan

 

G.   Alat dan Bahan

·         Gambar cacing, balalang, ikan, katak, kadal dan burung (untuk kegiatan motivasi)

·       Buku Kegiatan

 

 

Daftar Pustaka

Departemen Pendidikan Nasional, 2006, BSNP Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, Depertemen Pendidikan Nasional, Jakarta.

 

Departemen Pendidikan Nasional, 2006, Kurikulum Sekolah Menengah Pertama (SMP) Panduan Pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Sekolah Menengah Pertama (SMP) Mata Pelajaran Ilmu Pengentahuan Alam, Depertemen Pendidikan Nasional, Jakarta.

 

Departemen Pendidikan Nasional, 2006, Kurikulum 2006 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Sain Sekolah Dasar & Madrasah Ibtidaiyah, Depertemen Pendidikan Nasional, Jakarta.

 

 

Mengetahui:                                                    Guru Mata Pelajaran IPA

 

Kepala SD ……….

 

           __________________                                      ____________________

NIP………………                                               NIP………………….

 

 

 

2.      Contoh RPP Model Pembelajaran Kooperatif

 

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran: Sistem Pernapasan Manusia

 

 

Sekolah                                   : SD dan MI

Mata Pelajaran                      : Sains

Kelas/Semester                      : V/1

Standar Kompetensi             : Siswa mampu memahami alat-alat tubuh bagian dalam (organ) manusia dan hewan, cara tumbuhan hijau membuat makanan dan dapat mengembangkan kemampuan mengaitkan ciri-ciri makhluk hidup dengan lingkungan, teknologi, dan masyarakat, serta menyadari pentingnya pelestarian jenis makhluk hidup untuk mencegah kepunahan.

 


A.    Kompetensi Dasar

2.      Mendeskripsikan alat-alat tubuh bagian dalam manusia (organ pernapasan, pencernaan, dan peredaran darah)

 

B.     Indikator

·     Menjelaskan proses keluar masuknya udara pernapasan pada manusia

·     Mendeskripsikan fungsi masing-masing organ pada sistem pernapasan

·     Membuat prediksi/ramalan berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya.

·     Merancang kegiatan untuk membuat model mesin pernapasan sederhana secara mandiri atau dalam kelompok.

·     Membuat suatu karya atau alat untuk memvisualisasi proses keluar masuknya udara pernapasan pada manusia.

·     Menguji coba hasil karya yang berupa model mesin pernapasan sederhana yang telah dibuat.

·     Menyempurnakan hasil karya yang berupa model mesin pernapasan sederhana berdasarkan hasil uji coba.

 

C.    Alokasi Waktu: 2 jam pelajaran (1 x pertemuan)

 

D.    Model dan Metode Pembelajaran:

1.      Model Pembelajaran

-          Pembelajaran Kooperatif

2.      Metode Pembelajaran

-          Diskusi

-          Eksperimen   

 

E.     Langkah  Kegiatan Pembelajaran

A.    Pendahuluan (± 10 menit)

1.      Memotivasi siswa dengan meminta para siswa duduk saling berhadapan dengan temannya. Masing-masing siswa memegang dadanya sendiri sambil mengamati dada pasangannya. Pasangan siswa tersebut diminta ambil napas dalam-dalam, merasakan apa yang terjadi pada tubuhnya dan mengamati apa yang terjadi pada tubuh temannya. Selanjutnya guru menanyakan beberapa pertanyaan yang berkaitan denga kegiatan yang baru dilakukan seperti alat-alat tubuh apakah yang terlibat pada saat bernapas,  zat yang dihirup dan dihembuskan pada saat bernapas, perubahan pada dada dan perut pada saat menghirup dan menghembuskan napas dan pertanyaan lain yang berkaitan dengan pernapasan. (Fase 1)

2.      Mengkomunikasikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai hari ini, yaitu mempelajari sistem pernapasan khususnya pada manusia. Dan melakukan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pernapasan. (Fase 1)

B.     Inti (± 60 menit)

1.      Guru menyajikan informasi dengan cara menjelaskan beberapa konsep yang penting tentang sistem pernapasan pada manusia seperti yang terdapat pada Buku Siswa tentang pernapasan pada manusia. (Fase 2)

2.      Selanjutnya guru menjelaskan hal-hal penting yang berkaitan dengan Model Mesin Pernapasan seperti yang terdapat pada gambar di bawah ini. (Fase 2)

 

 

100_3299

 

 

 

 

 

 

 

3.      Guru mengelompokkan  siswa. Satu kelompok terdiri dari 3-4 siswa. Kepada wakil masing-masing kelompok diminta mempersiapkan alat dan bahan yang diperlukan dan selanjutnya meminta kelompok-kelompok siswa untuk membuat Model Mesin Pernapasan. (Fase 3)

4.      Selama siswa bekerja, guru membimbing dan memfasilitasi. Bimbingan tersebut untuk memperjelas petunjuk cara pembuatan model mesin pernapasan secara tepat, cara mendemonstrasikan model mesin pernapasan yang telah dibuat siswa untuk memvisualisasi proses keluar masuknya udara pernapasan pada tubuh manusia, mengarahkan siswa dalam pengambilan data, analisis data dan penarikan kesimpulan. (Fase 4)

5.      Langkah evaluasi ditempuh guru dengan cara memberi kesempatan kepada satu atau dua kelompok untuk mempresentasikan hasil kerjanya, yang berupa model mesin pernapasan hasil kerja kelompok itu, demonstrasi penggunaan model mesin pernapasan yang telah dibuat, data, analisis data dan kesimpulan yang dibuat oleh kelompok itu. Selanjutnya guru memberi kesempatan kepada kelompok lain untuk menanggapi presentasi tersebut. Guru juga memberi umpan balik untuk menunjukkan model mesin pernapasan yang benar, demonstrasi penggunaan model mesin pernapasan yang tepat, data, analisis dan kesimpulan yang seharusnya diperoleh kelompok kerja siswa. Guru juga memberi penguatan pada akhir langka evaluasi tersebut. (Fase 5)

6.      Langkah memberi penghargaan ditempuh dengan cara memberi pujian kepada kelompok yang hasil kerjanya baik dari aspek akademik maupun kerja sama antar anggota kelompok. (Fase 6)

C.    Penutup (10 menit)

Membimbing siswa merangkum butir-butir penting pembelajaran hari ini tentang proses keluar masuknya udara pernapasan pada tubuh manusia. Pada bagian penutup dapat juga menugaskan siswa untuk mengerjakan beberapa Lembar Penilaian yang berisi butir-butir soal yang relevan.

 

F.     Sumber Pembelajaran     

§  Buku siswa  Sains SD & MI tentang sistem pernapasan pada manusia

§  Lembar Penilaian yang berisi butir-butir soal yang relevan

 

G.    Alat dan Bahan              

Pertemuan Pertama

·       2 balon karet (1 besar, 1 kecil)

·       sedotan limun

·       selotip

·       gunting

·       botol plastik/kaca kecil, jernih (transparan) yang dasarnya terpotong

·       plastisin

·       Buku Kegiatan

 

 

Daftar Pustaka

Departemen Pendidikan Nasional, 2006, BSNP Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, Depertemen Pendidikan Nasional, Jakarta.

 

Departemen Pendidikan Nasional, 2006, Kurikulum Sekolah Menengah Pertama (SMP) Panduan Pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Sekolah Menengah Pertama (SMP) Mata Pelajaran Ilmu Pengentahuan Alam, Depertemen Pendidikan Nasional, Jakarta.

 

Departemen Pendidikan Nasional, 2006, Kurikulum 2006 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Sain Sekolah Dasar & Madrasah Ibtidaiyah, Depertemen Pendidikan Nasional, Jakarta.

 

 

 

 

 

 

Mengetahui:                                                    Guru Mata Pelajaran IPA

Kepala SD ……….

 

 

 

 

            __________________                                    ____________________

NIP………………                                               NIP………………….

 

 

 

3.      Contoh RPP Model Pengajaran Berdasarkan Masalah

 

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran: Fungsi Masker Hidung

 

 

Sekolah                                   : SD dan MI

Mata Pelajaran                      : Sains

Kelas/Semester                      : V/1

Standar Kompetensi             : Siswa mampu memahami alat-alat tubuh bagian dalam (organ) manusia dan hewan, cara tumbuhan hijau membuat makanan dan dapat mengembangkan kemampuan mengaitkan ciri-ciri makhluk hidup dengan lingkungan, teknologi, dan masyarakat, serta menyadari pentingnya pelestarian jenis makhluk hidup untuk mencegah kepunahan.

 

A.    Kompetensi Dasar

3.      Mendeskripsikan alat-alat tubuh bagian dalam manusia (organ pernapasan, pencernaan, dan peredaran darah)

 

 

 

B.     Indikator

·         Menjelaskan penyebab terjadinya gangguan pada alat pernapasan manusia, misalnya menghirup udara tercemar, terinfeksi oleh kuman.

·         Mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan sistem pernapasan.

·         Memelihara kesehatan alat pernapasan.

·         Menyajikan informasi menggunakan diagram/gambar tentang perbandingan sistem pernapasan yang sehat dan kurang sehat.

 

C.    Alokasi Waktu: 4 jam pelajaran (2 x pertemuan)

 

D.    Model dan Metode Pembelajaran:

1.      Model Pembelajaran

-          Pembelajaran Berdasarkan Masalah.

2.      Metode Pembelajaran

-          Pengamatan

-          Diskusi

-          Eksperimen   

 

E.     Langkah  Kegiatan Pembelajaran

Pertemuan Pertama

A.    Pendahuluan (± 10 menit)

1.      Memotivasi siswa dengan menunjukkan gambar polisi lalu lintas menggunakan masker penutup hidung pada saat kerja di jalan raya. meminta para siswa untuk menemukan fungsi masker hidung. (Tahap 1)

2.      Mengkomunikasikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai hari ini, yaitu mengetahui fungsi dan cara kerja masker hidung dalam menjaga kesehatan pernapasan. (Tahap 1)

3.      Selanjutnya guru mengorientasikan siswa pada masalah otentik yang harus dipecahkan. Masalah tersebut adalah apakah fungsi dan bagaimana kerja masker hidung dalam menjaga kesehatan sistem pernapasan. Guru menugaskan siswa untuk membaca buku-buku yang mendukung pemecahan masalah otentik tersebut. (Tahap 1)

4.      Guru mengorganisasikan siswa dalam beberapa kelompok kerja untuk melaksanakan penyelidikan tentang fungsi dan cara kerja masker hidung. Guru dapat menjelaskan lebih rinci beberapa alternatif kegiatan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah otentik tersebut. (Tahap 2)

5.      Guru memberi bimbingan kepada siswa untuk melakukan penyelidikan. Bimbingan tersebut meliputi pengumpulan informasi yang berkaitan dengan sistem pernapasan pada manusia dan faktor-faktor yang mempengaruhinya seperti yang telah dipelajari sebelumnya, kegiatan penyelidikan yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah otentik yang ditetapkan, alat dan bahan yang diperlukan, prosedur kerja yang akan ditempuh, gambaran data, analisis data, dan kesimpulan yang akan diperoleh. (Tahap 3)

6.      Selanjutnya guru meminta siswa untuk melaksanakan tugas pemecahan masalah tersebut di rumah dalam kurun waktu satu minggu. (Tahap 3)

C.  Penutup (15 menit)

Membimbing siswa merangkum butir-butir penting pembelajaran hari ini dan mengingatkan kembali akan tugas yang harus dikerjakan siswa di rumah.

 

Pertemuan Kedua

A.    Pendahuluan (5 menit)

1.      Guru mengingatkan tugas yang harus diselesaikan para siswa pada minggu yang lalu, dan meminta siswa duduk dalam kelompoknya masing-masing.

2.      Mengkomunikasikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu akan menindaklanjuti hasil kerja kelompok dalam menyelesaikan tugas yang diberikan.

B.     Inti (70 menit)

1.      Selanjutnya guru meminta para siswa menyajikan hasil karyanya dengan cara memajang laporan kegiatan yang telah disusunnya di dinding kelas atau di papan tulis. Selain pajangan laporan, kepada tiap-tiap kelompok juga diminta untuk mendemonstrasikan kegiatan yang telah dilakukan untuk memecahkan masalah yang dipecahkan. Guru mengorganisasikan supaya pada saat satu kelompok berdemonstrasi, kelompok lain dapat menyaksikan dengan seksama. Diusahakan semaksimal mungkin kelompok dapat berdemonstrasi. (Tahap 4)

2.      Pada setiap demonstrasi dan penyajian laporan hasil kerja kelompok, dilakukan analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah. Pada setiap kelompok yang presentasi diberi komentar oleh kelompok lain dan umpan balik oleh guru. Komentar dan umpan balik berupa refleksi dan evaluasi pada penyelidikan yang dilakukan, langkah-langkah kerja yang ditempuh, data/hasil yang diperoleh, dan kesimpulan yang dihasilkan/jawaban masalah otentik yang dipecahkan. Selanjutnya diberikan penguatan oleh guru tentang fungsi masker penutup hidung, pentingnya penggunaan masker pada saat berada di udara penuh debu, dan kaitannya dengan fungsi rambut-rambut hidung dalam melindungi kesehatan alat pernapasan kita. (Tahap 5)

C.    Penutup (5 menit)

Para siswa dibimbing untuk menyimpulkan butir-butir penting pembelajaran hari ini tentang gangguan pernapasan pada manusia dan cara-cara melindunginya. Pada penutup guru juga  dapat memberi tugas kepada siswa untuk mengerjakan Lembar penilaian yang berisi butir-butir soal relevan.

 

F.     Sumber Pembelajaran     

§  Buku–buku penunjang pemecahan masalah

§  Lembar Penilaian yang berisi butir-butir soal terkait

G.    Alat dan Bahan              

·         Alat dan bahan yang dikembangkan sendiri oleh kelompok untuk memecahkan masalah otentik yang ditetapkan

·         Alat dan bahan yang disarankan meliputi arang, serbuk kayu, kapur tulis, batu bata, palu penumbuk, sekop, berbagai jenis masker dari kain.

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Departemen Pendidikan Nasional, 2006, BSNP Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, Depertemen Pendidikan Nasional, Jakarta.

 

Departemen Pendidikan Nasional, 2006, Kurikulum Sekolah Menengah Pertama (SMP) Panduan Pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Sekolah Menengah Pertama (SMP) Mata Pelajaran Ilmu Pengentahuan Alam, Depertemen Pendidikan Nasional, Jakarta.

 

Departemen Pendidikan Nasional, 2006, Kurikulum 2006 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Sain Sekolah Dasar & Madrasah Ibtidaiyah, Depertemen Pendidikan Nasional, Jakarta.

 

 

 

Mengetahui:                                                    Guru Mata Pelajaran IPA

Kepala SD ……….

 

 

 

 

            __________________                                    ____________________

NIP………………                                               NIP………………….

 


 

 

4.      Contoh RPP Model Belajar Melalui Penemuan

 

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran: Fungsi dan Struktur Daun

 

 

Sekolah                                   : SD dan MI

Mata Pelajaran                      : Sains

Kelas/Semester                      : IV/1

 

A.    Kompetensi Dasar          

 2.3 Menjelaskan hubungan antara struktur daun tumbuhan  dengan fungsinya

 

B.     Indikator

·     Menjelaskan struktur daun

·     Mendeskripsikan fungsi daun

 

C.    Alokasi Waktu: 2 jam pelajaran (1 x pertemuan)

 

D.    Model dan Metode Pembelajaran

1.      Model Pembelajaran

-          Belajar Melalui Penemuan

2.      Metode Pembelajaran

-          Diskusi

-          Eksperimen   

 

E.     Langkah  Kegiatan Pembelajaran

A.    Kegiatan Awal

Guru menunjukkan daun bayam, dan menanyakan bagian tumbuhan apakah itu? Apa manfaatnya bagi manusia? Apa pula manfaatnya bagi tumbuhan? (Tahap 1)

B.     Kegiatan Inti

Guru mengawali kegiatan inti dengan membantu siswa merumuskan pertanyaan sebagai berikut. (Tahap 2)

 

   Bagaimanakah struktur daun dan apa fungsi daun bagi tumbuhan?

 

Bagaimanakah struktur daun dan apa fungsi daun bagi tumbuhan?

 

 

Guru meminta siswa untuk mengemukakan jawaban sementara atas pertanyaan yang telah dirumuskan tersebut. (Tahap 3).

Selanjutnya guru membimbing para siswa untuk melakukan penyelidikan supaya menemukan jawaban dari pertanyaan yang telah dirumuskan. (Tahap 4)

 

KEGIATAN : Menyelidiki Struktur Daun

Mintalah siswa mengamati daun membaca buku pelajarannya untuk mempelajari struktur daun. Untuk memandu diskusi, guru dapat juga menayangkan gambar struktur (Tahap 5)

Guru membimbing siswa mengumpulkan data dengan cara meminta siswa untuk menggambarkan struktur daun dan memberinya penjelasan yang diperlukan (Tahap 6)

Guru membimbing siswa untuk menganalisis data yang diperoleh untuk menemukan struktur daun dan fungsinya bagi tumbuhan. (Tahap 7)

 Di akhir diskusi bimbinglah siswa untuk menemukan struktur daun dan fungsinya sebagai berikut. (Tahap 8)

 

Gambar Struktur Daun, lapisan-lapisan daun dari atas ke bawah adalah sebagai berikut:

-      Epidermis merupakan lapisan terluar yang melindungi lapisan yang ada di dalamnya

-      Palisade merupakan tempat terjadinya fotosintesis karena mengandung klorofil

-      Bunga karang/sponsa (pada beberapa tempat terdapat tulang daun) berfungsi untuk menjebak gas-gas pernapasan di dalam rongganya, juga tempat daun mendapat bahan dasar untuk fotosintesis dan hasil-hasil fotosintesis

-      Epidermis bawah (pada beberapa tempat terdapat stomata) dapat digunakan untuk pertukaran gas-gas pernapasan.

C.  Penutup

Tutuplah kegiatan pembelajaran dengan pemberian pertanyaan-pertanyaan yang relevan yang dapat dijawab secara lisan naupun tertulis.

 

F.     Sumber Pembelajaran     

§  Buku siswa  Sains SD & MI tentang struktur dan fungsi daun

§  Lembar Penilaian yang berisi butir-butir soal yang relevan

 

G.    Alat dan Bahan

·         daun bayam

·         kantong plastik transparan

·         daun tumbuhan yang baru di petik/segar

·         air

·         karet gelang

·         obat nyamuk

·         korek api

·         jarum pentul

·         gambar penampang melintang daun

 

 

                                           

Daftar Pustaka

Departemen Pendidikan Nasional, 2006, BSNP Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, Depertemen Pendidikan Nasional, Jakarta.

 

Departemen Pendidikan Nasional, 2006, Kurikulum Sekolah Menengah Pertama (SMP) Panduan Pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Sekolah Menengah Pertama (SMP) Mata Pelajaran Ilmu Pengentahuan Alam, Depertemen Pendidikan Nasional, Jakarta.

 

Departemen Pendidikan Nasional, 2006, Kurikulum 2006 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Sain Sekolah Dasar & Madrasah Ibtidaiyah, Depertemen Pendidikan Nasional, Jakarta.

 

 

 

Mengetahui:                                                    Guru Mata Pelajaran IPA

Kepala SD ……….

 

 

 

 

            __________________                                    ____________________

NIP………………                                               NIP………………….

 

 

 

D.  Latihan

I.   Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan jelas!

1.      Apabila anda mengajarkan cara penggunaan termometer pada siswa anda model pembelajaran apakah yang sesuai untuk diterapkan? Berikan penjelasan!

2.      Bagaimanakah karakter materi pelajaran yang cocok untuk diajarkan menggunakan model pengajaran langsung?

3.      Deskripsikan teori-teori yang melatarbelakangi model pembelajaran kooperatif.

4.      Karakteristik materi ajar yang bagaimanakah yang cocok diajarkan menggunakan model pengajaran berdasarkan masalah

5.      Deskripsikan beberapa tipe model pembelajaran kooperatif.

6.      Deskripsikan sintaks model belajar melalui penemuan!

7.      Bagaimanakah karakter materi pelajaran yang cocok diajarkan menggunakan model belajar melalui penemuan?

8.      Deskripsikan teori-teori yang melatarbelakangi model belajar melalui penemuan.

9.      Manfaat-manfaat penting apa sajakah yang dapat diperoleh oleh siswa anda bila anda mengajar mereka dengan model pembelajaran kooperatif?

10.  Tuliskan perbedaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan tipe Jigsaw!

 

II.    Latihan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

 

1.      Buatlah skenario pembelajaran untuk materi perkembangbiakan vegetatif pada tumbuhan dengan menerapkan model-model pembelajaran sebagai berikut.

a.       Pengajaran Langsung

b.      Pembelajaran Kooperatif

c.       Pengajaran Berdasarkan Masalah

d.      Belajar Melalui Penemuan

 

2.      Buatlah skenario dengan materi dan model pembelajaran sesuai dengan selera anda!

 

 

 

Daftar Pustaka

Departemen Pendidikan Nasional, 2006, BSNP Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, Depertemen Pendidikan Nasional, Jakarta.

 

Departemen Pendidikan Nasional, 2006, Kurikulum Sekolah Menengah Pertama (SMP) Panduan Pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Sekolah Menengah Pertama (SMP) Mata Pelajaran Ilmu Pengentahuan Alam, Depertemen Pendidikan Nasional, Jakarta.

 

Departemen Pendidikan Nasional, 2006, Kurikulum 2006 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Sain Sekolah Dasar & Madrasah Ibtidaiyah, Depertemen Pendidikan Nasional, Jakarta.

 

Ibrahim, M., Fida R., Mohamad Nur dan Ismono, 2005, Pembelajaran Kooperatif, Surabaya: PSMS UNESA.

 

Ibrahim, M., dan M..Nur, 2005, Pembelajaran Berdasarkan Masalah, Surabaya: PSMS UNESA

 

Kardi, S., dan M.Nur, 2004, Pengajaran Langsung, Surabaya: PSMS UNESA


STRATEGI DAN MODEL-MODEL PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA  DI SEKOLAH DASAR

 

A. PENDAHULUAN

Pengajaran bahasa Indonesia di SD, dilaksanakan dengan mengacu pada KBK  atau KTSP. Keterampilan yang dikembangkan mencakup empat keterampilan, yakni (1) menyimak/mendengarkan; (2) berbicara; (3) membaca; dan (4) menulis. Dalam pelaksanaan pengajarannya guru seyogyanya selalu memperhatikan prinsip pembelajaran yang disarankan oleh Kurikulum yang terkenal dengan akronim PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif  dan Menyenangkan).

Ada tiga istilah yang lazim dihubungkan dengan prosedur KBM, yakni pendekatan, metode, dan teknik. Pendekatan merupakan seperangkat asumsi, prinsip, dan sistematika konsep secara utuh dan menyeluruh untuk menyiasati pencapaian tujuan pembelajaran.Metode merupakan seperangkat konsep yang disusun secara prosedural guna mencapai kompetensi  khusus. Sementara teknik atau strategi merupakan pola KBM yang disusun secara sistematis sesuai dengan pokok bahasan dan fokus pembelajaran secara kontekstualsesuai dengan kondisi, situasi, tempat peristiwa KBM berlangsung.

Berkaitan dengan pembelajaran bahasa, ada beberapa strategi yang ditawarkan kepada guru untuk dijadikan alternatif pilihan dalam menentukan pola KBM. Adapun strategi-strategi tersebut, adalah.

B. STRATEGI PEMBELAJARAN MENYIMAK 

            Ada beberapa strateki pembelajaran yang menjadi alternatif pilihan guru untuk mengajarkan menyimak, yakni

  1. Strategi Pertanyaan dan Jawaban (PJ)

Strategi ini merupakan strategi yang paling sederhana dalam KBM menyimak. Tahap-tahapan kegiatannya adalah :

1)      Guru mengemukakan judul bahan simakan

2)      Guru mengajukan pertanyaan berkenaan dengan isi simakan yang akan dibicarakan

3)      Guru membacakan materi simakan. Pembacaan dapat dilakukan perbagian dengan diselingi pertanyaan atau dibacakan secara keseluruhan secara langsung

4)      Setelah materi simakan selesai dibacakan guru memberi kesempatan kepada siswa menanyakan hal-hal yang belum dipahami.

5)      Guru mengadakan tanya-jawab dengan siswa

6)      Siswa mengemukakan kembali informasi yang telah diperoleh, (bisa secara tertulis atau lisan).

 

  1. Strategi Kegiatan Menyimak Secara Langsung/KML atau DLA (Direct Listening Activities)

Tahapan-tahapan kegiatannya, adalah:

1)      Guru mengemukakan tujuan pembelajaran, membacakan judul teks simakan, bertanya jawab dengan siswa tentang hal-hal yang berkaitan dengan judul bahan simakan sebagai upaya untuk pembangkitan skemata siswa. Selanjutnya guru mengemukakan hal-hal pokok yang perlu dipahami siswa dalam menyimak

2)      Guru meminta siswa mendengarkan materi simakan yang dibacakan oleh guru.

3)      Guru melakukan tanya jawab tentang isi simakan. Pertanyaan tidak selalu harus diikat oleh pertanyaan yang terdapat dalam buku. Guru hendaknya menambahkan pertanyaan yang dikaitkan dengan konteks kehidupan siswa atau masalah lain yang aktual

4)      Guru memberikan latihan/tugas/kegiatan lain yang berfungsi untuk mengembangkan keterampilan siswa dalam menyimak.

 

  1. Strategi Menyimak dan Berpikir Langsung /MBL atau DLTA (Direct Listening Thinking Activities)

Tahapan-tahapan kegiatannya, adalah.

1)      Persiapan menyimak : Pada tahap ini guru memberitahukan judul cerita yang akan disimak, misalnya “Saat Sendirian di Rumah” Berdasarkan judul teresbut guru menanyakan kepada siswa Bagaimana seandainya malam hari sendirian di rumah? Untuk membangkitkan imajinasi siswa guru bisa menunjukkan gambar rumah yang gelap. Selanjutnya guru mengajukan pertanyaan Apa kira-kira isi cerita yang akan dibacakan, apa yang kira-kira menarik dari cerita itu, bagaimana seandainya peristiwa itu terjadi pada kalian? Dan sebagainya.

2)      Membaca Nyaring:Guru membacakan cerita dengan suara nyaring secara menarik dan hidup. Pada bagian tertentu yang dianggap memiliki hubungan dengan prediksi dan tujuan pembelajaran, guru menghentikan pembacaan dan mengajukan pertanyaan kepada siswa. Apa kesimpulan yang kalian peroleh, apa yang terjadi kemudian, apa yang terjadi selanjutnya dsb. Setelah tanya jawab dianggap cukup, guru melanjutkan membacakan lagi.

3)      Refleksi dan penyampaian pendapat. Guru mengakhiri pembacaan, selanjutnya guru meminta siswa untuk mengemukakan kembali isi cerita dan guru meminta pendapat siswa tentang unsur-unsur cerita, misalnya tentang watak tokoh, tentang alur, seting dsb.

 

C. STRATEGI PENGAJARAN MEMBACA

1. Strategi Kegiatan Membaca Langsung/ KML atau DRA Direct Reading Activities)

            Penggunaan strategi KMLadalah untuk mengembangkan kemampuan membaca secara komprehensif, membaca kritis, dan mengembangkan perolehan pengalaman siswa berdasarkan bentuk dan isi bacaan secara ekstensif. Adapun tahapan pengajarannya, adalah sebagai berikut.

1)      Guru mengemukakan tujuan pembelajaran, membacakan judul teks, bertanya jawab dengan siswa tentang hal-hal yang berkaitan dengan judul bacaan sebagai pembangkitan pengalaman dan pengetahuan siswa serta engemukakan hal-hal pokok yang perlu dipahami siswa dalam membaca.

2)      Guru meminta siswa membaca dalam hati. Setelah siswa membaca guru melakukan tanya jawab tentang nisi bacaan. Pertanyaan tidak selalu harus diikat oleh pertanyaan seperti yang ada dalam buku teks. Guru bisa menambahkan pertanyaan sesuai dengan konteks kehidupan siswa maupun permasalahan lain yang aktual.

3)      Guru memberikan tugas latihan yang ditujukan untuk mengembangkan pemahaman dan keterampilan siswa sejalan dengan kegiatan membaca yang telah dilakukannya. Kegiatan itu bisa berupa menjelaskan makna kata-kata sulit dengan menggunakan kamus, membuat ikhtisar bacaan, mempelajari penggunaan struktur, ungkapan, dan peribahasa dalam bacaan.


 

2. Strategi SQ3R (Survey,Questions,Read,Recite,Review)

            Tujuan penggunaan strategi ini, untuk membentuk kebiasaan siswa berkonsentrasi dalam membaca, melatih kemampuan membaca cepat, melatih daya peramalan berkenaan dengan isi bacaan, dan mengembangkan kemampuan membaca kritis dan komprehansif. Tahapan kegiatannya, adalah

1)      Tahap Persiapan : Guru meminta siswa membaca teks secara cepat (survey). Setelah itu guru meminta siswa membuat pertanyaan tentang bacaan (questions). Pertanyaan dapat langsung memanfaatkan pertanyaan pada tahap pramembaca.Tujuan pertanyaan ini, adalah untuk membentuk konsentrasi siswa dan membangkitkan pengetahuan dan pengalaman awalnya.

2)      Proses membaca. Setelah membuat pertanyaan, siswa melakukan kegiatan membaca (read). Sambil membaca, siswa membuat jawaban pertanyaan dan catatan ringkas yang relevan (recite).

3)      Pascamembaca : Siswa melakukan review, misalnya membahas kesesuaian pertanyaan dengan isi bacaan, maupun kegiatan lanjutan lain yang secara kreatif bisa dikembangkan oleh guru.

 

3. Strategi Membaca-Tanya Jawab /MTJ atau Request (Reading-Question)

            Strategi ini ditujukan untuk mengembangkan kemampuan membaca komprehensif, memahami alasan pengambilan kesimpulan isi bacaan, dan peramalan lanjut berkenaan dengan isi bacaan. Tahapan kegiatannya, adalah

1)      Guru menjelaskan tujuan pengajaran, problem yang harus dipecahkan siswa, dan cara yang dilakukan siswa untuk memecahkan masalah

2)      Guru dan siswa melakukan pemecahan masalah, misalnya menemukan fakta, mendapat ide pokok,penggunaan ungkapan, pendapat yang tidak relevan dengan fakta, dansebagainya. Untuk memecahkan masalah tersebut, guru dan siswa melakukan kegiatan membaca paragraf pertama bacaan

3)      Setelah membaca paragraf pertama bacaan, guru meminta siswa meramalkan kemungkinan isi paragraf berikutnya. Guru dan siswa melakukan kegiatan membaca dalam hati. Paragraf yang dibaca  bisa satu paragraf atau lebih bergantung pada kemungkinan waktu yang tersedia.

4)      Tahap terakhir, adalah tanya jawab dan pembahasan jawaban pertanyaan.

 

4. Strategi Membaca dan Berpikir Secara Langsung/MBL atau DRTA (Direct Reading Thinking Activities)

            Tujuan penggunaan strategi ini, adalah untuk melatih siswa untuk berkonsentrasi dan “berpikir keras” guna memahami isi bacaan secara serius. Adapun langkah-langkah kegiatannya, adalah.

1)      Guru meminta siswa membaca judul teks bacaan. Apabila mungkin, siswa diminta memperhatikan gambar, dan subjudul secara cepat. Setelah itu guru bertanya kepada siswa sebagai pembangkit prediksi dan penciptaan konsentrasi saat membaca. Pertanyaan tersebut misalnya “Apa kira-kira isi paragraf selanjutnya? Mengapa Kalian membuat pemikiran demikian?”

2)      Guru meminta siswa untuk membaca dalam hati satu atau dua paragraf bacaan dengan berkonsentrasi untuk  menemukan kebenaran/kesalahan peramalan yang dilakukan semula.

3)      Bagian lanjut bacaan yang belum dibaca/ditanyakan ditutup dulu dengan kertas. Setelah membaca dalam hati guru mengajukan pertanyaan, “Apa kira-kira isi paragraf berikutnya?” “Mengapa Kalian memperkirakan demikian?”

4)      Langkah seperti tersebut di atas dilakukan sampai dengan bacaan itu habis/selesai dibaca. Selanjutnya dapat dilakukan menjawab pertanyaan tentang isi bacaan atau kagiatan yang lain.

 

  1. Strategi Penghubungan Pertanyaan-Jawaban /PPJ atau QAR (Questions-Answer Relationship)

Strategi ini digunakan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam memperoleh berbagai informasi dari berbagai sumber yang berkaitan dengan berbagai bidang. Pertanyaan dapat disusun oleh guru atau dapat memanfaatkan daftar pertanyaan yangn ada dalam bacaan. Adapun jawabannya dapat diperoleh siswa melalui cara berikut.

Ø  Menemukan kata atau kalimat dalam teks sebagai jawaban dari pertanyaan. Contoh “Siapa yang bertanggung jawab untuk menciptakan suasana nyaman di kelas?”

Ø  Jawaban ada dalam teks tetapi harus menghubung-hubungkan kata atau kalimat pada bagian –bagian yang berbeda. Contoh pertanyaannya “ Apa yang menyebabkan kelas kita menjadi juara Lingkungan Nyaman?”

Ø  Pemahaman isi teks merupakan bahan penemuan jawaban, tetapi pemahaman tersebut berkaitan dengan pemahaman yang tersirat.Dengan demikian untuk menjawab pertanyaan itu diperlukan adanya hubungan dialogis antara pemahaman isi teks dengan pengalaman dan pengetahuan pembaca. Contoh: “Bagaimana hubungan timbal-balik antara lingkungan alam denganlingkungan kehidupan keluarga?”.

Ø  Jawaban tidak dapat ditemukan dalam teks. Untuk menemukan jawaban pertanyaan harus menghubung –hubungkan sesuatu yang dinyatakan penulis, merefleksikan kembali berbagai pengalaman dan pengetahuan dengan memanfaatkan berbagai sumber informasi. Contoh pertanyaan “Mengapa sebagai ekosistem lingkungan menentukan kehidupan organisme manusia, binatang, dan tumbuhan?”

Berdasarkan gambaran pilihan jenis pertanyaan seperti di atas, tahap kegiatan yang dilakukan, adalah

1)      Guru mengemukakan tujuan pengajarannya, problem yang mesti dipecahkan siswa, dan cara yang perlu dilakukan siswa untuk memecahkan masalah. Masalah yang dipecahkan siswa adalah memahami dan menjawab pertanyaan dalam berbagai jenis dan tingkatannya.

2)      Siswa melakukan kegiatan membaca dalam hati. Setelah kegiatan membaca selesai, dilakukan kegiatan tanya jawab dan pembahasan.

3)      Pertanyaan yang penemuan jawabannya memerlukan berbagai sumber dan berbagai kegiatan lain, misalnya pengamatan dan wawancara diberikan dalam bentuk tugas untuk dilaporkan pada pertemuan berikutnya. Pengerjaan tugas seyogyanya dikerjakan secara kelompok.

 

  1. Strategi Pengelompokan dan Pemetaan Isi Bacaan/ PPIB atau GMA (Group Mapping Activities)

Strategi ini digunakan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam menyusun dan memahami bagan, mengelompokkan, memetakan isi bacaan, misalnya bacaan cerita dan memetakan isi bacaan secara umum.Adapun tahapan pembelajarannya, adalah.

1)      Persiapan : Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan kegiatan yang akan dilakukan oleh siswa, misalnya siswa diminta membuat diagram plot cerita.

2)      Proses Membaca : Siswa membaca dalam hati tanpa diinterupsi oleh guru dalam waktu yang ditentukan.

3)      Selanjutnya siswa diminta mengemukakan pemahaman isi bacaan, misalnya plot dalam bentuk bagan. Berdasarkan bagan yang disusun, siswa diminta mengemukakan satuan kelompok isinya secara lisan. Siswa lain diminta menanggapi.

 

D. STRATEGI PEMBELAJARAN MENULIS

 

  1. Strategi Proses Menulis Terbimbing/PMT atau GWP (Guiding Writing Process)

Strategi PMT pada intinya adalah mengjar siswa dengan kegiatan menulis dengan mencontoh model karangan yang telah dibacanya. Kegiatan yang ditempuh, adalah

1)      Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan cara melakukan kegiatan belajar yang harus ditempuh oleh siswa.

2)      Siswa membaca teks dan mempelajarinya ditinjau dari judul, huibungan ide-ide pokok, dan pola pengembangan paragrafnya. Dalam penulisan cerita  diawali dengan membaca cerita untuk memperoleh gambaran bagian-bagian cerita, isi bagan yang satu dengan yang lain.

3)      Berdsarkan pemahaman contoh model yang dibacanya, siswa melakukan kegiatan (1) pramenulis, (2)menulis draf, dan (3) melakukan perbaikan.

 

  1. Strategi Menulis Secara Langsung/ MSL atau DWA (Direct Writing  Activities)

Strategi ini dilakukan misalnya pada saat siswa menulis buku, atau menulis dalam buku harian, dan menulis karya ilmiah. Adapun langkah-langkahnya adalah.

1)      Siswa diminta menentukan topik  karangan melalui kegiatan tukar pendapat dengan teman/ kelompok diskusi. Guru membantu membangkitkan gambaran berkenaan dengan topik yang mungkin digarap.

2)      Guru membantu siswa menggambarkan kerangka karangan Misalnya melalui webbing, mendaftar ide-ide pokok dan sebagainya.

3)      Siswa memanfaatkan sumber informasi yang bisa diperoleh dan menyusun draf karya tulis.

4)      Siswa saling menukarkan dan mempelajari draf karangan dan saling memberi bahan masukan

5)      Guru mengoreksi draf karangan siswa dan mengadakan pembahasan secara singkat dengan difokuskan pada bagian-bagian yang perlu diperbaiki

6)      Siswa memperbaiki draf sesuai dengan masukan teman dan guru.

7)      Siswa menuliskan kembali dan memublikasikan melalui mading atau membacakan di depan kelas.

 

E. STRATEGI PEMBELAJARAN BERBICARA

      Kegiatan berbicara meliputi berbagai bentuk, dan setiap bentuk memiliki kekhasan. Secara umum prosedur KBM yang dirancang perlu memperhatikan langkah KBM pada tahap persiapan, pelaksanaan, dan tindak lanjut atau pasca wicara. Pada tahap persiapan, misalnya langkah kegiatan bisa berupa penyiapan naskah sambutan. Tahap pelaksanaan mengacu pada kegiatan yang dilakukan siswa ketika membacakan naskah sambutan. Sementara tindak lanjut diisi dengan kegiatan penilaian pembacaan naskah sambutan.

      Bentuk KBM lain yang juga bisa digunakan, misalnya dalam pembelajaran dialog, adalah kegiatan bermain peran. Tahapan yang dilakukan adalah tahap persiapan, pelaksanaan, dan tindak lanjut. Penentuan KBM wicara dalam berbagai kemungkinan bentuknya dapat dijabarkan berdasarkan identifikasi dari uraian yang terdapat dalam buku pelajaran.

 

CONTOH MODEL PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

Mata Pelajaran      :  Bahasa Indonesia

Kelas/Semester      :  V/I

Tema                     :  Peristiwa

Subtema                :  Bencana Alam/Gunung Meletus

Aspek                    :  Mendengarkan

 

A.    Kompetensi Dasar           : Mendengarkan Berita

B.     Indikator              :

1)      Siswa dapat menyebutkan pokok-pokok berita yang didengar

2)      Siswa dapat menyusun laporan berita yang telah didengar dalam bentuk deskripsi

C.  Materi Pembelajaran   : Berita, Pokok-pokok berita

D.  Metode Pembelajaran  : Ceramah, Diskusi, Resitasi

E.  Strategi Pembelajaran

1.  Kegiatan Awal

Guru bertanya jawab tentang hal yang berhubungan dengan peristiwa alam, misalnya” Pernahkah kamu mengalami, melihat, atau mendengar berita tentang gerhana, gempa, atau gunung meletus? Bagaimana perasanmu dengan peristiwa tersebut? Dll untuk membangkitkan pengalaman dan pengetahuan siswa tentang materi yang akan diajarkan.

2.  Kegiatan Inti

Ø  Siswa mendengarkan rekaman berita yang diputar oleh guru melalui tape recorder

Ø  Siswa mencatat pokok-pokok berita yang didengar

Ø  Secara berkelompok siswa mendiskusikan pokok-pokok berita berdasarkan pertanyaan yang telah diberikan oleh guru.

Ø  Siswa menyusun laporan berita yang didengar berdasarkan hasil diskusi tentang pokok-pokok berita dalam bentuk deskripsi.

Ø  Wakil dari masing-masing kelompok membacakan laporan hasil diskusi

Ø  Siswa kelompok lain menanggapi isi dan mengadakan koreksi dengan dipimpin oleh guru.

3.  Kegiatan Akhir

Ø  Guru memberikan umpan balik secara klasikal berupa tanggapan terhadap hasil pekerjaan siswa mengenai pokok-pokok berita dan susunan laporan siswa.

Ø  Guru memberikan tugas di rumah untuk menyimak berita kemudian menuliskan pokok-pokok berita untuk dilaporkan.

 

Sumber dan Media

  1. Sumber : Berita
  2. Media : Tape Recorder dan kaset rekaman

 

Evaluasi

Evaluasi Proses   :  Penilaian dilakukan pada kemampuan siswa dalam menemukan pokok-pokok berita dan menyusun laporan berdasarkan rambu-rambu pertanyaan.

LKS

Simaklah dengan baik berita yang diputar dari kaset, kemudian tuliskan pokok-pokok berita.  Gunakan pedoman daftar pertanyaan berikut.

 

T E K S   B E R I T A  ( KASET DIPUTAR)

NO

Pertanyaan

Jawaban

Pokok-pokok berita

1

Peristiwa apa yang terjadi?

 

 

2

Gunung apa yang meletus?

 

 

3

Di mana tempat terjadinya?

 

 

4

Kapan terjadinya?

 

 

5

Ada korbannya? Siapa dan apa?

 

 

6

Apa tindakan pemerintah?

 

 

 

 

 

Susunlah sebuah laporan berdasarkan pokok-pokok berita yang telah kamu catat.

            …………………………………………………………………………………………………………

            …………………………………………………………………………………………………………

            …………………………………………………………………………………………………………

 

CONTOH  II

Mata Pelajaran            : Bahasa Indonesia

Kelas/Semester            : IV/2

Tema                           : Lingkungan

Subtema                      : Lingkungan Sekolah

Aspek                          : Menulis

 

I.   Standar Kompetensi        : Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi secara tertulis dalam bentuk karangan puisi untuk anak.

II   Kompetensi Dasar           : Menulis puisi bebas dengan pilihan kata yang tepat

III  Indikator

  1. Menentukan topik puisi yang akan ditulis
  2. Menuliskan kesan visual tentang benda sekitar dengan menggunakan kata-kata konkret
  3. Menulis puisi dengan memanfaatkan benda-benda sekitar sebagai medianya.
  4. Menulis puisi dengan menggunakan pilihan kata yang tepat.

IV  Tujuan Pembelajaran

  1. Siswa dapat menentukan topik puisi yang akan ditulis
  2. Siswa dapat menuliskan kesan visual tentang benda-benda sekitar dengan menggunakan kata-kata konkret
  3. Siswa dapat menulis puisi dengan menggunakan pilihan kata yang tepat.

V   Materi Pembelajaran

  1. Puisi Bebas
  2. Cara menulis puisi

VI  Metode Pembelajaran

  • Pemodelan
  • Demonstrasi
  • Penugasan

VII  Langkah-langkah Pembelajaran

  1. Kegiatan Awal ( 10 ‘)

Siswa dan guru bertanya jawab tentang puisi yang pernah dipelajari sebagai apersepsi

      b.   Kegiatan Inti ( 60’ )

o   Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang puisi yang pernah dipelajari dengan puisi bebas yang akan dipelajari

o   Siswa bersama dengan guru menuliskan kesan visual tentang suatu benda dengan menggunakan kata-kata konkret

o   Siswa memperhatikan contoh dari guru penulisan puisi dengan menggunakan media benda-benda sekitar

o   Siswa diberi kesempatan untuk menanyakan hal-hal yang belum dimengerti

o   Siswa diminta mencari objek di sekitar untuk dituangkan dalam bentuk puisi sederhana

o   Secara berpasangan siswa diminta untuk sharing, saling memberikan masukan dan koreksi terhadap puisi yang ditulisnya

o   Siswa memperbaiki puisinya berdasarkan masukan temannya dan menuliskan kembali dengan tulisan yang baik dan benar

o   Secara bergilir siswa maju untuk membacakan puisi hasil tulisannya.

  1. Kegiatan Akhir (10’)

o   Siswa dan guru merangkum dan menyimpulkan materi, yaitu cara menulis puisi dengan menggunakan pilihan kata yang tepat

o   Siswa diberi tugas rumah

  1. Sumber  Belajar

o   Lingkungan benda-benda sekitar

o   KTSP 2006

o   Buku Pelajaran Bahasa Indonesia jilid IV

  1. Penilaian

Tes dan Unjuk kerja

 

SOAL

1.      Identifikasi minimal tiga objek yang menurutmu paling menarik  untuk kamu jadikan bahan menulis sebuah puisi

2.      Tentukan satu objek dari tiga objek di atas kemudian tuliskan kata-kata konkret untuk menggambarkan bentuk visualisainya

3.      Berdasarkan kalimat dan kata-kata konkret yang telah kamu tulis, susunlah sebuah puisi sederhana.

 

     PEDOMAN PENSEKORAN UNTUK  SOAL NO 2

KEGIATAN

SKOR

Siswa menuliskan 3 kalimat atau lebih

2

Siswa menuliskan 1-2 kalimat

1

Siswa tidak menuliskan apa-apa

0

 

 

PEDOMAN PENILAIAN UNTUK SOAL NO 3

NO

ASPEK

DESKRIPTOR

SKOR

1

Kesesuaian Isi

Isi puisi sesuai dengan tema yang dipilih

1-2

2

Kesesuaian Visualisasi

Visualisasi sesuai dengan bendanya

1-2

3

Pilihan  kata

Ketepatan dalam memilih  kata

1,5-3

4

Penggunaan Ejaan

Ketepatan dalam menggunakan huruf besar, tanda baca, ketepatan penulisan

1-2

5

Kejelasan dan kerapian

Tulisan rapi dan jelas

0,5-1

 

 

  Daftar Rujukan

Aminuddin.1996.Isi dan Strategi Pengajaran Bahasa Indonesia Pendekatan Terpadu dan Pendekatan Proses.Malang:FPBS IKIP Malang

 

Burn,P.C, Roe,B.D.& Ross, P.E.1996.Teaching Reading in Today’s Elementary Schools. Boston: Houghton Mifflin Company.

 

Depdiknas.2004.Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Standar Isi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta:Depdiknas.

Papas. C.C Keifer, B.Z.& Ilerestik.L.S.1995.An Integrated Language Perspective in The Elementary School Theory Into Action. New York : Longman Publisher.

STRATEGI DAN MODEL-MODEL PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH DASAR

Filed under: Pembelajaran BI di Kelas-kelas awal — September 27, 2008 @ 4:10 am

A. PENDAHULUAN

Pengajaran bahasa Indonesia di SD, dilaksanakan dengan mengacu pada KBK  atau KTSP. Keterampilan yang dikembangkan mencakup empat keterampilan, yakni (1) menyimak/mendengarkan; (2) berbicara; (3) membaca; dan (4) menulis. Dalam pelaksanaan pengajarannya guru seyogyanya selalu memperhatikan prinsip pembelajaran yang disarankan oleh Kurikulum yang terkenal dengan akronim PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif  dan Menyenangkan).

Ada tiga istilah yang lazim dihubungkan dengan prosedur KBM, yakni pendekatan, metode, dan teknik. Pendekatan merupakan seperangkat asumsi, prinsip, dan sistematika konsep secara utuh dan menyeluruh untuk menyiasati pencapaian tujuan pembelajaran.Metode merupakan seperangkat konsep yang disusun secara prosedural guna mencapai kompetensi  khusus. Sementara teknik atau strategi merupakan pola KBM yang disusun secara sistematis sesuai dengan pokok bahasan dan fokus pembelajaran secara kontekstualsesuai dengan kondisi, situasi, tempat peristiwa KBM berlangsung.

Berkaitan dengan pembelajaran bahasa, ada beberapa strategi yang ditawarkan kepada guru untuk dijadikan alternatif pilihan dalam menentukan pola KBM. Adapun strategi-strategi tersebut, adalah.

 

B. STRATEGI PEMBELAJARAN MENYIMAK 

            Ada beberapa strateki pembelajaran yang menjadi alternatif pilihan guru untuk mengajarkan menyimak, yakni

  1. Strategi Pertanyaan dan Jawaban (PJ)

Strategi ini merupakan strategi yang paling sederhana dalam KBM menyimak. Tahap-tahapan kegiatannya adalah :

1)      Guru mengemukakan judul bahan simakan

2)      Guru mengajukan pertanyaan berkenaan dengan isi simakan yang akan dibicarakan

3)      Guru membacakan materi simakan. Pembacaan dapat dilakukan perbagian dengan diselingi pertanyaan atau dibacakan secara keseluruhan secara langsung

4)      Setelah materi simakan selesai dibacakan guru memberi kesempatan kepada siswa menanyakan hal-hal yang belum dipahami.

5)      Guru mengadakan tanya-jawab dengan siswa

6)      Siswa mengemukakan kembali informasi yang telah diperoleh, (bisa secara tertulis atau lisan).

 

  1. Strategi Kegiatan Menyimak Secara Langsung/KML atau DLA (Direct Listening Activities)

Tahapan-tahapan kegiatannya, adalah:

1)      Guru mengemukakan tujuan pembelajaran, membacakan judul teks simakan, bertanya jawab dengan siswa tentang hal-hal yang berkaitan dengan judul bahan simakan sebagai upaya untuk pembangkitan skemata siswa. Selanjutnya guru mengemukakan hal-hal pokok yang perlu dipahami siswa dalam menyimak

2)      Guru meminta siswa mendengarkan materi simakan yang dibacakan oleh guru.

3)      Guru melakukan tanya jawab tentang isi simakan. Pertanyaan tidak selalu harus diikat oleh pertanyaan yang terdapat dalam buku. Guru hendaknya menambahkan pertanyaan yang dikaitkan dengan konteks kehidupan siswa atau masalah lain yang aktual

4)      Guru memberikan latihan/tugas/kegiatan lain yang berfungsi untuk mengembangkan keterampilan siswa dalam menyimak.

 

  1. Strategi Menyimak dan Berpikir Langsung /MBL atau DLTA (Direct Listening Thinking Activities)

Tahapan-tahapan kegiatannya, adalah.

1)      Persiapan menyimak : Pada tahap ini guru memberitahukan judul cerita yang akan disimak, misalnya “Saat Sendirian di Rumah” Berdasarkan judul teresbut guru menanyakan kepada siswa Bagaimana seandainya malam hari sendirian di rumah? Untuk membangkitkan imajinasi siswa guru bisa menunjukkan gambar rumah yang gelap. Selanjutnya guru mengajukan pertanyaan Apa kira-kira isi cerita yang akan dibacakan, apa yang kira-kira menarik dari cerita itu, bagaimana seandainya peristiwa itu terjadi pada kalian? Dan sebagainya.

2)      Membaca Nyaring: Guru membacakan cerita dengan suara nyaring secara menarik dan hidup. Pada bagian tertentu yang dianggap memiliki hubungan dengan prediksi dan tujuan pembelajaran, guru menghentikan pembacaan dan mengajukan pertanyaan kepada siswa. Apa kesimpulan yang kalian peroleh, apa yang terjadi kemudian, apa yang terjadi selanjutnya dsb. Setelah tanya jawab dianggap cukup, guru melanjutkan membacakan lagi.

3)      Refleksi dan penyampaian pendapat. Guru mengakhiri pembacaan, selanjutnya guru meminta siswa untuk mengemukakan kembali isi cerita dan guru meminta pendapat siswa tentang unsur-unsur cerita, misalnya tentang watak tokoh, tentang alur, seting dsb.

 

C. STRATEGI PENGAJARAN MEMBACA

1. Strategi Kegiatan Membaca Langsung/ KML atau DRA Direct Reading Activities)

            Penggunaan strategi KML adalah untuk mengembangkan kemampuan membaca secara komprehensif, membaca kritis, dan mengembangkan perolehan pengalaman siswa berdasarkan bentuk dan isi bacaan secara ekstensif. Adapun tahapan pengajarannya, adalah sebagai berikut.

1)      Guru mengemukakan tujuan pembelajaran, membacakan judul teks, bertanya jawab dengan siswa tentang hal-hal yang berkaitan dengan judul bacaan sebagai pembangkitan pengalaman dan pengetahuan siswa serta mengemukakan hal-hal pokok yang perlu dipahami siswa dalam membaca.

2)      Guru meminta siswa membaca dalam hati. Setelah siswa membaca guru melakukan tanya jawab tentang nisi bacaan. Pertanyaan tidak selalu harus diikat oleh pertanyaan seperti yang ada dalam buku teks. Guru bisa menambahkan pertanyaan sesuai dengan konteks kehidupan siswa maupun permasalahan lain yang aktual.

3)      Guru memberikan tugas latihan yang ditujukan untuk mengembangkan pemahaman dan keterampilan siswa sejalan dengan kegiatan membaca yang telah dilakukannya. Kegiatan itu bisa berupa menjelaskan makna kata-kata sulit dengan menggunakan kamus, membuat ikhtisar bacaan, mempelajari penggunaan struktur, ungkapan, dan peribahasa dalam bacaan.

 

2. Strategi SQ3R (Survey, Questions, Read, Recite, Review)

            Tujuan penggunaan strategi ini, untuk membentuk kebiasaan siswa berkonsentrasi dalam membaca, melatih kemampuan membaca cepat, melatih daya peramalan berkenaan dengan isi bacaan, dan mengembangkan kemampuan membaca kritis dan komprehansif. Tahapan kegiatannya, adalah

1)      Tahap Persiapan : Guru meminta siswa membaca teks secara cepat (survey). Setelah itu guru meminta siswa membuat pertanyaan tentang bacaan (questions). Pertanyaan dapat langsung memanfaatkan pertanyaan pada tahap pramembaca. Tujuan pertanyaan ini, adalah untuk membentuk konsentrasi siswa dan membangkitkan pengetahuan dan pengalaman awalnya.

2)      Proses membaca. Setelah membuat pertanyaan, siswa melakukan kegiatan membaca (read). Sambil membaca, siswa membuat jawaban pertanyaan dan catatan ringkas yang relevan (recite).

3)      Pascamembaca : Siswa melakukan review, misalnya membahas kesesuaian pertanyaan dengan isi bacaan, maupun kegiatan lanjutan lain yang secara kreatif bisa dikembangkan oleh guru.

 

3. Strategi Membaca-Tanya Jawab /MTJ atau Request (Reading-Question)

            Strategi ini ditujukan untuk mengembangkan kemampuan membaca komprehensif, memahami alasan pengambilan kesimpulan isi bacaan, dan peramalan lanjut berkenaan dengan isi bacaan. Tahapan kegiatannya, adalah

1)      Guru menjelaskan tujuan pengajaran, problem yang harus dipecahkan siswa, dan cara yang dilakukan siswa untuk memecahkan masalah

2)      Guru dan siswa melakukan pemecahan masalah, misalnya menemukan fakta, mendapat ide pokok,penggunaan ungkapan, pendapat yang tidak relevan dengan fakta, dansebagainya. Untuk memecahkan masalah tersebut, guru dan siswa melakukan kegiatan membaca paragraf pertama bacaan

3)      Setelah membaca paragraf pertama bacaan, guru meminta siswa meramalkan kemungkinan isi paragraf berikutnya. Guru dan siswa melakukan kegiatan membaca dalam hati. Paragraf yang dibaca  bisa satu paragraf atau lebih bergantung pada kemungkinan waktu yang tersedia.

4)      Tahap terakhir, adalah tanya jawab dan pembahasan jawaban pertanyaan.

 

4. Strategi Membaca dan Berpikir Secara Langsung/MBL atau DRTA (Direct Reading Thinking Activities)

            Tujuan penggunaan strategi ini, adalah untuk melatih siswa untuk berkonsentrasi dan “berpikir keras” guna memahami isi bacaan secara serius. Adapun langkah-langkah kegiatannya, adalah.

1)      Guru meminta siswa membaca judul teks bacaan. Apabila mungkin, siswa diminta memperhatikan gambar, dan subjudul secara cepat. Setelah itu guru bertanya kepada siswa sebagai pembangkit prediksi dan penciptaan konsentrasi saat membaca. Pertanyaan tersebut misalnya “Apa kira-kira isi paragraf selanjutnya? Mengapa Kalian membuat pemikiran demikian?”

2)      Guru meminta siswa untuk membaca dalam hati satu atau dua paragraf bacaan dengan berkonsentrasi untuk  menemukan kebenaran/kesalahan peramalan yang dilakukan semula.

3)      Bagian lanjut bacaan yang belum dibaca/ditanyakan ditutup dulu dengan kertas. Setelah membaca dalam hati guru mengajukan pertanyaan, “Apa kira-kira isi paragraf berikutnya?” “Mengapa Kalian memperkirakan demikian?”

4)      Langkah seperti tersebut di atas dilakukan sampai dengan bacaan itu habis/selesai dibaca. Selanjutnya dapat dilakukan menjawab pertanyaan tentang isi bacaan atau kagiatan yang lain.

 

  1. Strategi Penghubungan Pertanyaan-Jawaban /PPJ atau QAR (Questions-Answer Relationship)

Strategi ini digunakan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam memperoleh berbagai informasi dari berbagai sumber yang berkaitan dengan berbagai bidang. Pertanyaan dapat disusun oleh guru atau dapat memanfaatkan daftar pertanyaan yangn ada dalam bacaan. Adapun jawabannya dapat diperoleh siswa melalui cara berikut.

Ø  Menemukan kata atau kalimat dalam teks sebagai jawaban dari pertanyaan. Contoh “Siapa yang bertanggung jawab untuk menciptakan suasana nyaman di kelas?”

Ø  Jawaban ada dalam teks tetapi harus menghubung-hubungkan kata atau kalimat pada bagian –bagian yang berbeda. Contoh pertanyaannya “ Apa yang menyebabkan kelas kita menjadi juara Lingkungan Nyaman?”

Ø  Pemahaman isi teks merupakan bahan penemuan jawaban, tetapi pemahaman tersebut berkaitan dengan pemahaman yang tersirat.Dengan demikian untuk menjawab pertanyaan itu diperlukan adanya hubungan dialogis antara pemahaman isi teks dengan pengalaman dan pengetahuan pembaca. Contoh: “Bagaimana hubungan timbal-balik antara lingkungan alam denganlingkungan kehidupan keluarga?”.

Ø  Jawaban tidak dapat ditemukan dalam teks. Untuk menemukan jawaban pertanyaan harus menghubung –hubungkan sesuatu yang dinyatakan penulis, merefleksikan kembali berbagai pengalaman dan pengetahuan dengan memanfaatkan berbagai sumber informasi. Contoh pertanyaan “Mengapa sebagai ekosistem lingkungan menentukan kehidupan organisme manusia, binatang, dan tumbuhan?”

Berdasarkan gambaran pilihan jenis pertanyaan seperti di atas, tahap kegiatan yang dilakukan, adalah

1)      Guru mengemukakan tujuan pengajarannya, problem yang mesti dipecahkan siswa, dan cara yang perlu dilakukan siswa untuk memecahkan masalah. Masalah yang dipecahkan siswa adalah memahami dan menjawab pertanyaan dalam berbagai jenis dan tingkatannya.

2)      Siswa melakukan kegiatan membaca dalam hati. Setelah kegiatan membaca selesai, dilakukan kegiatan tanya jawab dan pembahasan.

3)      Pertanyaan yang penemuan jawabannya memerlukan berbagai sumber dan berbagai kegiatan lain, misalnya pengamatan dan wawancara diberikan dalam bentuk tugas untuk dilaporkan pada pertemuan berikutnya. Pengerjaan tugas seyogyanya dikerjakan secara kelompok.

 

  1. Strategi Pengelompokan dan Pemetaan Isi Bacaan/ PPIB atau GMA (Group Mapping Activities)

Strategi ini digunakan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam menyusun dan memahami bagan, mengelompokkan, memetakan isi bacaan, misalnya bacaan cerita dan memetakan isi bacaan secara umum.Adapun tahapan pembelajarannya, adalah.

1)      Persiapan : Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan kegiatan yang akan dilakukan oleh siswa, misalnya siswa diminta membuat diagram plot cerita.

2)      Proses Membaca : Siswa membaca dalam hati tanpa diinterupsi oleh guru dalam waktu yang ditentukan.

3)      Selanjutnya siswa diminta mengemukakan pemahaman isi bacaan, misalnya plot dalam bentuk bagan. Berdasarkan bagan yang disusun, siswa diminta mengemukakan satuan kelompok isinya secara lisan. Siswa lain diminta menanggapi.

 

D. STRATEGI PEMBELAJARAN MENULIS

 

  1. Strategi Proses Menulis Terbimbing/PMT atau GWP (Guiding Writing Process)

Strategi PMT pada intinya adalah mengjar siswa dengan kegiatan menulis dengan mencontoh model karangan yang telah dibacanya. Kegiatan yang ditempuh, adalah

1)      Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan cara melakukan kegiatan belajar yang harus ditempuh oleh siswa.

2)      Siswa membaca teks dan mempelajarinya ditinjau dari judul, hubungan ide-ide pokok, dan pola pengembangan paragrafnya. Dalam penulisan cerita  diawali dengan membaca cerita untuk memperoleh gambaran bagian-bagian cerita, isi bagan yang satu dengan yang lain.

3)      Berdasarkan pemahaman contoh model yang dibacanya, siswa melakukan kegiatan (1) pramenulis, (2) menulis draf, dan (3) melakukan perbaikan.

 

  1. Strategi Menulis Secara Langsung/ MSL atau DWA (Direct Writing  Activities)

Strategi ini dilakukan misalnya pada saat siswa menulis buku, atau menulis dalam buku harian, dan menulis karya ilmiah. Adapun langkah-langkahnya adalah.

1)      Siswa diminta menentukan topik  karangan melalui kegiatan tukar pendapat dengan teman/ kelompok diskusi. Guru membantu membangkitkan gambaran berkenaan dengan topik yang mungkin digarap.

2)      Guru membantu siswa menggambarkan kerangka karangan Misalnya melalui webbing, mendaftar ide-ide pokok dan sebagainya.

3)      Siswa memanfaatkan sumber informasi yang bisa diperoleh dan menyusun draf karya tulis.

4)      Siswa saling menukarkan dan mempelajari draf karangan dan saling memberi bahan masukan

5)      Guru mengoreksi draf karangan siswa dan mengadakan pembahasan secara singkat dengan difokuskan pada bagian-bagian yang perlu diperbaiki

6)      Siswa memperbaiki draf sesuai dengan masukan teman dan guru.

7)      Siswa menuliskan kembali dan memublikasikan melalui mading atau membacakan di depan kelas.

 

E. STRATEGI PEMBELAJARAN BERBICARA

      Kegiatan berbicara meliputi berbagai bentuk, dan setiap bentuk memiliki kekhasan. Secara umum prosedur KBM yang dirancang perlu memperhatikan langkah KBM pada tahap persiapan, pelaksanaan, dan tindak lanjut atau pasca wicara. Pada tahap persiapan, misalnya langkah kegiatan bisa berupa penyiapan naskah sambutan. Tahap pelaksanaan mengacu pada kegiatan yang dilakukan siswa ketika membacakan naskah sambutan. Sementara tindak lanjut diisi dengan kegiatan penilaian pembacaan naskah sambutan.

      Bentuk KBM lain yang juga bisa digunakan, misalnya dalam pembelajaran dialog, adalah kegiatan bermain peran. Tahapan yang dilakukan adalah tahap persiapan, pelaksanaan, dan tindak lanjut. Penentuan KBM wicara dalam berbagai kemungkinan bentuknya dapat dijabarkan berdasarkan identifikasi dari uraian yang terdapat dalam buku pelajaran.

 

CONTOH MODEL PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

Mata Pelajaran      :  Bahasa Indonesia

Kelas/Semester      :  V/I

Tema                     :  Peristiwa

Subtema                :  Bencana Alam/Gunung Meletus

Aspek                    :  Mendengarkan

 

A.    Kompetensi Dasar           : Mendengarkan Berita

B.     Indikator              :

1)      Siswa dapat menyebutkan pokok-pokok berita yang didengar

2)      Siswa dapat menyusun laporan berita yang telah didengar dalam bentuk deskripsi

C.  Materi Pembelajaran   : Berita, Pokok-pokok berita

D.  Metode Pembelajaran  : Ceramah, Diskusi, Resitasi

E.  Strategi Pembelajaran

1.  Kegiatan Awal

Guru bertanya jawab tentang hal yang berhubungan dengan peristiwa alam, misalnya” Pernahkah kamu mengalami, melihat, atau mendengar berita tentang gerhana, gempa, atau gunung meletus? Bagaimana perasanmu dengan peristiwa tersebut? Dll untuk membangkitkan pengalaman dan pengetahuan siswa tentang materi yang akan diajarkan.

2.  Kegiatan Inti

Ø  Siswa mendengarkan rekaman berita yang diputar oleh guru melalui tape recorder

Ø  Siswa mencatat pokok-pokok berita yang didengar

Ø  Secara berkelompok siswa mendiskusikan pokok-pokok berita berdasarkan pertanyaan yang telah diberikan oleh guru.

Ø  Siswa menyusun laporan berita yang didengar berdasarkan hasil diskusi tentang pokok-pokok berita dalam bentuk deskripsi.

Ø  Wakil dari masing-masing kelompok membacakan laporan hasil diskusi

Ø  Siswa kelompok lain menanggapi isi dan mengadakan koreksi dengan dipimpin oleh guru.

3.  Kegiatan Akhir

Ø  Guru memberikan umpan balik secara klasikal berupa tanggapan terhadap hasil pekerjaan siswa mengenai pokok-pokok berita dan susunan laporan siswa.

Ø  Guru memberikan tugas di rumah untuk menyimak berita kemudian menuliskan pokok-pokok berita untuk dilaporkan.

 

Sumber dan Media

  1. Sumber : Berita
  2. Media : Tape Recorder dan kaset rekaman

 

Evaluasi

Evaluasi Proses   :  Penilaian dilakukan pada kemampuan siswa dalam menemukan pokok-pokok berita dan menyusun laporan berdasarkan rambu-rambu pertanyaan.

LKS

Simaklah dengan baik berita yang diputar dari kaset, kemudian tuliskan pokok-pokok berita.  Gunakan pedoman daftar pertanyaan berikut.

 

T E K S   B E R I T A  ( KASET DIPUTAR)

NO

Pertanyaan

Jawaban

Pokok-pokok berita

1

Peristiwa apa yang terjadi?

 

 

2

Gunung apa yang meletus?

 

 

3

Di mana tempat terjadinya?

 

 

4

Kapan terjadinya?

 

 

5

Ada korbannya? Siapa dan apa?

 

 

6

Apa tindakan pemerintah?

 

 

 

 

 

Susunlah sebuah laporan berdasarkan pokok-pokok berita yang telah kamu catat.

            …………………………………………………………………………………………………………

            …………………………………………………………………………………………………………

            …………………………………………………………………………………………………………

 

CONTOH  II

Mata Pelajaran            : Bahasa Indonesia

Kelas/Semester            : IV/2

Tema                           : Lingkungan

Subtema                      : Lingkungan Sekolah

Aspek                          : Menulis

 

I.   Standar Kompetensi        : Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi secara tertulis dalam bentuk karangan puisi untuk anak.

II   Kompetensi Dasar           : Menulis puisi bebas dengan pilihan kata yang tepat

III  Indikator

  1. Menentukan topik puisi yang akan ditulis
  2. Menuliskan kesan visual tentang benda sekitar dengan menggunakan kata-kata konkret
  3. Menulis puisi dengan memanfaatkan benda-benda sekitar sebagai medianya.
  4. Menulis puisi dengan menggunakan pilihan kata yang tepat.

IV  Tujuan Pembelajaran

  1. Siswa dapat menentukan topik puisi yang akan ditulis
  2. Siswa dapat menuliskan kesan visual tentang benda-benda sekitar dengan menggunakan kata-kata konkret
  3. Siswa dapat menulis puisi dengan menggunakan pilihan kata yang tepat.

V   Materi Pembelajaran

  1. Puisi Bebas
  2. Cara menulis puisi

VI  Metode Pembelajaran

  • Pemodelan
  • Demonstrasi
  • Penugasan

VII  Langkah-langkah Pembelajaran

  1. Kegiatan Awal ( 10 ‘)

Siswa dan guru bertanya jawab tentang puisi yang pernah dipelajari sebagai apersepsi

      b.   Kegiatan Inti ( 60’ )

o   Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang puisi yang pernah dipelajari dengan puisi bebas yang akan dipelajari

o   Siswa bersama dengan guru menuliskan kesan visual tentang suatu benda dengan menggunakan kata-kata konkret

o   Siswa memperhatikan contoh dari guru penulisan puisi dengan menggunakan media benda-benda sekitar

o   Siswa diberi kesempatan untuk menanyakan hal-hal yang belum dimengerti

o   Siswa diminta mencari objek di sekitar untuk dituangkan dalam bentuk puisi sederhana

o   Secara berpasangan siswa diminta untuk sharing, saling memberikan masukan dan koreksi terhadap puisi yang ditulisnya

o   Siswa memperbaiki puisinya berdasarkan masukan temannya dan menuliskan kembali dengan tulisan yang baik dan benar

o   Secara bergilir siswa maju untuk membacakan puisi hasil tulisannya.

  1. Kegiatan Akhir (10’)

o   Siswa dan guru merangkum dan menyimpulkan materi, yaitu cara menulis puisi dengan menggunakan pilihan kata yang tepat

o   Siswa diberi tugas rumah

  1. Sumber  Belajar

o   Lingkungan benda-benda sekitar

o   KTSP 2006

o   Buku Pelajaran Bahasa Indonesia jilid IV

  1. Penilaian

Tes dan Unjuk kerja

 

SOAL

1.      Identifikasi minimal tiga objek yang menurutmu paling menarik  untuk kamu jadikan bahan menulis sebuah puisi

2.      Tentukan satu objek dari tiga objek di atas kemudian tuliskan kata-kata konkret untuk menggambarkan bentuk visualisainya

3.      Berdasarkan kalimat dan kata-kata konkret yang telah kamu tulis, susunlah sebuah puisi sederhana.

 

     PEDOMAN PENSEKORAN UNTUK  SOAL NO 2

KEGIATAN

SKOR

Siswa menuliskan 3 kalimat atau lebih

2

Siswa menuliskan 1-2 kalimat

1

Siswa tidak menuliskan apa-apa

0

 

 

PEDOMAN PENILAIAN UNTUK SOAL NO 3

NO

ASPEK

DESKRIPTOR

SKOR

1

Kesesuaian Isi

Isi puisi sesuai dengan tema yang dipilih

1-2

2

Kesesuaian Visualisasi

Visualisasi sesuai dengan bendanya

1-2

3

Pilihan  kata

Ketepatan dalam memilih  kata

1,5-3

4

Penggunaan Ejaan

Ketepatan dalam menggunakan huruf besar, tanda baca, ketepatan penulisan

1-2

5

Kejelasan dan kerapian

Tulisan rapi dan jelas

0,5-1

 
FireStats icon Powered by FireStats